Senin, 26 Juli 2010
Selasa, 12 Januari 2010
Iman Dan Kristus
KATA PENGANTAR
Terlebih dahulu kami ucapkan terima kasih kepada Tuhan YME,karena ikut campur tangannya dalam pekerjaan pembuatan makalah ini,tanpa bantuannya,kami bukanlah apa-apa.Kami bersyukur karena dapat menyelesaikan makalah kami.
Menemukan Iman kepada Tuhan Yesus Kristus
Hanya iman kepada Tuhan Yesus Kristus dan Kurban Tebusan-Nya saja yang dapat memberi kita kedamaian, pengharapan, serta pemahaman.
Hidup berlandaskan IMAN kepada TUHAN YESUS adalah Iman yang dibangun berdasarkan kebenaran firman Allah… itu sebabnya membaca Alkitab setiap hari ‘is a must’(keharusan) … supaya kita mengerti janji-janji Allah dan cara Allah bekerja serta kapan waktunya kita menikmati janji Allah tersebut. Karena saat persoalan , goncangan, masalah, penyakit datang menerpa kita tidak akan tahan bila Firman Allah tidak hidup dalam diri kita, sebab kita tidak kenal siapa Allah yang kita sembah di dalam nama Yesus. Firman itu tidak akan hidup bila kita tidak pernah membacanya. Menunggu adalah hal yang tidak menyenangkan, terlebih jika yang kita tunggu adalah seorang asing. Itulah sebabnya banyak orang Kristen hari-hari ini mengalami kemunduran secara rohani dan kecewa pada Tuhan karena mereka merasa sudah menungu janji Tuhan terlalu lama namun belum ada realisasinya, membuat mereka berpikir bahwa Tuhan pilih kasih. Mengapa ini bisa terjadi ? Karena mereka tidak mengenal Allah dengan benar. Kita dapat mengenal Allah dengan benar melalui firman Allah, baca firman setiap hari dan renungkan sehingga firman itu akan menjadi rhema dan hidup dalam diri kita , itulah yang menguatkan Iman percaya kita.Kita akan melihat cara Tuhan bekerja dengan cara yang unik. Bila kita mengenal dengan benar Allah yang kita sembah di dalam nama Tuhan Yesus adalah Allah besar, dahsyat, ajaib, perkasa, yang maha tahu dan yang merancangkan yang terbaik bagi kita ( baca Yeremia 29: 11) maka (pasti) semakin hari kita akan semakin mencintai DIA dan percaya bahwa bila DIA berjanji pasti akan digenapi tepat pada waktuNya.
Gereja Katolik diberikan kekuasaan oleh Kristus untuk mengampuni dosa
Gereja yang telah dimuliakan, yang terdiri dari orang-orang kudus, dapat membantu dengan doa-doa mereka, karena doa orang yang benar adalah besar kuasanya (Yak 5:16). Sedangkan Gereja yang sedang mengembara di dunia ini dapat membantu anggota Gereja yang masih mengembara di dunia dan anggota yang sedang dimurnikan, sehingga dapat bersatu dengan Gereja yang telah dimuliakan. Untuk tugas inilah, Kristus sendiri telah memberikan kuasa kepada Gereja.
sehingga Gereja dapat mengantar seluruh anggota Gereja pada persatuan abadi. Oleh karena itu, Gereja juga diberikan kuasa untuk mengatur seluruh kuasa yang diberikan oleh Kristus. Kekuasaan yuridiksi ini diberikan oleh Gereja untuk mengatur harta kekayaan rohani.
Kristus
Kristus berasal dari bahasa Yunani "Christos" (Χριστός) yang berarti "yang diurapi", artinya dituangi minyak di kepalanya. Pengurapan biasa dilakukan di kalangan bangsa Israel sebagai tanda bahwa orang yang diurapi itu mendapatkan jabatan atau kedudukan khusus. Misalnya, Saul dan Daud masing-masing diurapi menjadi raja Israel oleh Samuel (1 Samuel 10:1, 16:13).
Kristus adalah salah satu gelar yang diberikan kepada Yesus, karena orang Kristen perdana percaya bahwa Yesus adalah sang Juruselamat (Mesias) yang dijanjikan sejak masa Perjanjian Lama.
Menuju kedewasaan iman di dalam kristus
kita yang telah dibaptis ingin bertumbuh menjadi lebih dewasa di dalam Kristus. Allah sendiri menghendaki pertumbuhan iman ini, dan karena itu Ia mengaruniakan rahmat Sakramen Penguatan, yang dimaksudkan untuk melengkapi rahmat Pembaptisan.
Sebagaimana secara alamiah seseorang lahir, bertumbuh, oleh karena makanan jasmani, maka secara rohani, iapun dilahirkan kembali di dalam Pembaptisan; menjadi dewasa oleh Penguatan dan bertumbuh dan dikuatkan oleh Ekaristi, yang adalah makanan rohani. Oleh karena itu sakramen Pembaptisan, Penguatan dan Ekaristi menjadi Sakramen-sakramen Inisiasi Kristen yang kesatuannya harus dipertahankan.
Apa tandanya kedewasaan iman dalam Kristus?
Ada beberapa tanda kedewasaan iman dalam Kristus, yang dimungkinkan oleh karunia Roh Kudus. Pertama ialah jika kita dapat memusatkan perhatian kepada Kristus, dan bukan kepada diri sendiri. Secara praktis kita melihat contoh yang nyata pada anak-anak kecil yang sampai umur tertentu menginginkan dirinya terus menjadi pusat perhatian. Namun semakin besar, sifatnya (seharusnya) berubah, dan dapat memperhatikan orang lain. Dalam ibadah dan doa-doa kita, kita-pun dapat melihat gejala serupa. Jika kita belum dewasa dalam iman, doa-doa kita didominasi oleh doa permohonan yang berpusat pada kebutuhan kita, seperti, minta rejeki, kesehatan, dll. Namun jika kita terus bertumbuh, maka doa kita berkembang menjadi ucapan syukur dan pujian penyembahan kepada Tuhan. Kita mulai dapat mengasihi Sang Pemberi berkat dan bukannya mengasihi berkat-berkat-Nya. Bukan berarti bahwa kita tidak boleh memohon berkat pada Tuhan, tetapi seharusnya kita memusatkan perhatian kepada Tuhan terlebih dahulu, sebab yang lain akan diberikan kepada kita kemudian. Dengan ini kita memenuhi kehendak Tuhan yang berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat 6:33)
Tanda kedewasaan iman yang kedua adalah kesediaan kita untuk memberikan diri kita untuk pekerjaan-pekerjaan Allah di dunia. Dengan perkataan lain, kita mau melayani daripada dilayani. Bukankah hal ini juga sangat nyata dalam kehidupan seorang anak? Anak kecil minta dilayani, tetapi yang sudah besar dapat melayani anggota keluarga yang sedang membutuhkan bantuan. Jadi, dalam kegiatan di Gereja dan masyarakat misalnya, kita tidak menuntut orang lain untuk memperhatikan, melayani, dan menghormati kita; melainkan kita terdorong untuk membantu dan melayani orang lain. Karena itu, selayaknya kita tidak berkomentar, “Aku tidak senang ke gereja Katolik, karena di gereja aku tidak mendapat perhatian…” Walaupun tentu sebagai umat seharusnya kita saling memperhatikan satu sama lain, namun jangan sampai kita lupa bahwa tujuan utama kita beribadah di gereja adalah untuk bersyukur kepada Tuhan dan bersekutu dengan-Nya. Baru kemudian, langkah berikutnya adalah, apa yang dapat kulakukan agar dapat turut meningkatkan keakraban umat.
Melayani Tuhan juga berarti mau menjalankan tugas mewartakan Injil (lih. Mat 28:19-20). Hal ini dapat kita lakukan dengan perkataan, tetapi terlebih lagi dengan perbuatan. Sudah menjadi misi Kristus untuk menyelamatkan semua manusia, maka jika kita sungguh mengasihi Kristus kita akan turut mengambil bagian dalam misi-Nya tersebut, yang juga menjadi misi Gereja. Dengan perkataan lain, kita tidak hanya menjadi pengikut Kristus, tetapi menjadi murid Kristus.
Tanda ketiga adalah kita tidak mudah bertengkar dengan sesama, terutama dengan sesama umat. Rasul Paulus menunjukkan hal ini dengan begitu jelas dalam suratnya kepada jemaat di Filipi. Timotius diutus oleh Rasul Paulus untuk membacakan pesannya kepada jemaat di sana, yang berisi nasihat supaya bersatu dan merendahkan diri seperti Kristus (Fil 2:1-11), untuk menghindari segala bentuk perselisihan. Secara khusus ia menyebut nama dua orang wanita yang bertengkar, Euodia dan Sintikhe (Fil 4:2) dan menasihati supaya mereka berhenti berselisih dan menjadi sehati sepikir dalam Tuhan. Jika kita memiliki pengalaman berselisih dengan sesama umat di gereja, bayangkanlah jika nama kita yang disebutkan di sana!
Keempat, kita bertumbuh di dalam iman jika kita mau dengan hati lapang memikul salib yang Tuhan izinkan terjadi di dalam kehidupan kita, dengan harapan akan kebangkitan bersama Kristus. Hal ini bertentangan dengan keinginan dunia. Banyak orang cenderung menyukai ajaran teori ‘kemakmuran’ jika mengikuti Yesus, daripada harus berjuang memikul salib bersama Yesus, untuk dapat bangkit bersama Dia. Pendeknya, ingin mencapai kebangkitan tanpa salib. Namun, melalui Kitab Suci, kita dapat melihat dengan jelas, bahwa ajaran Tuhan bukanlah demikian. Yesus mengatakan, “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku” (Mat 16:24). Artinya, dengan rahmat Tuhan, kita harus berjuang untuk meninggalkan dosa dan segala keakuan kita, serta mengambil bagian dalam penderitaan Kristus untuk dapat mencapai kebahagiaan bersama-Nya (lih. Rom 6:5-11; 1 Pet 4:13). Bersama Kristus dan semua anggota Gereja-Nya, kita dipanggil untuk menjadi rekan sekerja Allah, (lih. 1 Kor 3:9) dengan mempersembahkan segala penderitaan kita untuk dipersatukan dengan kurban Kristus, agar mendatangkan keselamatan bagi orang-orang yang kita kasihi, dan untuk seluruh dunia.
Terakhir, tanda kedewasaan iman adalah jika kita mau mengikuti seluruh ajaran dan kehendak Tuhan dan tidak memilih-milih dan menyesuaikan dengan kehendak kita sendiri. Artinya, jangan sampai ajaran yang mudah kita terima, tetapi ajaran yang sukar dan membutuhkan pengorbanan, kita tolak, seperti ajaran mengampuni orang yang menyakitkan hati, mengasihi dan mendoakan orang yang membenci kita, larangan korupsi, dst. Jika kita bertindak demikian, kita belum sungguh dewasa dalam iman.
Kesimpulan
Kita patut bersyukur karena Sakramen Penguatan yang kita terima, karena dengan sakramen ini kita dikuatkan oleh Roh Kudus untuk bertumbuh dewasa di dalam iman. Pengurapan Roh Kudus ini seharusnya mengobarkan kasih kita kepada Yesus Kristus, yang menjadikan kita hidup sesuai martabat kita sebagai anak-anak Allah, berani menjadi saksi-Nya, dan mengambil peran dalam tugas-tugas perutusan Gereja. Marilah kita mohon pada Tuhan untuk menjadikan kita anggota-anggota Kristus yang hidup, yang mengandalkan Tuhan dalam pergumulan kita untuk mengalahkan keinginan berbuat dosa, untuk menerima dengan iman, salib yang Tuhan ijinkan terjadi dalam kehidupan kita, dan perjuangan untuk mencapai segala sesuatu yang sesuai dengan kehendak-Nya. Semoga doa ini selalu bergema di dalam hati kita, “Datanglah Roh Kudus, penuhilah hati umat-Mu. Nyalakanlah api cinta-Mu di dalam hati kami. Utuslah Roh-Mu, ya Tuhan, dan kami semua akan diperbaharui dan Engkau akan memperbaharui seluruh muka bumi.”
Iman Katolik dalam Agama dan Gereja Katolik
Misi dari Iman katolik sebagai media informasi lewat dunia maya, untuk pengenalan awal bagi mereka yang merasa terpanggil (bdk Yoh 15:16) untuk mengenal lebih dekat akan ajaran Yesus Kristus dalam Gereja Katolik, sebagai langkah awal mengenal kepenuhan keselamatan yang hanya terdapat dalam Gereja Katolik, serta sebagai sarana berkatekese bagi para awam dalam mewujudkan komunitas umat basis secara konkret dalam masyarakat. .
Serba serbi Iman Katolik
Harapan“, dalam kenyataannya, adalah sebuah kata kunci untuk memahami iman Biblis - begitu dekatnya sehingga dalam beberapa ayat kata “iman” dan “harapan” tampaknya tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu, Surat kepada Umat Ibrani mengaitkan “kepenuhan iman” (10:22) dengan “pengakuan akan harapan kita tanpa keragu-raguan” (10:23). Senada dengan itu, ketika Surat Pertama Petrus mendorong orang Kristen untuk selalu siap sedia memberi pertanggungjawaban mengenai logos - arti dan alasannya - dari harapan (bdk. 3:15), “harapan” sama dengan “iman“.
Bukan ilmu pengetahuan yang menebus manusia: manusia ditebus oleh cintakasih. Hal ini berlaku bahkan untuk zaman ini. Ketika seseorang memperoleh pengalaman akan cintakasih yang besar dalam hidupnya, inilah suatu masa “penebusan” yang memberi suatu arti baru bagi hidupnya.
Mari kita ulang sekali lagi: kita memerlukan harapan-harapan yang kecil dan yang lebih besar untuk memampukan kita maju hari demi hari. Namun, harapan-harapan ini tidaklah cukup tanpa harapan yang agung, yang mesti melampaui segala sesuatu yang lain. Harapan agung ini tidak bisa lain ialah Tuhan, yang meliputi segenap realitas dan yang dapat memenuhi apa yang tidak bisa kita peroleh dari diri kita sendiri.
IMAN DAN PERCAYA
Kata "iman" dan kata kerjanya "percaya" sering muncul dalam Al¬kitab, dan memang merupakan istilah penting yang meng¬gam¬bar¬kan hubungan antara umat atau seseorang dengan Allah. Di bawah ini akan ditin¬jau secara singkat makna istilah itu dalam Alkitab, khususnya dalam Perjanjian Baru. Kata "iman" yang dipakai dalam Perjanjian Baru me¬ru¬pakan terjemahan dari kata Yunani πίστις (pistis), sedangkan kata kerja¬nya "percaya" adalah terjemahan dari kata πιστεύω (pisteuoo). Kata-kata ini sudah dipakai dalam Septuaginta, Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama) dalam bahasa Yunani, sebagai terjemahan kata Ibrani ¤m' (aman), yang berarti keadaan yang benar dan dapat dipercayai/diandalkan. Kata ini dan kata-kata sekelompoknya dalam Alkitab Ibrani sering digunakan untuk me¬nyatakan rasa percaya kepada Allah dan percaya kepada firman-Nya. Per¬caya kepada Allah mencakup arti percaya bahwa Ia benar dan dapat diandalkan, mempercayakan diri kepada-Nya, dan taat serta setia kepa¬da-Nya. Percaya pada firman-Nya berarti percaya dan menerima apa yang sudah difirmankan-Nya itu.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa istilah iman dan percaya dalam Alkitab sering mengandung komponen-komponen makna sebagai berikut:
1. percaya dan menerima bahwa sesuatu itu benar,
2. mengandalkan/mempercayakan diri
3. setia, dan
4. taat.
Kata Yunani pistis sering mempunyai komponen-komponen makna seperti tersebut di atas, baik dalam Septuaginta maupun dalam Perjanjian Baru. Dalam konteks tertentu hanya satu atau dua komponen makna yang difokuskan, dan komponen lainnya tidak ditekankan, atau malahan tidak berlaku.
Dalam Perjanjian Baru, "iman" terutama ditujukan kepada Yesus, yaitu percaya kepada-Nya dan perkataan-Nya, bahwa Dia adalah Tuhan dan Juruselamat, dan mempercayakan diri kepada-Nya, serta juga percaya dan menerima kebenaran Injil. Berikut ini kita akan memeriksa arti pistis dan pisteuoo dalam terjemahan Perjanjian Baru bahasa Indonesia versi Terjemahan Baru (TB):
Matius 9:22 "Imanmu telah menyelamatkan engkau!"
I man di sini berarti percaya kepada perkataan Yesus dan mem-percayakan diri kepada-Nya. Bandingkan terjemahan dalam Alki¬tab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS): "Karena engkau percaya kepada-Ku, engkau sembuh!"
Markus 1:15 "Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!"
Kata percaya di sini menekankan komponen makna pertama, yak¬ni bahwa Injil itu benar dan dapat dipercaya, sehingga dapat juga diterjemahkan, "Percayalah dan terimalah Injil!"
Galatia 2:16 “Kami pun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan karena iman dalam Kristus.”
Dalam ayat ini "percaya" dan "iman", kedua-duanya memiliki se¬lu¬ruh komponen maknanya. "Iman dalam Kristus" berarti percaya bahwa Injil tentang Yesus itu benar, dan mempercayakan diri kepada Yesus dengan komitmen akan setia dan taat kepada-Nya.
Roma 10:9 “Sebab jika engkau mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dengan hatimu bahwa Allah telah membangkitkan Dia…”
"Percaya" di sini adalah percaya akan berita tentang kebangkitan-Nya, dan menerimanya dengan segala konsekuensinya. Kata paralel "meng¬aku menunjukkan bahwa percaya itu bermuara dalam per¬bu¬atan pengakuan. Ungkapan "percaya dalam hati" menandakan bah¬wa percaya itu harus kuat dan teguh.
Yohanes 2:24 “Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka.”
TB menekankan komponen makna yang kedua dalam konteks ini, yakni komponen "mempercayakan diri." Begitu juga BIS menerje¬mah¬kannya: "Tetapi Yesus sendiri tidak percaya mereka."
Selain arti yang pokok seperti diuraikan dengan beberapa contoh di atas, "iman" dalam PB menurut konteksnya kadang-kadang mempu¬nyai arti yang berbeda, yaitu:
1. kemampuan atau sifat baik orang Kristen, atau
2. agama Kristen, atau juga
3. ajaran atau doktrin Kristen
Kristus Penyempurna Iman
Mat 4:18-22,Ibr 12:1-2
Injil Markus mencatat pengajaran Tuhan Yesus tentang ukuran yang akan diukurkan dan ada sesuatu yang ditambahkan lagi padanya. Apakah maksud dari perkataan Kristus? Untuk memahami perkataan Kristus tersebut maka kita harus memperhatikan konteks Injil Markus mulai dari pasalnya yang ke 4 hingga pasalnya yang ke 5 ayat 43 karena bagian ini merupakan satu kesatuan yang utuh. Perumpamaan penabur menjadi titik tolak kenapa Tuhan Yesus berbicara tentang ukuran yang diukurkan dan kemudian akan ditambahkan, yang mempunyai akan ditambahkan dan yang tidak mempunyai apa pun juga yang ada padanya akan diambil.
Iman di dalam Kristus
Telah belajar mengenai iman berasal dari Allah Bapa. Kini kita melihat aspek kedua, yaitu iman berasal dari Yesus Kristus. Yesus Kristus yang menciptakan iman dan Yesus Kristus yang menyempurnakan iman di dalam sepanjang hidup kita mengikuti Dia. Di dalam Ibrani 12:1-2 dituliskan bagaimana kita memandang kepada Yesus sebagai sumber iman, Yesus yang mengadakan dan menggenapkan iman, dan Dia kemudian menjadi teladan bagi kita. Dia sendiri mengabaikan penghinaan, tekun memikul salib, dan akhirnya menggantinya dengan sukacita yang disediakan bagi Dia, serta sekarang duduk di sebelah kanan Allah. Saya ingin memberikan dua butir berkenaan dengan tema ini.
1. Memandang pada Yesus
Memandang Tuhan Yesus karena Dia adalah yang mengadakan dan yang menggenapkan iman. Di dalam terjemahan lain dituliskan: “He starts, He creates faith and He accomplishes and He guides us until the end.” Dia yang menciptakan iman, dan Dia yang memimpin kita serta menggenapi iman itu dalam diri kita. Ia yang memulai dan Ia juga yang mengakhiri. Dia yang mengadakan dan menyempurnakan, Dia yang menciptakan dan yang menggenapi. Iman berasal dari mana? Ayat yang kita baca menyatakan bahwa iman berasal dari Kristus. Ada orang belum percaya yang diberitahu bahwa jika ia percaya akan sembuh, maka ia pasti sembuh. Lalu ia mengatakan, “Ya, saya percaya.” Ia berharap segera sembuh. Percaya ini berasal dari mana? Kalau percaya ini sekedar dari dirinya sendiri, dan ia sendiri yang mau percaya, maka itu pasti bukan iman Kristen. Iman yang pertama-tama harus berasal dari Bapa, dan kemudian kita melihat bahwa iman itu harus dimulai dan diakhiri di dalam Kristus. Yang mengadakan iman dan yang menyempurnakan iman adalah Kristus sendiri.
2. Yang menyempurnakan iman
Kristus bukan hanya memulai iman, tetapi Ia juga yang menggenapkan dan menyempurnakan iman. Bukan hanya memandang kepada Kristus sebagai sumber dan awal iman, tetapi juga di dalam Dia kita mengakhiri dan menggenapkan iman kita. Maka tidaklah salah jika para murid Kristus meminta kepada Kristus untuk menambahkan iman kepada mereka, karena mereka kurang iman. Iman bukan disempurnakan oleh diri kita sendiri, apalagi melalui semua yang kita kerjakan menjadi jasa iman. Memohon kepada Kristus untuk ditambahkan iman, atau sesuai dengan tema kita, yaitu agar iman kita boleh disempurnakan, adalah doa yang benar. Tidak ada seorang pun yang sempurna imannya. Di dalam hidup, terkadang saya merasa begitu sulit bekerja dengan orang yang tidak beriman. Semua terlihat begitu negatif, semua menjadi tidak mungkin, semua sulit dikerjakan, semua seolah-olah sia-sia. Saya telah menjadi yatim sejak usia tiga tahun dan hingga saat ini saya sangat jarang mengatakan sesuatu itu sulit, sesuatu tidak bisa dikerjakan, atau tidak mungkin. Saya selalu mencoba belajar bersandar pada Tuhan dan mohon Tuhan memberikan kekuatan dan pencerahan untuk menolong saya melakukan itu. Bukan berarti saya mengabaikan kesulitan yang ada. Saya sangat menyadari banyak hal sangat sulit. Namun, kita harus belajar bisa mengalahkan kesulitan dengan kekuatan yang Tuhan berikan kepada kita. Ini yang disebut iman. Jika kita adalah orang Kristen, maka kita harus belajar beriman dengan benar. Sayang kalau kita mengaku sebagai orang Kristen tetapi setiap hari hidupnya tidak beriman, lalu menertawakan orang yang beriman.
Iman bukan nekat, tetapi iman juga bukan pengecut. Di dalam banyaknya kesulitan kita bisa belajar menerobos keluar. Menyelesaikan dan melewati setiap kesulitan, betapapun besarnya, adalah iman. Kita sering kali menyanyikan bahwa iman memberikan kemenangan, tetapi kehidupan kita sendiri penuh dengan kekalahan. Benarkah kita percaya pada Kristus? Benarkah iman kita di dalam Kristus adalah iman yang menyempurnakan? Iman yang memberikan kemenangan? Jika kita percaya bahwa iman kita memberikan kemenangan, kita bisa menerobos kesulitan-kesulitan yang kita hadapi. Itu berarti kita percaya kepada Allah yang betul-betul memberikan kekuatan kepada kita.
Kristus penyempurna iman
Injil Markus mencatat pengajaran Tuhan Yesus tentang ukuran yang akan diukurkan dan ada sesuatu yang ditambahkan lagi padanya. Apakah maksud dari perkataan Kristus? Untuk memahami perkataan Kristus tersebut maka kita harus memperhatikan konteks Injil Markus mulai dari pasalnya yang ke 4 hingga pasalnya yang ke 5 ayat 43 karena bagian ini merupakan satu kesatuan yang utuh. Perumpamaan penabur menjadi titik tolak kenapa Tuhan Yesus berbicara tentang ukuran yang diukurkan dan kemudian akan ditambahkan, yang mempunyai akan ditambahkan dan yang tidak mempunyai apa pun juga yang ada padanya akan diambil. Pada saat Tuhan Yesus sendirian, barulah para murid menanyakan tentang apa arti dari perumpamaan penabur tersebut dan jawab-Nya: “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun (Mrk. 4:11-12).
Dari jawaban tersebut sebenarnya Tuhan Yesus hendak berbicara tentang kehadiran Kerajaan Allah di tengah dunia dan hanya kepada orang-orang pilihan-Nya sajalah rahasia tentang Kerajaan Allah ini diberikan dan dapat dimengerti namun pada suatu waktu kelak semua rahasia akan disingkapkan. Perumpamaan penabur merupakan langkah awal Kristus mengubah metode pengajaran-Nya, Tuhan Yesus mulai membuat sebuah pemisahan dalam pengajaran-Nya tentang siapa saja yang berhak/tidak berhak untuk mengerti tentang hal Kerajaan Surga. Dalam tulisannya, Markus menekankan: pertama, seorang Kristus yang tunduk pada Firman, kedua, Kristus merupakan penggenapan dari Kerajaan Allah, Kristus merupakan puncak dari pernyataan Kuasa Allah. Itulah sebabnya dalam injil Markus kita akan menjumpai konfrontasi antara Kristus dengan kuasa kegelapan dan kuasa Allah mendominasi segala kuasa yang ada di dunia, seperti kuasa kematian, kuasa sakit penyakit, kuasa kegelapan, dan lain sebagainya.
Kerajaan Allah seumpama benih yang tumbuh dimana tidak ada satu orang pun yang tahu kapan benih itu mengeluarkan tunas dan bertumbuh (Mrk. 4:26-28). Benih yang kecil itu semakin lama semakin bertumbuh dan menjadi besar sehingga burung-burung dapat bersarang dalam naungannya. Namun banyak orang tidak menyadari bahwa kuasa Allah yang sedang bekerja karena itu Yesus memberitakan hal ini secara eksklusif hanya kepada para murid-Nya dalam bentuk perumpamaan dan hanya kepada mereka saja, Yesus mengungkapkan arti perumpamaan tersebut. Markus hendak mengungkapkan realita Kerajaan Allah lewat sosok Tuhan Yesus. Ketika Ia berinteraksi dengan banyak orang maka mau tidak mau orang dituntut untuk berpikir dua kali tentang kuasa Allah melalui diri Yesus. Itulah sebabnya, Markus merasa perlu untuk memperjelas tentang arti perumpamaan tersebut dengan menambahkan empat peristiwa lain dimana dalam setiap peristiwa yang terjadi berbicara tentang kuasa Allah dan hal ini dinyatakan dalam diri Yesus dan bagaimana kaitannya dengan orang-orang seperti yang diungkapkan dalam perumpamaan penabur.
1. Yesus meredakan angin ribut.
Melalui peristiwa ini Markus hendak menjelaskan akan arti dari benih yang jatuh di tanah yang jatuh di pinggir jalan. Pada hari itu, yaitu setelah Yesus mengajarkan tentang perumpamaan maka bertolaklah Ia bersama para murid dalam sebuah perahu menuju ke seberang. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu. Seharusnya angin dan badai bukan menjadi hal yang baru bagi para murid Yesus yang sebagian besar adalah seorang nelayan. Namun kalau mereka menjadi takut ketika badai dan ombak menerjang maka dapatlah dipastikan peristiwa ini baru pertama kali mereka alami. Para murid tahu bahwa Yesus dapat melakukan sesuatu yang dapat menyelamatkan mereka maka tidaklah heran kalau mereka menuntut supaya Yesus melakukan sesuatu. Mereka membangunkan Yesus dan berkata, “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?“ Ini adalah ukuran yang para murid pakai untuk melihat Yesus Kristus. Lalu, Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!“ Yesus hanya memerintahkan satu kali saja dan perintah ini adalah perintah yang sempurna. Angin itu reda dan danau menjadi teduh namun reaksi yang ditunjukan murid di luar dugaan, mereka menjadi takut. Lalu kata Yesus, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?“ Ini adalah ukuran baru yang ditambahkan Yesus kepada para murid. Perkataan Yesus yang tajam ini menohok langsung dalam hati para murid; Tuhan Yesus membongkar pikiran para murid yang selama ini melihat diri Yesus yang terbatas, Yesus yang tidak peduli akan keselamatan diri mereka. Ketakutan menyebabkan mereka tidak lagi mempercayai Kristus, ketidakpercayaan membangkitkan rasa ketakutan. Respon lain ditunjukkan oleh para murid, yaitu “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?“ Yang menjadi pertanyaan adalah apakah para murid tidak tahu sebelumnya siapa Yesus? Bukankah Yesus telah melakukan banyak mujizat dan hal ini telah dilihat dan dialami sendiri oleh para murid? Maka tidaklah heran kalau Markus memakai kisah ini untuk menggambarkan peristiwa ini sebagai benih yang jatuh di pinggir jalan lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Kristus tetap membuka suatu pintu yang baru bagi mereka, sesuatu yang baru ditambahkan kepadamu. Kristus membuka batasan yang ada dalam diri mereka sehingga mereka dapat melihat Yesus sebagai pernyataan kuasa Allah.
2. Yesus mengusir roh jahat dari orang Gerasa.
Peristiwa ini terjadi ketika Tuhan Yesus sudah sampai di seberang. Markus hendak menjelaskan tentang model tanah yang kedua, yaitu tanah yang berbatu-batu. Yesus khusus mencari satu orang di Gerasa dan orang tersebut dirasuk oleh Legion. Menurut ukuran pasukan Romawi, satu legion berjumlah 6000 orang. Yesus mengusir setan yang merasuk dirinya dan Yesus mengabulkan permintaan setan tersebut untuk memindahkannya pada kawanan babi yang ada di situ. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya. Reaksi yang ditunjukkan oleh penduduk setempat sungguh di luar dugaan, mereka menjadi takut (Mrk. 5:15). Lalu mereka mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka. Pernyataan kuasa Allah atas kuasa kegelapan merupakan perbuatan yang ajaib namun orang justru tidak senang dengan perbuatan Yesus karena kehadiran Kristus dianggap sebagai ancaman dan mereka merasa dirugikan. Orang tidak suka ketika melihat realita Kerajaan Allah karena ada tuntutan-tuntutan yang Kristus sampaikan dan hal itu harus ditaati. Mereka kemudian bersepakat mengusir Yesus. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya (Mrk. 4:25).
Sangatlah disayangkan, kalau sebagian besar orang-orang Gerasa, kecuali satu orang yang disembuhkan tersebut, tidak bisa melihat Kerajaan Allah dan keajaiban perbuatan Allah yang besar. Banyak orang tidak percaya bahwa Yesus adalah Allah karena pikiran mereka telah dibutakan, orang mengenal Yesus hanya sebatas Ia sebagai seorang anak tukang kayu (Mrk. 6:3). Oleh karena itu, Yesus tidak membuat mujizat di kota asalnya. Yesus tidak merasa dirugikan dengan penolakan dirinya. Mereka tidak menyadari kalau justru merekalah yang dirugikan karena menolak Kristus. Yesus tidak memperkenankan orang yang tadinya kerasukan setan itu ketika ia meminta untuk mengikut Dia sebaliknya Yesus mengutusnya untuk memberitakan segala sesuatu yang diperbuat Yesus kepada penduduk sekitar. Dengan kata lain, Yesus sepertinya ingin memberitahukan kebodohan yang sudah mereka lakukan karena menolak Kerajaan Allah dan menganggapnya sebagi ancaman. Berbeda dengan orang yang disembuhkan, ia mengalami pernyataan Kerajaan Allah dalam diri Kristus, ia dapat melihat bahwa kuasa Allah lebih besar dari kuasa kegelapan. Orang-orang di Gerasa seperti benih yang jatuh di tanah yang berbatu, ia tumbuh lalu mati karena akarnya tidak kuat.
3. Yesus membangkitkan anak Yairus.
Yairus adalah pengurus rumah ibadat. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki Yesus dan memohon supaya anak perempuannya yang sedang sakit dan hampir mati itu diselamatkan. Ini adalah ukuran yang dimiliki oleh Yairus untuk mengerti siapakah Yesus. Yairus pasti sudah mencoba segala daya dan upaya untuk menyembuhkan anak perempuannya namun semua itu tidak berhasil. Dalam keadaan yang putus asa, Yairus tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan sampai kemudian ia teringat dan mendengar tentang berbagai mujizat yang Yesus lakukan. Yairus perlu Yesus untuk memenuhi kebutuhannya, yaitu untuk menyembuhkan anak perempuannya yang sakit. Markus menggambarkan peristiwa Yairus ini seperti benih yang tumbuh di tanah bersemak, kekuatiran dunia menghimpitnya sedemikian rupa sehingga benih itu menjadi mati. Di tengah kegalauan hati Yairus, tanpa disangka muncul seorang perempuan yang sakit pendarahan dan hal ini semakin menambah kekuatiran hati Yairus karena dengan demikian perjalanan Yesus ke rumahnya menjadi terhambat. Apa yang menjadi kekuatiran Yairus, kini menjadi kenyataan. Salah seorang keluarganya datang dan mengabari bahwa anaknya sudah mati. Namun Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan Ia berkata kepada Yairus, “Jangan takut, percaya saja!“
Ucapan ini adalah ucapan yang sama yang diucapkan Yesus pada para murid ketika badai dan angin datang menerpa tetapi bedanya pada para murid, Yesus mengucapkannya dalam bentuk pertanyaan, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?“ Ukuran yang Yairus pakai pada Yesus adalah Yesus sanggup menyembuhkan orang sakit tetapi bagaimana dengan membangkitkan orang mati? Logika Yairus seakan berhenti karena ia tidak pernah tahu bahwa Yesus sanggup melakukan segala sesuatu lebih dari yang manusia pikirkan. Anugerah Tuhan turun atas keluarga Yairus, dengan mata kepala sendiri mereka menyaksikan bagaimana Kristus membuat mujizat dengan membangkitkan anaknya yang sudah mati. Tuhan menambahkan pengertian yang baru lagi tentang siapakah Kristus dengan membukakan pikiran kepada Yairus, yaitu Yesus adalah pernyataan Kerajaan Allah dan kuasa Allah lebih besar dari kuasa kematian.
4. Yesus menyembuhkan seorang perempuan yang sakit pendarahan.
Melalui peristiwa ini, Markus hendak menjelaskan tentang tanah yang subur. Menurut tradisi Yahudi pada jaman itu, jika salah seorang dari keluarga mereka ada yang sakit pendarahan maka ia harus dikucilkan dari keluarga begitu pula dalam kehidupan beragama. Alkitab mencatat, demi untuk memperoleh kesembuhan, ia telah menghabiskan semua hartanya; ia telah berulangkali mengobati penyakitnya namun sakitnya tak juga kunjung sembuh malah keadaannya makin memburuk. Perempuan ini mendengar segala sesuatu tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu, ia memberanikan diri untuk mendekati Yesus dan menjamah jubah-Nya. Pada jaman itu merupakan hal yang terlarang bagi seorang perempuan untuk mendekati seorang tokoh agama. Namun dengan segala daya dan upaya perempuan ini mencoba mendekati Yesus, ia tahu dan ia telah siap dengan segala resikonya kalau kedapatan dirinya seorang perempuan.
Ukuran yang ia punya adalah asal kujamah saja jubah-Nya maka aku akan sembuh dan saat itu juga mujizat terjadi. Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling dan bertanya: “Siapa yang menjamah jubah-Ku?“ maka dengan takut dan gemetar, tersungkurlah ia di depan Yesus dan memberitahukan segala sesuatunya pada Yesus. Yesus menambahkan sesuatu yang baru padanya, jawaban Yesus sungguh di luar dugaan: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!“ Iman perempuan ini timbul karena ia pernah mendengar segala sesuatu tentang Yesus dan asal kujamah jubah-Nya, aku akan sembuh. Kristus menghargai iman perempuan ini. Benih itu jatuh di tanah yang baik sehingga ia bertumbuh.
Semua peristiwa ini berada dalam konteks, orang-orang yang diberikan kemampuan untuk melihat rahasia Kerajaan Allah. Hanya kepada mereka yang telah dipilih-Nya, Kristus menyempurnakan iman. Kristus adalah pemimpin iman yang membawa iman pada kesempurnaan. Semua peristiwa yang terjadi dalam diri empat orang ini adalah atas seijin Kristus demi untuk kebaikan kita, yaitu menumbuhkan iman dan menuju pada kesempurnaan. Pengetahuan kita tentang Kristus tidaklah cukup bagi kita mengenal siapakah Yesus. Kita harus mengalami perjalanan iman bersama Kristus barulah kita akan merasakan keindahan berjalan dalam iman bersama Kristus. Kita akan dapat merasakan kebesaran Kristus, mujizat-Nya yang ajaib, penyertaan-Nya sehingga tiap-tiap hari Ia tambahkan hal yang baru lagi dengan demikian iman kita semakin bertumbuh dan berbuah layaknya sebuah benih yang jatuh di tanah yang subur.
Iman dalam Yesus Kristus
Christ Menyembuhkan Buta, oleh Carl Heinrich Bloch (1834-1890; minyak pada pelat tembaga, 20 "x 30"). Yesus menyembuhkan orang buta sejak lahir (Yohanes 9). Kesembuhan dan mujizat lain adalah salah satu manifestasi dari iman dalam Tuhan Yesus Kristus.Kesopanan yang Frederiksborg Museum, Hillerod, denmark.
oleh Douglas E. Brinley oleh Douglas E. Brinley
Iman dalam Yesus Kristus adalah prinsip pertama dari Injil Yesus Kristus (A dari F 4). Orang yang memiliki iman ini percaya dirinya sebagai Anak Allah yang hidup, percaya kepada kebaikan-Nya dan kekuasaan, bertobat dari dosa-dosanya, dan mengikuti petunjuknya. Iman dalam Tuhan Yesus Kristus sebagai individu terbangun mendengar Injil (Rm. 10: 17). Dengan iman mereka memasuki pintu gerbang pertobatan dan pembaptisan, dan menerima karunia Roh Kudus, yang mengarah kepada cara hidup yang ditahbiskan oleh Kristus (2 Nefi. 31:9, 17-18). Mereka yang menanggapi adalah "hidup dalam Kristus karena [mereka] iman" (2 Nefi. 25:25). Karena jalan Allah adalah satu-satunya cara yang mengarah pada keselamatan, "tidaklah mungkin untuk menyenangkan hatinya" tanpa iman (Ibrani 11:6). Iman harus mendahului mukjizat, tanda-tanda, karunia Roh, dan kebenaran, karena "jika tidak ada iman ... Allah tidak dapat berbuat keajaiban" (Eter 12:12).
The Book of Mormon prophet Moroni summarized these points: The Book of Mormon nabi Moroni diringkas poin ini:
Tuhan Allah prepareth cara bahwa sisa-sisa manusia dapat memiliki iman di dalam Kristus, bahwa Roh Kudus mungkin tempat di hati mereka, sesuai dengan kekuasaan itu, dan setelah ini bringeth cara untuk lulus Bapa, perjanjian-perjanjian yang telah dibuat kepada anak-anak manusia. Dan Kristus telah berkata: Jika kamu akan memiliki iman di dalam Aku kamu akan memiliki kekuasaan untuk melakukan apa pun adalah bijaksana dalam diriku.Dan dia telah berkata: Bertobatlah semua kamu ujung bumi, dan datang kepada-Ku, dan dibaptis dalam nama-Ku, dan memiliki iman di dalam Aku, supaya kamu dapat diselamatkan [Moro. 7:32-34]. 7:32-34].
Meskipun dalam pidato umum orang berbicara tentang memiliki iman pada orang, prinsip, atau hal-hal, iman dalam arti kekal adalah iman di dalam, dan hanya di dalam, Yesus Kristus.Tidak cukup untuk memiliki iman hanya apa-apa; itu harus difokuskan pada "satu-satunya Allah yang benar, dan Yesus Kristus" yang dia telah mengutus (Yohanes 17:3).Memiliki iman berarti memiliki keyakinan penuh dalam Yesus Kristus saja untuk menyelamatkan manusia dari dosa dan kepastian kematian.Dengan rahmat-Nya "kamu diselamatkan oleh iman" (Ef. 2:8). Jika "Kristus tidak dibangkitkan," maka "imanmu juga sia-sia" dan "kamu masih hidup dalam dosamu" (1 Kor. 15:14, 17).Untuk kepercayaan pada kekuasaan dunia ini adalah untuk "kepercayaan pada lengan daging" dan, sebagai akibatnya, menolak Kristus dan Injil-Nya (2 Nefi. 4:34).
Paulus menjelaskan, "Sekarang iman adalah zat [atau jaminan] dari hal-hal yang kita harapkan dan bukti [demonstrasi atau bukti] dari hal-hal yang tidak kita lihat" (Ibrani 11:1). Kebenaran yang tak terlihat dari Injil yang dinyatakan oleh Roh Kudus dan dilihat dalam kehidupan orang-orang yang hidup oleh iman, mengikuti arah harian Roh itu. Meskipun sebagian besar manusia belum melihat realitas spiritual di luar dunia fisik ini, mereka dapat menerima bangunan tersebut dalam iman, berdasarkan kesaksian spiritual pribadi (es) dan catatan alkitabiah bekas dan hari kedua saksi yang khusus Allah telah memanggil dan yang mengalami realitas ini secara langsung.
Iman yang benar adalah kepercayaan ditambah tindakan. Iman berarti tidak hanya persetujuan mental atau kognisi keyakinan tetapi juga pelaksanaannya. Beliefs in things both spiritual and secular impel people to act. Kepercayaan pada hal-hal baik spiritual dan sekuler mendorong orang untuk bertindak. Kegagalan untuk bertindak pada ajaran-ajaran dan perintah-perintah Kristus mengimplikasikan ketiadaan iman dalam dirinya. Iman dalam Yesus Kristus mendorong orang untuk bertindak atas nama Kristus, untuk mengikuti contoh, untuk melakukan karya-karyanya. Yesus berkata, "Bukan setiap orang yang berseru kepadaku: Tuhan, Tuhan, akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga" (Matius 7:21; cetak miring ditambahkan.James lebih menekankan bahwa "iman, jika Allah tidak bekerja, sudah mati, hidup sendirian. Ya, seorang pria mungkin berkata, Engkau iman, dan aku telah bekerja: menaruhkan aku Mu iman tanpa segala pekerjaanmu, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku oleh saya bekerja "(Yakobus 2:17-18; lihat juga Grace).
Kebenaran mengarah pada iman yang lebih besar, sementara dosa dan kejahatan mengurangi iman. "Orang benar [pria] akan hidup oleh iman" (Habakuk 2:4). Melanggar perintah-perintah Allah membawa kehilangan Roh Tuhan dan kehilangan iman, karena iman dalam Yesus Kristus tidak kompatibel dengan ketidaktaatan. Kitab Mormon nabi Alma dicirikan firman Kristus sebagai benih yang diuji ketika orang-orang menanamnya dalam hati mereka dan memberi makan itu.Jika mereka ingin melihat benih tumbuh, mereka harus memberikan ruang dan memelihara dengan iman mereka. Namun, jika mereka mengabaikan benih, itu akan lenyap.Tapi kalau mereka akan "memberi makan kata ... oleh [mereka] iman dengan penuh ketekunan," ia akan tumbuh menjadi pohon kehidupan, dan mereka akan rasa buah, yang adalah kehidupan kekal (Alma 32:26-43).
Iman dapat dipelihara dan diperbaharui melalui pembelajaran tulisan suci, doa, dan bekerja sesuai dengan perintah-perintah Injil. Karena orang-orang yang bertindak berdasarkan iman, bertobat, dan dibaptis menerima pengampunan dosa, mereka memiliki alasan untuk harapan untuk kehidupan kekal (Moro. 7:41.Dengan harapan, iman mereka di dalam Yesus Kristus lebih lanjut mengilhami individu-individu untuk melayani satu sama lain dalam amal, bahkan ketika Kristus akan dilakukan (Moro. 7:44), karena "akhir perintah adalah amal dari iman ... unfeigned" ( 1 Tim. 1:5). "Charity adalah murni kasih Kristus, dan itu bertahan selama-lamanya" (Moro. 7:47). Dengan demikian, iman, atau "ketabahan dalam Kristus," memungkinkan orang untuk bertahan sampai akhir, terus dalam iman dan kasih (2 Nefi. 31:20; 1 Timotius. 2:15; A & P 20:29. Iman yang benar adalah bertahan dan mengarah pada suatu jaminan bahwa usaha seseorang tidak pergi tanpa diketahui dan bahwa Allah senang dengan salah satu sikap dan usaha untuk menerapkan prinsip-prinsip Injil Yesus Kristus dalam kehidupan pribadi seseorang.
Sementara Alma menjelaskan bagaimana iman mengarah kepada pengetahuan, komentar LDS modern juga menunjukkan bagaimana beberapa jenis pengetahuan menguatkan iman (MD, hal. 261-67). Pengetahuan bahwa Allah ada, pemahaman yang benar dari karakternya, dan kepastian bahwa ia menyetujui perilaku seseorang dapat membantu seseorang iman "menjadi sempurna dan berbuah, berlimpah dalam kebenaran" ( "Lectures on Faith," hlm. 65-66; lihat Lectures on Faith).
Para pemulihan Injil di zaman modern ini diprakarsai oleh suatu tindakan iman oleh Joseph Smith muda. Membaca Alkitab, ia terpukau oleh dorongan dari James untuk semua yang kurang hikmat bahwa mereka harus "bertanya dalam iman, tidak bimbang" (Yakobus 1:6).Penglihatan yang datang kepada Joseph Smith untuk menjawab doa-doanya (lihat Visi Joseph Smith) adalah bukti bahwa doa adalah "jawab menurut [kita] iman" (Mosia 27:14) Meskipun Tuhan berkenan untuk memberkati anak-anaknya, dia "pertama, [mencoba] iman mereka, ... maka akan hal-hal yang lebih besar akan dinyatakan" (3 Nefi. 26:9). Tetapi akan ada "tidak ada saksi sampai setelah sidang imanmu" (Eter 12:6), dan "tanpa iman Anda bisa berbuat apa-apa" (A & P 8:10)."Tanda-tanda datang oleh iman, bukan oleh kehendak manusia" (A & P 63:10). Karena iman melibatkan bimbingan Roh Kudus untuk individu, hal itu membawa mereka dengan tangan tak terlihat untuk "kesatuan dari iman" (Ef. 4:13). Demikian pula, iman telah digambarkan sebagai bagian dari salah satu baju besi, melayani sebagai "dada iman dan kasih" (1 Tesalonika. 5:8) dalam melindungi umat dari yang jahat.
Terlebih dahulu kami ucapkan terima kasih kepada Tuhan YME,karena ikut campur tangannya dalam pekerjaan pembuatan makalah ini,tanpa bantuannya,kami bukanlah apa-apa.Kami bersyukur karena dapat menyelesaikan makalah kami.
Menemukan Iman kepada Tuhan Yesus Kristus
Hanya iman kepada Tuhan Yesus Kristus dan Kurban Tebusan-Nya saja yang dapat memberi kita kedamaian, pengharapan, serta pemahaman.
Hidup berlandaskan IMAN kepada TUHAN YESUS adalah Iman yang dibangun berdasarkan kebenaran firman Allah… itu sebabnya membaca Alkitab setiap hari ‘is a must’(keharusan) … supaya kita mengerti janji-janji Allah dan cara Allah bekerja serta kapan waktunya kita menikmati janji Allah tersebut. Karena saat persoalan , goncangan, masalah, penyakit datang menerpa kita tidak akan tahan bila Firman Allah tidak hidup dalam diri kita, sebab kita tidak kenal siapa Allah yang kita sembah di dalam nama Yesus. Firman itu tidak akan hidup bila kita tidak pernah membacanya. Menunggu adalah hal yang tidak menyenangkan, terlebih jika yang kita tunggu adalah seorang asing. Itulah sebabnya banyak orang Kristen hari-hari ini mengalami kemunduran secara rohani dan kecewa pada Tuhan karena mereka merasa sudah menungu janji Tuhan terlalu lama namun belum ada realisasinya, membuat mereka berpikir bahwa Tuhan pilih kasih. Mengapa ini bisa terjadi ? Karena mereka tidak mengenal Allah dengan benar. Kita dapat mengenal Allah dengan benar melalui firman Allah, baca firman setiap hari dan renungkan sehingga firman itu akan menjadi rhema dan hidup dalam diri kita , itulah yang menguatkan Iman percaya kita.Kita akan melihat cara Tuhan bekerja dengan cara yang unik. Bila kita mengenal dengan benar Allah yang kita sembah di dalam nama Tuhan Yesus adalah Allah besar, dahsyat, ajaib, perkasa, yang maha tahu dan yang merancangkan yang terbaik bagi kita ( baca Yeremia 29: 11) maka (pasti) semakin hari kita akan semakin mencintai DIA dan percaya bahwa bila DIA berjanji pasti akan digenapi tepat pada waktuNya.
Gereja Katolik diberikan kekuasaan oleh Kristus untuk mengampuni dosa
Gereja yang telah dimuliakan, yang terdiri dari orang-orang kudus, dapat membantu dengan doa-doa mereka, karena doa orang yang benar adalah besar kuasanya (Yak 5:16). Sedangkan Gereja yang sedang mengembara di dunia ini dapat membantu anggota Gereja yang masih mengembara di dunia dan anggota yang sedang dimurnikan, sehingga dapat bersatu dengan Gereja yang telah dimuliakan. Untuk tugas inilah, Kristus sendiri telah memberikan kuasa kepada Gereja.
sehingga Gereja dapat mengantar seluruh anggota Gereja pada persatuan abadi. Oleh karena itu, Gereja juga diberikan kuasa untuk mengatur seluruh kuasa yang diberikan oleh Kristus. Kekuasaan yuridiksi ini diberikan oleh Gereja untuk mengatur harta kekayaan rohani.
Kristus
Kristus berasal dari bahasa Yunani "Christos" (Χριστός) yang berarti "yang diurapi", artinya dituangi minyak di kepalanya. Pengurapan biasa dilakukan di kalangan bangsa Israel sebagai tanda bahwa orang yang diurapi itu mendapatkan jabatan atau kedudukan khusus. Misalnya, Saul dan Daud masing-masing diurapi menjadi raja Israel oleh Samuel (1 Samuel 10:1, 16:13).
Kristus adalah salah satu gelar yang diberikan kepada Yesus, karena orang Kristen perdana percaya bahwa Yesus adalah sang Juruselamat (Mesias) yang dijanjikan sejak masa Perjanjian Lama.
Menuju kedewasaan iman di dalam kristus
kita yang telah dibaptis ingin bertumbuh menjadi lebih dewasa di dalam Kristus. Allah sendiri menghendaki pertumbuhan iman ini, dan karena itu Ia mengaruniakan rahmat Sakramen Penguatan, yang dimaksudkan untuk melengkapi rahmat Pembaptisan.
Sebagaimana secara alamiah seseorang lahir, bertumbuh, oleh karena makanan jasmani, maka secara rohani, iapun dilahirkan kembali di dalam Pembaptisan; menjadi dewasa oleh Penguatan dan bertumbuh dan dikuatkan oleh Ekaristi, yang adalah makanan rohani. Oleh karena itu sakramen Pembaptisan, Penguatan dan Ekaristi menjadi Sakramen-sakramen Inisiasi Kristen yang kesatuannya harus dipertahankan.
Apa tandanya kedewasaan iman dalam Kristus?
Ada beberapa tanda kedewasaan iman dalam Kristus, yang dimungkinkan oleh karunia Roh Kudus. Pertama ialah jika kita dapat memusatkan perhatian kepada Kristus, dan bukan kepada diri sendiri. Secara praktis kita melihat contoh yang nyata pada anak-anak kecil yang sampai umur tertentu menginginkan dirinya terus menjadi pusat perhatian. Namun semakin besar, sifatnya (seharusnya) berubah, dan dapat memperhatikan orang lain. Dalam ibadah dan doa-doa kita, kita-pun dapat melihat gejala serupa. Jika kita belum dewasa dalam iman, doa-doa kita didominasi oleh doa permohonan yang berpusat pada kebutuhan kita, seperti, minta rejeki, kesehatan, dll. Namun jika kita terus bertumbuh, maka doa kita berkembang menjadi ucapan syukur dan pujian penyembahan kepada Tuhan. Kita mulai dapat mengasihi Sang Pemberi berkat dan bukannya mengasihi berkat-berkat-Nya. Bukan berarti bahwa kita tidak boleh memohon berkat pada Tuhan, tetapi seharusnya kita memusatkan perhatian kepada Tuhan terlebih dahulu, sebab yang lain akan diberikan kepada kita kemudian. Dengan ini kita memenuhi kehendak Tuhan yang berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat 6:33)
Tanda kedewasaan iman yang kedua adalah kesediaan kita untuk memberikan diri kita untuk pekerjaan-pekerjaan Allah di dunia. Dengan perkataan lain, kita mau melayani daripada dilayani. Bukankah hal ini juga sangat nyata dalam kehidupan seorang anak? Anak kecil minta dilayani, tetapi yang sudah besar dapat melayani anggota keluarga yang sedang membutuhkan bantuan. Jadi, dalam kegiatan di Gereja dan masyarakat misalnya, kita tidak menuntut orang lain untuk memperhatikan, melayani, dan menghormati kita; melainkan kita terdorong untuk membantu dan melayani orang lain. Karena itu, selayaknya kita tidak berkomentar, “Aku tidak senang ke gereja Katolik, karena di gereja aku tidak mendapat perhatian…” Walaupun tentu sebagai umat seharusnya kita saling memperhatikan satu sama lain, namun jangan sampai kita lupa bahwa tujuan utama kita beribadah di gereja adalah untuk bersyukur kepada Tuhan dan bersekutu dengan-Nya. Baru kemudian, langkah berikutnya adalah, apa yang dapat kulakukan agar dapat turut meningkatkan keakraban umat.
Melayani Tuhan juga berarti mau menjalankan tugas mewartakan Injil (lih. Mat 28:19-20). Hal ini dapat kita lakukan dengan perkataan, tetapi terlebih lagi dengan perbuatan. Sudah menjadi misi Kristus untuk menyelamatkan semua manusia, maka jika kita sungguh mengasihi Kristus kita akan turut mengambil bagian dalam misi-Nya tersebut, yang juga menjadi misi Gereja. Dengan perkataan lain, kita tidak hanya menjadi pengikut Kristus, tetapi menjadi murid Kristus.
Tanda ketiga adalah kita tidak mudah bertengkar dengan sesama, terutama dengan sesama umat. Rasul Paulus menunjukkan hal ini dengan begitu jelas dalam suratnya kepada jemaat di Filipi. Timotius diutus oleh Rasul Paulus untuk membacakan pesannya kepada jemaat di sana, yang berisi nasihat supaya bersatu dan merendahkan diri seperti Kristus (Fil 2:1-11), untuk menghindari segala bentuk perselisihan. Secara khusus ia menyebut nama dua orang wanita yang bertengkar, Euodia dan Sintikhe (Fil 4:2) dan menasihati supaya mereka berhenti berselisih dan menjadi sehati sepikir dalam Tuhan. Jika kita memiliki pengalaman berselisih dengan sesama umat di gereja, bayangkanlah jika nama kita yang disebutkan di sana!
Keempat, kita bertumbuh di dalam iman jika kita mau dengan hati lapang memikul salib yang Tuhan izinkan terjadi di dalam kehidupan kita, dengan harapan akan kebangkitan bersama Kristus. Hal ini bertentangan dengan keinginan dunia. Banyak orang cenderung menyukai ajaran teori ‘kemakmuran’ jika mengikuti Yesus, daripada harus berjuang memikul salib bersama Yesus, untuk dapat bangkit bersama Dia. Pendeknya, ingin mencapai kebangkitan tanpa salib. Namun, melalui Kitab Suci, kita dapat melihat dengan jelas, bahwa ajaran Tuhan bukanlah demikian. Yesus mengatakan, “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku” (Mat 16:24). Artinya, dengan rahmat Tuhan, kita harus berjuang untuk meninggalkan dosa dan segala keakuan kita, serta mengambil bagian dalam penderitaan Kristus untuk dapat mencapai kebahagiaan bersama-Nya (lih. Rom 6:5-11; 1 Pet 4:13). Bersama Kristus dan semua anggota Gereja-Nya, kita dipanggil untuk menjadi rekan sekerja Allah, (lih. 1 Kor 3:9) dengan mempersembahkan segala penderitaan kita untuk dipersatukan dengan kurban Kristus, agar mendatangkan keselamatan bagi orang-orang yang kita kasihi, dan untuk seluruh dunia.
Terakhir, tanda kedewasaan iman adalah jika kita mau mengikuti seluruh ajaran dan kehendak Tuhan dan tidak memilih-milih dan menyesuaikan dengan kehendak kita sendiri. Artinya, jangan sampai ajaran yang mudah kita terima, tetapi ajaran yang sukar dan membutuhkan pengorbanan, kita tolak, seperti ajaran mengampuni orang yang menyakitkan hati, mengasihi dan mendoakan orang yang membenci kita, larangan korupsi, dst. Jika kita bertindak demikian, kita belum sungguh dewasa dalam iman.
Kesimpulan
Kita patut bersyukur karena Sakramen Penguatan yang kita terima, karena dengan sakramen ini kita dikuatkan oleh Roh Kudus untuk bertumbuh dewasa di dalam iman. Pengurapan Roh Kudus ini seharusnya mengobarkan kasih kita kepada Yesus Kristus, yang menjadikan kita hidup sesuai martabat kita sebagai anak-anak Allah, berani menjadi saksi-Nya, dan mengambil peran dalam tugas-tugas perutusan Gereja. Marilah kita mohon pada Tuhan untuk menjadikan kita anggota-anggota Kristus yang hidup, yang mengandalkan Tuhan dalam pergumulan kita untuk mengalahkan keinginan berbuat dosa, untuk menerima dengan iman, salib yang Tuhan ijinkan terjadi dalam kehidupan kita, dan perjuangan untuk mencapai segala sesuatu yang sesuai dengan kehendak-Nya. Semoga doa ini selalu bergema di dalam hati kita, “Datanglah Roh Kudus, penuhilah hati umat-Mu. Nyalakanlah api cinta-Mu di dalam hati kami. Utuslah Roh-Mu, ya Tuhan, dan kami semua akan diperbaharui dan Engkau akan memperbaharui seluruh muka bumi.”
Iman Katolik dalam Agama dan Gereja Katolik
Misi dari Iman katolik sebagai media informasi lewat dunia maya, untuk pengenalan awal bagi mereka yang merasa terpanggil (bdk Yoh 15:16) untuk mengenal lebih dekat akan ajaran Yesus Kristus dalam Gereja Katolik, sebagai langkah awal mengenal kepenuhan keselamatan yang hanya terdapat dalam Gereja Katolik, serta sebagai sarana berkatekese bagi para awam dalam mewujudkan komunitas umat basis secara konkret dalam masyarakat. .
Serba serbi Iman Katolik
Harapan“, dalam kenyataannya, adalah sebuah kata kunci untuk memahami iman Biblis - begitu dekatnya sehingga dalam beberapa ayat kata “iman” dan “harapan” tampaknya tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu, Surat kepada Umat Ibrani mengaitkan “kepenuhan iman” (10:22) dengan “pengakuan akan harapan kita tanpa keragu-raguan” (10:23). Senada dengan itu, ketika Surat Pertama Petrus mendorong orang Kristen untuk selalu siap sedia memberi pertanggungjawaban mengenai logos - arti dan alasannya - dari harapan (bdk. 3:15), “harapan” sama dengan “iman“.
Bukan ilmu pengetahuan yang menebus manusia: manusia ditebus oleh cintakasih. Hal ini berlaku bahkan untuk zaman ini. Ketika seseorang memperoleh pengalaman akan cintakasih yang besar dalam hidupnya, inilah suatu masa “penebusan” yang memberi suatu arti baru bagi hidupnya.
Mari kita ulang sekali lagi: kita memerlukan harapan-harapan yang kecil dan yang lebih besar untuk memampukan kita maju hari demi hari. Namun, harapan-harapan ini tidaklah cukup tanpa harapan yang agung, yang mesti melampaui segala sesuatu yang lain. Harapan agung ini tidak bisa lain ialah Tuhan, yang meliputi segenap realitas dan yang dapat memenuhi apa yang tidak bisa kita peroleh dari diri kita sendiri.
IMAN DAN PERCAYA
Kata "iman" dan kata kerjanya "percaya" sering muncul dalam Al¬kitab, dan memang merupakan istilah penting yang meng¬gam¬bar¬kan hubungan antara umat atau seseorang dengan Allah. Di bawah ini akan ditin¬jau secara singkat makna istilah itu dalam Alkitab, khususnya dalam Perjanjian Baru. Kata "iman" yang dipakai dalam Perjanjian Baru me¬ru¬pakan terjemahan dari kata Yunani πίστις (pistis), sedangkan kata kerja¬nya "percaya" adalah terjemahan dari kata πιστεύω (pisteuoo). Kata-kata ini sudah dipakai dalam Septuaginta, Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama) dalam bahasa Yunani, sebagai terjemahan kata Ibrani ¤m' (aman), yang berarti keadaan yang benar dan dapat dipercayai/diandalkan. Kata ini dan kata-kata sekelompoknya dalam Alkitab Ibrani sering digunakan untuk me¬nyatakan rasa percaya kepada Allah dan percaya kepada firman-Nya. Per¬caya kepada Allah mencakup arti percaya bahwa Ia benar dan dapat diandalkan, mempercayakan diri kepada-Nya, dan taat serta setia kepa¬da-Nya. Percaya pada firman-Nya berarti percaya dan menerima apa yang sudah difirmankan-Nya itu.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa istilah iman dan percaya dalam Alkitab sering mengandung komponen-komponen makna sebagai berikut:
1. percaya dan menerima bahwa sesuatu itu benar,
2. mengandalkan/mempercayakan diri
3. setia, dan
4. taat.
Kata Yunani pistis sering mempunyai komponen-komponen makna seperti tersebut di atas, baik dalam Septuaginta maupun dalam Perjanjian Baru. Dalam konteks tertentu hanya satu atau dua komponen makna yang difokuskan, dan komponen lainnya tidak ditekankan, atau malahan tidak berlaku.
Dalam Perjanjian Baru, "iman" terutama ditujukan kepada Yesus, yaitu percaya kepada-Nya dan perkataan-Nya, bahwa Dia adalah Tuhan dan Juruselamat, dan mempercayakan diri kepada-Nya, serta juga percaya dan menerima kebenaran Injil. Berikut ini kita akan memeriksa arti pistis dan pisteuoo dalam terjemahan Perjanjian Baru bahasa Indonesia versi Terjemahan Baru (TB):
Matius 9:22 "Imanmu telah menyelamatkan engkau!"
I man di sini berarti percaya kepada perkataan Yesus dan mem-percayakan diri kepada-Nya. Bandingkan terjemahan dalam Alki¬tab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS): "Karena engkau percaya kepada-Ku, engkau sembuh!"
Markus 1:15 "Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!"
Kata percaya di sini menekankan komponen makna pertama, yak¬ni bahwa Injil itu benar dan dapat dipercaya, sehingga dapat juga diterjemahkan, "Percayalah dan terimalah Injil!"
Galatia 2:16 “Kami pun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan karena iman dalam Kristus.”
Dalam ayat ini "percaya" dan "iman", kedua-duanya memiliki se¬lu¬ruh komponen maknanya. "Iman dalam Kristus" berarti percaya bahwa Injil tentang Yesus itu benar, dan mempercayakan diri kepada Yesus dengan komitmen akan setia dan taat kepada-Nya.
Roma 10:9 “Sebab jika engkau mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dengan hatimu bahwa Allah telah membangkitkan Dia…”
"Percaya" di sini adalah percaya akan berita tentang kebangkitan-Nya, dan menerimanya dengan segala konsekuensinya. Kata paralel "meng¬aku menunjukkan bahwa percaya itu bermuara dalam per¬bu¬atan pengakuan. Ungkapan "percaya dalam hati" menandakan bah¬wa percaya itu harus kuat dan teguh.
Yohanes 2:24 “Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka.”
TB menekankan komponen makna yang kedua dalam konteks ini, yakni komponen "mempercayakan diri." Begitu juga BIS menerje¬mah¬kannya: "Tetapi Yesus sendiri tidak percaya mereka."
Selain arti yang pokok seperti diuraikan dengan beberapa contoh di atas, "iman" dalam PB menurut konteksnya kadang-kadang mempu¬nyai arti yang berbeda, yaitu:
1. kemampuan atau sifat baik orang Kristen, atau
2. agama Kristen, atau juga
3. ajaran atau doktrin Kristen
Kristus Penyempurna Iman
Mat 4:18-22,Ibr 12:1-2
Injil Markus mencatat pengajaran Tuhan Yesus tentang ukuran yang akan diukurkan dan ada sesuatu yang ditambahkan lagi padanya. Apakah maksud dari perkataan Kristus? Untuk memahami perkataan Kristus tersebut maka kita harus memperhatikan konteks Injil Markus mulai dari pasalnya yang ke 4 hingga pasalnya yang ke 5 ayat 43 karena bagian ini merupakan satu kesatuan yang utuh. Perumpamaan penabur menjadi titik tolak kenapa Tuhan Yesus berbicara tentang ukuran yang diukurkan dan kemudian akan ditambahkan, yang mempunyai akan ditambahkan dan yang tidak mempunyai apa pun juga yang ada padanya akan diambil.
Iman di dalam Kristus
Telah belajar mengenai iman berasal dari Allah Bapa. Kini kita melihat aspek kedua, yaitu iman berasal dari Yesus Kristus. Yesus Kristus yang menciptakan iman dan Yesus Kristus yang menyempurnakan iman di dalam sepanjang hidup kita mengikuti Dia. Di dalam Ibrani 12:1-2 dituliskan bagaimana kita memandang kepada Yesus sebagai sumber iman, Yesus yang mengadakan dan menggenapkan iman, dan Dia kemudian menjadi teladan bagi kita. Dia sendiri mengabaikan penghinaan, tekun memikul salib, dan akhirnya menggantinya dengan sukacita yang disediakan bagi Dia, serta sekarang duduk di sebelah kanan Allah. Saya ingin memberikan dua butir berkenaan dengan tema ini.
1. Memandang pada Yesus
Memandang Tuhan Yesus karena Dia adalah yang mengadakan dan yang menggenapkan iman. Di dalam terjemahan lain dituliskan: “He starts, He creates faith and He accomplishes and He guides us until the end.” Dia yang menciptakan iman, dan Dia yang memimpin kita serta menggenapi iman itu dalam diri kita. Ia yang memulai dan Ia juga yang mengakhiri. Dia yang mengadakan dan menyempurnakan, Dia yang menciptakan dan yang menggenapi. Iman berasal dari mana? Ayat yang kita baca menyatakan bahwa iman berasal dari Kristus. Ada orang belum percaya yang diberitahu bahwa jika ia percaya akan sembuh, maka ia pasti sembuh. Lalu ia mengatakan, “Ya, saya percaya.” Ia berharap segera sembuh. Percaya ini berasal dari mana? Kalau percaya ini sekedar dari dirinya sendiri, dan ia sendiri yang mau percaya, maka itu pasti bukan iman Kristen. Iman yang pertama-tama harus berasal dari Bapa, dan kemudian kita melihat bahwa iman itu harus dimulai dan diakhiri di dalam Kristus. Yang mengadakan iman dan yang menyempurnakan iman adalah Kristus sendiri.
2. Yang menyempurnakan iman
Kristus bukan hanya memulai iman, tetapi Ia juga yang menggenapkan dan menyempurnakan iman. Bukan hanya memandang kepada Kristus sebagai sumber dan awal iman, tetapi juga di dalam Dia kita mengakhiri dan menggenapkan iman kita. Maka tidaklah salah jika para murid Kristus meminta kepada Kristus untuk menambahkan iman kepada mereka, karena mereka kurang iman. Iman bukan disempurnakan oleh diri kita sendiri, apalagi melalui semua yang kita kerjakan menjadi jasa iman. Memohon kepada Kristus untuk ditambahkan iman, atau sesuai dengan tema kita, yaitu agar iman kita boleh disempurnakan, adalah doa yang benar. Tidak ada seorang pun yang sempurna imannya. Di dalam hidup, terkadang saya merasa begitu sulit bekerja dengan orang yang tidak beriman. Semua terlihat begitu negatif, semua menjadi tidak mungkin, semua sulit dikerjakan, semua seolah-olah sia-sia. Saya telah menjadi yatim sejak usia tiga tahun dan hingga saat ini saya sangat jarang mengatakan sesuatu itu sulit, sesuatu tidak bisa dikerjakan, atau tidak mungkin. Saya selalu mencoba belajar bersandar pada Tuhan dan mohon Tuhan memberikan kekuatan dan pencerahan untuk menolong saya melakukan itu. Bukan berarti saya mengabaikan kesulitan yang ada. Saya sangat menyadari banyak hal sangat sulit. Namun, kita harus belajar bisa mengalahkan kesulitan dengan kekuatan yang Tuhan berikan kepada kita. Ini yang disebut iman. Jika kita adalah orang Kristen, maka kita harus belajar beriman dengan benar. Sayang kalau kita mengaku sebagai orang Kristen tetapi setiap hari hidupnya tidak beriman, lalu menertawakan orang yang beriman.
Iman bukan nekat, tetapi iman juga bukan pengecut. Di dalam banyaknya kesulitan kita bisa belajar menerobos keluar. Menyelesaikan dan melewati setiap kesulitan, betapapun besarnya, adalah iman. Kita sering kali menyanyikan bahwa iman memberikan kemenangan, tetapi kehidupan kita sendiri penuh dengan kekalahan. Benarkah kita percaya pada Kristus? Benarkah iman kita di dalam Kristus adalah iman yang menyempurnakan? Iman yang memberikan kemenangan? Jika kita percaya bahwa iman kita memberikan kemenangan, kita bisa menerobos kesulitan-kesulitan yang kita hadapi. Itu berarti kita percaya kepada Allah yang betul-betul memberikan kekuatan kepada kita.
Kristus penyempurna iman
Injil Markus mencatat pengajaran Tuhan Yesus tentang ukuran yang akan diukurkan dan ada sesuatu yang ditambahkan lagi padanya. Apakah maksud dari perkataan Kristus? Untuk memahami perkataan Kristus tersebut maka kita harus memperhatikan konteks Injil Markus mulai dari pasalnya yang ke 4 hingga pasalnya yang ke 5 ayat 43 karena bagian ini merupakan satu kesatuan yang utuh. Perumpamaan penabur menjadi titik tolak kenapa Tuhan Yesus berbicara tentang ukuran yang diukurkan dan kemudian akan ditambahkan, yang mempunyai akan ditambahkan dan yang tidak mempunyai apa pun juga yang ada padanya akan diambil. Pada saat Tuhan Yesus sendirian, barulah para murid menanyakan tentang apa arti dari perumpamaan penabur tersebut dan jawab-Nya: “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun (Mrk. 4:11-12).
Dari jawaban tersebut sebenarnya Tuhan Yesus hendak berbicara tentang kehadiran Kerajaan Allah di tengah dunia dan hanya kepada orang-orang pilihan-Nya sajalah rahasia tentang Kerajaan Allah ini diberikan dan dapat dimengerti namun pada suatu waktu kelak semua rahasia akan disingkapkan. Perumpamaan penabur merupakan langkah awal Kristus mengubah metode pengajaran-Nya, Tuhan Yesus mulai membuat sebuah pemisahan dalam pengajaran-Nya tentang siapa saja yang berhak/tidak berhak untuk mengerti tentang hal Kerajaan Surga. Dalam tulisannya, Markus menekankan: pertama, seorang Kristus yang tunduk pada Firman, kedua, Kristus merupakan penggenapan dari Kerajaan Allah, Kristus merupakan puncak dari pernyataan Kuasa Allah. Itulah sebabnya dalam injil Markus kita akan menjumpai konfrontasi antara Kristus dengan kuasa kegelapan dan kuasa Allah mendominasi segala kuasa yang ada di dunia, seperti kuasa kematian, kuasa sakit penyakit, kuasa kegelapan, dan lain sebagainya.
Kerajaan Allah seumpama benih yang tumbuh dimana tidak ada satu orang pun yang tahu kapan benih itu mengeluarkan tunas dan bertumbuh (Mrk. 4:26-28). Benih yang kecil itu semakin lama semakin bertumbuh dan menjadi besar sehingga burung-burung dapat bersarang dalam naungannya. Namun banyak orang tidak menyadari bahwa kuasa Allah yang sedang bekerja karena itu Yesus memberitakan hal ini secara eksklusif hanya kepada para murid-Nya dalam bentuk perumpamaan dan hanya kepada mereka saja, Yesus mengungkapkan arti perumpamaan tersebut. Markus hendak mengungkapkan realita Kerajaan Allah lewat sosok Tuhan Yesus. Ketika Ia berinteraksi dengan banyak orang maka mau tidak mau orang dituntut untuk berpikir dua kali tentang kuasa Allah melalui diri Yesus. Itulah sebabnya, Markus merasa perlu untuk memperjelas tentang arti perumpamaan tersebut dengan menambahkan empat peristiwa lain dimana dalam setiap peristiwa yang terjadi berbicara tentang kuasa Allah dan hal ini dinyatakan dalam diri Yesus dan bagaimana kaitannya dengan orang-orang seperti yang diungkapkan dalam perumpamaan penabur.
1. Yesus meredakan angin ribut.
Melalui peristiwa ini Markus hendak menjelaskan akan arti dari benih yang jatuh di tanah yang jatuh di pinggir jalan. Pada hari itu, yaitu setelah Yesus mengajarkan tentang perumpamaan maka bertolaklah Ia bersama para murid dalam sebuah perahu menuju ke seberang. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu. Seharusnya angin dan badai bukan menjadi hal yang baru bagi para murid Yesus yang sebagian besar adalah seorang nelayan. Namun kalau mereka menjadi takut ketika badai dan ombak menerjang maka dapatlah dipastikan peristiwa ini baru pertama kali mereka alami. Para murid tahu bahwa Yesus dapat melakukan sesuatu yang dapat menyelamatkan mereka maka tidaklah heran kalau mereka menuntut supaya Yesus melakukan sesuatu. Mereka membangunkan Yesus dan berkata, “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?“ Ini adalah ukuran yang para murid pakai untuk melihat Yesus Kristus. Lalu, Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!“ Yesus hanya memerintahkan satu kali saja dan perintah ini adalah perintah yang sempurna. Angin itu reda dan danau menjadi teduh namun reaksi yang ditunjukan murid di luar dugaan, mereka menjadi takut. Lalu kata Yesus, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?“ Ini adalah ukuran baru yang ditambahkan Yesus kepada para murid. Perkataan Yesus yang tajam ini menohok langsung dalam hati para murid; Tuhan Yesus membongkar pikiran para murid yang selama ini melihat diri Yesus yang terbatas, Yesus yang tidak peduli akan keselamatan diri mereka. Ketakutan menyebabkan mereka tidak lagi mempercayai Kristus, ketidakpercayaan membangkitkan rasa ketakutan. Respon lain ditunjukkan oleh para murid, yaitu “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?“ Yang menjadi pertanyaan adalah apakah para murid tidak tahu sebelumnya siapa Yesus? Bukankah Yesus telah melakukan banyak mujizat dan hal ini telah dilihat dan dialami sendiri oleh para murid? Maka tidaklah heran kalau Markus memakai kisah ini untuk menggambarkan peristiwa ini sebagai benih yang jatuh di pinggir jalan lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Kristus tetap membuka suatu pintu yang baru bagi mereka, sesuatu yang baru ditambahkan kepadamu. Kristus membuka batasan yang ada dalam diri mereka sehingga mereka dapat melihat Yesus sebagai pernyataan kuasa Allah.
2. Yesus mengusir roh jahat dari orang Gerasa.
Peristiwa ini terjadi ketika Tuhan Yesus sudah sampai di seberang. Markus hendak menjelaskan tentang model tanah yang kedua, yaitu tanah yang berbatu-batu. Yesus khusus mencari satu orang di Gerasa dan orang tersebut dirasuk oleh Legion. Menurut ukuran pasukan Romawi, satu legion berjumlah 6000 orang. Yesus mengusir setan yang merasuk dirinya dan Yesus mengabulkan permintaan setan tersebut untuk memindahkannya pada kawanan babi yang ada di situ. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya. Reaksi yang ditunjukkan oleh penduduk setempat sungguh di luar dugaan, mereka menjadi takut (Mrk. 5:15). Lalu mereka mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka. Pernyataan kuasa Allah atas kuasa kegelapan merupakan perbuatan yang ajaib namun orang justru tidak senang dengan perbuatan Yesus karena kehadiran Kristus dianggap sebagai ancaman dan mereka merasa dirugikan. Orang tidak suka ketika melihat realita Kerajaan Allah karena ada tuntutan-tuntutan yang Kristus sampaikan dan hal itu harus ditaati. Mereka kemudian bersepakat mengusir Yesus. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya (Mrk. 4:25).
Sangatlah disayangkan, kalau sebagian besar orang-orang Gerasa, kecuali satu orang yang disembuhkan tersebut, tidak bisa melihat Kerajaan Allah dan keajaiban perbuatan Allah yang besar. Banyak orang tidak percaya bahwa Yesus adalah Allah karena pikiran mereka telah dibutakan, orang mengenal Yesus hanya sebatas Ia sebagai seorang anak tukang kayu (Mrk. 6:3). Oleh karena itu, Yesus tidak membuat mujizat di kota asalnya. Yesus tidak merasa dirugikan dengan penolakan dirinya. Mereka tidak menyadari kalau justru merekalah yang dirugikan karena menolak Kristus. Yesus tidak memperkenankan orang yang tadinya kerasukan setan itu ketika ia meminta untuk mengikut Dia sebaliknya Yesus mengutusnya untuk memberitakan segala sesuatu yang diperbuat Yesus kepada penduduk sekitar. Dengan kata lain, Yesus sepertinya ingin memberitahukan kebodohan yang sudah mereka lakukan karena menolak Kerajaan Allah dan menganggapnya sebagi ancaman. Berbeda dengan orang yang disembuhkan, ia mengalami pernyataan Kerajaan Allah dalam diri Kristus, ia dapat melihat bahwa kuasa Allah lebih besar dari kuasa kegelapan. Orang-orang di Gerasa seperti benih yang jatuh di tanah yang berbatu, ia tumbuh lalu mati karena akarnya tidak kuat.
3. Yesus membangkitkan anak Yairus.
Yairus adalah pengurus rumah ibadat. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki Yesus dan memohon supaya anak perempuannya yang sedang sakit dan hampir mati itu diselamatkan. Ini adalah ukuran yang dimiliki oleh Yairus untuk mengerti siapakah Yesus. Yairus pasti sudah mencoba segala daya dan upaya untuk menyembuhkan anak perempuannya namun semua itu tidak berhasil. Dalam keadaan yang putus asa, Yairus tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan sampai kemudian ia teringat dan mendengar tentang berbagai mujizat yang Yesus lakukan. Yairus perlu Yesus untuk memenuhi kebutuhannya, yaitu untuk menyembuhkan anak perempuannya yang sakit. Markus menggambarkan peristiwa Yairus ini seperti benih yang tumbuh di tanah bersemak, kekuatiran dunia menghimpitnya sedemikian rupa sehingga benih itu menjadi mati. Di tengah kegalauan hati Yairus, tanpa disangka muncul seorang perempuan yang sakit pendarahan dan hal ini semakin menambah kekuatiran hati Yairus karena dengan demikian perjalanan Yesus ke rumahnya menjadi terhambat. Apa yang menjadi kekuatiran Yairus, kini menjadi kenyataan. Salah seorang keluarganya datang dan mengabari bahwa anaknya sudah mati. Namun Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan Ia berkata kepada Yairus, “Jangan takut, percaya saja!“
Ucapan ini adalah ucapan yang sama yang diucapkan Yesus pada para murid ketika badai dan angin datang menerpa tetapi bedanya pada para murid, Yesus mengucapkannya dalam bentuk pertanyaan, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?“ Ukuran yang Yairus pakai pada Yesus adalah Yesus sanggup menyembuhkan orang sakit tetapi bagaimana dengan membangkitkan orang mati? Logika Yairus seakan berhenti karena ia tidak pernah tahu bahwa Yesus sanggup melakukan segala sesuatu lebih dari yang manusia pikirkan. Anugerah Tuhan turun atas keluarga Yairus, dengan mata kepala sendiri mereka menyaksikan bagaimana Kristus membuat mujizat dengan membangkitkan anaknya yang sudah mati. Tuhan menambahkan pengertian yang baru lagi tentang siapakah Kristus dengan membukakan pikiran kepada Yairus, yaitu Yesus adalah pernyataan Kerajaan Allah dan kuasa Allah lebih besar dari kuasa kematian.
4. Yesus menyembuhkan seorang perempuan yang sakit pendarahan.
Melalui peristiwa ini, Markus hendak menjelaskan tentang tanah yang subur. Menurut tradisi Yahudi pada jaman itu, jika salah seorang dari keluarga mereka ada yang sakit pendarahan maka ia harus dikucilkan dari keluarga begitu pula dalam kehidupan beragama. Alkitab mencatat, demi untuk memperoleh kesembuhan, ia telah menghabiskan semua hartanya; ia telah berulangkali mengobati penyakitnya namun sakitnya tak juga kunjung sembuh malah keadaannya makin memburuk. Perempuan ini mendengar segala sesuatu tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu, ia memberanikan diri untuk mendekati Yesus dan menjamah jubah-Nya. Pada jaman itu merupakan hal yang terlarang bagi seorang perempuan untuk mendekati seorang tokoh agama. Namun dengan segala daya dan upaya perempuan ini mencoba mendekati Yesus, ia tahu dan ia telah siap dengan segala resikonya kalau kedapatan dirinya seorang perempuan.
Ukuran yang ia punya adalah asal kujamah saja jubah-Nya maka aku akan sembuh dan saat itu juga mujizat terjadi. Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling dan bertanya: “Siapa yang menjamah jubah-Ku?“ maka dengan takut dan gemetar, tersungkurlah ia di depan Yesus dan memberitahukan segala sesuatunya pada Yesus. Yesus menambahkan sesuatu yang baru padanya, jawaban Yesus sungguh di luar dugaan: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!“ Iman perempuan ini timbul karena ia pernah mendengar segala sesuatu tentang Yesus dan asal kujamah jubah-Nya, aku akan sembuh. Kristus menghargai iman perempuan ini. Benih itu jatuh di tanah yang baik sehingga ia bertumbuh.
Semua peristiwa ini berada dalam konteks, orang-orang yang diberikan kemampuan untuk melihat rahasia Kerajaan Allah. Hanya kepada mereka yang telah dipilih-Nya, Kristus menyempurnakan iman. Kristus adalah pemimpin iman yang membawa iman pada kesempurnaan. Semua peristiwa yang terjadi dalam diri empat orang ini adalah atas seijin Kristus demi untuk kebaikan kita, yaitu menumbuhkan iman dan menuju pada kesempurnaan. Pengetahuan kita tentang Kristus tidaklah cukup bagi kita mengenal siapakah Yesus. Kita harus mengalami perjalanan iman bersama Kristus barulah kita akan merasakan keindahan berjalan dalam iman bersama Kristus. Kita akan dapat merasakan kebesaran Kristus, mujizat-Nya yang ajaib, penyertaan-Nya sehingga tiap-tiap hari Ia tambahkan hal yang baru lagi dengan demikian iman kita semakin bertumbuh dan berbuah layaknya sebuah benih yang jatuh di tanah yang subur.
Iman dalam Yesus Kristus
Christ Menyembuhkan Buta, oleh Carl Heinrich Bloch (1834-1890; minyak pada pelat tembaga, 20 "x 30"). Yesus menyembuhkan orang buta sejak lahir (Yohanes 9). Kesembuhan dan mujizat lain adalah salah satu manifestasi dari iman dalam Tuhan Yesus Kristus.Kesopanan yang Frederiksborg Museum, Hillerod, denmark.
oleh Douglas E. Brinley oleh Douglas E. Brinley
Iman dalam Yesus Kristus adalah prinsip pertama dari Injil Yesus Kristus (A dari F 4). Orang yang memiliki iman ini percaya dirinya sebagai Anak Allah yang hidup, percaya kepada kebaikan-Nya dan kekuasaan, bertobat dari dosa-dosanya, dan mengikuti petunjuknya. Iman dalam Tuhan Yesus Kristus sebagai individu terbangun mendengar Injil (Rm. 10: 17). Dengan iman mereka memasuki pintu gerbang pertobatan dan pembaptisan, dan menerima karunia Roh Kudus, yang mengarah kepada cara hidup yang ditahbiskan oleh Kristus (2 Nefi. 31:9, 17-18). Mereka yang menanggapi adalah "hidup dalam Kristus karena [mereka] iman" (2 Nefi. 25:25). Karena jalan Allah adalah satu-satunya cara yang mengarah pada keselamatan, "tidaklah mungkin untuk menyenangkan hatinya" tanpa iman (Ibrani 11:6). Iman harus mendahului mukjizat, tanda-tanda, karunia Roh, dan kebenaran, karena "jika tidak ada iman ... Allah tidak dapat berbuat keajaiban" (Eter 12:12).
The Book of Mormon prophet Moroni summarized these points: The Book of Mormon nabi Moroni diringkas poin ini:
Tuhan Allah prepareth cara bahwa sisa-sisa manusia dapat memiliki iman di dalam Kristus, bahwa Roh Kudus mungkin tempat di hati mereka, sesuai dengan kekuasaan itu, dan setelah ini bringeth cara untuk lulus Bapa, perjanjian-perjanjian yang telah dibuat kepada anak-anak manusia. Dan Kristus telah berkata: Jika kamu akan memiliki iman di dalam Aku kamu akan memiliki kekuasaan untuk melakukan apa pun adalah bijaksana dalam diriku.Dan dia telah berkata: Bertobatlah semua kamu ujung bumi, dan datang kepada-Ku, dan dibaptis dalam nama-Ku, dan memiliki iman di dalam Aku, supaya kamu dapat diselamatkan [Moro. 7:32-34]. 7:32-34].
Meskipun dalam pidato umum orang berbicara tentang memiliki iman pada orang, prinsip, atau hal-hal, iman dalam arti kekal adalah iman di dalam, dan hanya di dalam, Yesus Kristus.Tidak cukup untuk memiliki iman hanya apa-apa; itu harus difokuskan pada "satu-satunya Allah yang benar, dan Yesus Kristus" yang dia telah mengutus (Yohanes 17:3).Memiliki iman berarti memiliki keyakinan penuh dalam Yesus Kristus saja untuk menyelamatkan manusia dari dosa dan kepastian kematian.Dengan rahmat-Nya "kamu diselamatkan oleh iman" (Ef. 2:8). Jika "Kristus tidak dibangkitkan," maka "imanmu juga sia-sia" dan "kamu masih hidup dalam dosamu" (1 Kor. 15:14, 17).Untuk kepercayaan pada kekuasaan dunia ini adalah untuk "kepercayaan pada lengan daging" dan, sebagai akibatnya, menolak Kristus dan Injil-Nya (2 Nefi. 4:34).
Paulus menjelaskan, "Sekarang iman adalah zat [atau jaminan] dari hal-hal yang kita harapkan dan bukti [demonstrasi atau bukti] dari hal-hal yang tidak kita lihat" (Ibrani 11:1). Kebenaran yang tak terlihat dari Injil yang dinyatakan oleh Roh Kudus dan dilihat dalam kehidupan orang-orang yang hidup oleh iman, mengikuti arah harian Roh itu. Meskipun sebagian besar manusia belum melihat realitas spiritual di luar dunia fisik ini, mereka dapat menerima bangunan tersebut dalam iman, berdasarkan kesaksian spiritual pribadi (es) dan catatan alkitabiah bekas dan hari kedua saksi yang khusus Allah telah memanggil dan yang mengalami realitas ini secara langsung.
Iman yang benar adalah kepercayaan ditambah tindakan. Iman berarti tidak hanya persetujuan mental atau kognisi keyakinan tetapi juga pelaksanaannya. Beliefs in things both spiritual and secular impel people to act. Kepercayaan pada hal-hal baik spiritual dan sekuler mendorong orang untuk bertindak. Kegagalan untuk bertindak pada ajaran-ajaran dan perintah-perintah Kristus mengimplikasikan ketiadaan iman dalam dirinya. Iman dalam Yesus Kristus mendorong orang untuk bertindak atas nama Kristus, untuk mengikuti contoh, untuk melakukan karya-karyanya. Yesus berkata, "Bukan setiap orang yang berseru kepadaku: Tuhan, Tuhan, akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga" (Matius 7:21; cetak miring ditambahkan.James lebih menekankan bahwa "iman, jika Allah tidak bekerja, sudah mati, hidup sendirian. Ya, seorang pria mungkin berkata, Engkau iman, dan aku telah bekerja: menaruhkan aku Mu iman tanpa segala pekerjaanmu, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku oleh saya bekerja "(Yakobus 2:17-18; lihat juga Grace).
Kebenaran mengarah pada iman yang lebih besar, sementara dosa dan kejahatan mengurangi iman. "Orang benar [pria] akan hidup oleh iman" (Habakuk 2:4). Melanggar perintah-perintah Allah membawa kehilangan Roh Tuhan dan kehilangan iman, karena iman dalam Yesus Kristus tidak kompatibel dengan ketidaktaatan. Kitab Mormon nabi Alma dicirikan firman Kristus sebagai benih yang diuji ketika orang-orang menanamnya dalam hati mereka dan memberi makan itu.Jika mereka ingin melihat benih tumbuh, mereka harus memberikan ruang dan memelihara dengan iman mereka. Namun, jika mereka mengabaikan benih, itu akan lenyap.Tapi kalau mereka akan "memberi makan kata ... oleh [mereka] iman dengan penuh ketekunan," ia akan tumbuh menjadi pohon kehidupan, dan mereka akan rasa buah, yang adalah kehidupan kekal (Alma 32:26-43).
Iman dapat dipelihara dan diperbaharui melalui pembelajaran tulisan suci, doa, dan bekerja sesuai dengan perintah-perintah Injil. Karena orang-orang yang bertindak berdasarkan iman, bertobat, dan dibaptis menerima pengampunan dosa, mereka memiliki alasan untuk harapan untuk kehidupan kekal (Moro. 7:41.Dengan harapan, iman mereka di dalam Yesus Kristus lebih lanjut mengilhami individu-individu untuk melayani satu sama lain dalam amal, bahkan ketika Kristus akan dilakukan (Moro. 7:44), karena "akhir perintah adalah amal dari iman ... unfeigned" ( 1 Tim. 1:5). "Charity adalah murni kasih Kristus, dan itu bertahan selama-lamanya" (Moro. 7:47). Dengan demikian, iman, atau "ketabahan dalam Kristus," memungkinkan orang untuk bertahan sampai akhir, terus dalam iman dan kasih (2 Nefi. 31:20; 1 Timotius. 2:15; A & P 20:29. Iman yang benar adalah bertahan dan mengarah pada suatu jaminan bahwa usaha seseorang tidak pergi tanpa diketahui dan bahwa Allah senang dengan salah satu sikap dan usaha untuk menerapkan prinsip-prinsip Injil Yesus Kristus dalam kehidupan pribadi seseorang.
Sementara Alma menjelaskan bagaimana iman mengarah kepada pengetahuan, komentar LDS modern juga menunjukkan bagaimana beberapa jenis pengetahuan menguatkan iman (MD, hal. 261-67). Pengetahuan bahwa Allah ada, pemahaman yang benar dari karakternya, dan kepastian bahwa ia menyetujui perilaku seseorang dapat membantu seseorang iman "menjadi sempurna dan berbuah, berlimpah dalam kebenaran" ( "Lectures on Faith," hlm. 65-66; lihat Lectures on Faith).
Para pemulihan Injil di zaman modern ini diprakarsai oleh suatu tindakan iman oleh Joseph Smith muda. Membaca Alkitab, ia terpukau oleh dorongan dari James untuk semua yang kurang hikmat bahwa mereka harus "bertanya dalam iman, tidak bimbang" (Yakobus 1:6).Penglihatan yang datang kepada Joseph Smith untuk menjawab doa-doanya (lihat Visi Joseph Smith) adalah bukti bahwa doa adalah "jawab menurut [kita] iman" (Mosia 27:14) Meskipun Tuhan berkenan untuk memberkati anak-anaknya, dia "pertama, [mencoba] iman mereka, ... maka akan hal-hal yang lebih besar akan dinyatakan" (3 Nefi. 26:9). Tetapi akan ada "tidak ada saksi sampai setelah sidang imanmu" (Eter 12:6), dan "tanpa iman Anda bisa berbuat apa-apa" (A & P 8:10)."Tanda-tanda datang oleh iman, bukan oleh kehendak manusia" (A & P 63:10). Karena iman melibatkan bimbingan Roh Kudus untuk individu, hal itu membawa mereka dengan tangan tak terlihat untuk "kesatuan dari iman" (Ef. 4:13). Demikian pula, iman telah digambarkan sebagai bagian dari salah satu baju besi, melayani sebagai "dada iman dan kasih" (1 Tesalonika. 5:8) dalam melindungi umat dari yang jahat.
Senin, 11 Januari 2010
IMAN DAN ALLAH
UNGKAPAN DAN PENGHAYATAN IMAN
HIDUP BERIMAN
Iman dapat diibaratkan sebagai hubungan cinta antara dua orang manusia. Meskipun cinta itu menyangkut perasaan hati seseorang yang bersifat pribadi, namun apabila tidak diungkapkan tidak akan berdampak apa-apa.
Begitupun halnya dengan hubungan antara manusia dengan Tuhan. Iman adalah hubungan cinta antara manusia dengan Tuhan. Manusia menyerahkan seluruh hidunya kepada Tuhan, karena manusia mengalami dirinya dicintai oleh Tuhan. Dalam hubungan itu manusia secara pribadi mengungkapkan segala perasaan dan hasrat hatinya kepada Tuhan melalui bermacam ungkapan, antara lain dengan doa dan ibadat. Melalui doa dan ibadat, iman yang merupakan sikap hati seseorang yang bersifat pribadi dapat diungkapkan secara langsung kepada Tuhan. Namun sikap dasar hatinya, penghayatannya harus ada. Tanpa sikap dasar hati atau penghayatan tersebut, ungkapan menjadi kosong dan tidak berarti. Jadi iamn tanpa ungkapan atau penghayatan merupakan ungkapan yang tidak bermakna. Di samping ungkapan dan penghayatan iman harus diwujudkan secara nyata dalam tindakan. Ungkapan-ungkapan dalam bentuk doa atau ibadat memang perlu. Demikian juga sikap dasar hati atau penghayatannya. Tetapi semua memang perlu diwujudkan dalam tindakan nyata, yang menjadi ukuran kedalaman iman seseorang juga tindakannya.
Iman tanpa ungkapan atau pernyataan secara langsung adalah Iman yang semu; ungkapan tanpa dasar hati atau penghayatan merupakan ungkapan yang tidak bermakna. Di samping ungkapan dan penghayatan iman harus diwujudkan secara nyata dalam tindakan. Dalam iman memang terdapat segi-segi yang bersifat rahmat, misteri , pribadi. Namun karena manusia hidup dalam dunia nyata maka kehidupan imannya harus menjadi nyata pula.
Ada tiga segi yang menentukan dinamika hidup orang beriman yaitu:pengetahuan atau pemahaman, perayaan atau ungkapan dan penghayatan atau perwujudan. Segi-segi dalam iman tersebut senantiasa menuntut orang beriman tidak saja tahu tentang iman akan tetapi lebih mampu dan mau mengungkapkan iman serta menghayatinya secara konkret dalam hidup sehari-hari.
Untuk bisa menyerahkan dirinya kepada Tuhan manusia harus mengembangkan kemampuan dalam dirinya yaitu:
1. Pikiran : Manusia mampu berpikir, mengerti dan merasakan bahwa Tuhan itu ada.
2. Perasaan : Manusia merasakan bahwa Tuhan itu baik
3. Kehendak : Manusia terdorong untuk melakukan tindakan
4. Tindakan : Merupakan wujud dari kehendak manusia
Masing-masing kemampuan salaing kait mengkait dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Orang beriman yang baik mengetahui dan memahami kebenaran yang terkandung dalam iman itu; kemudia mengolah dan menghayatinya dalam hati; mengungkapkannya melalui doa atu ibadat; akhirnya mewujudkannya dalam tindakan nyata sehari-hari.
Iman adalah sumber energi jiwa manusia yang senantiasa memberikan kekuatan untuk bergerak menebar amal, kebenaran, kasih sayang dan keindahan dalam setiap inci kehidupan, sekaligus berupaya dengan sekuat tenaga bergerak mencegah kejahatan dan kerusakan dipermukaan bumi. Iman adalah gelora yang memberi inspirasi kepada pikiran-pikiran manusia, yang pada gilirannya melahirkan mind setting atau akal yang kuat. Karena iman adalah cahaya yang menerangi dan melapangkan jiwa, yang menjalar keseluruh tubuh yang kemudian melahirkan gairah/spirit atau semangat yang menggelora. Iman menentramkan perasaan/hati, menguatkan tekad dan menggerakkan raga yang melahirkan takwa.
Iman dapat mengubah individu menjadi baik, dan bila kebaikan setiap individu menjalar dalam kehidupan masyarakat, maka masyarakat menjadi erat dan dekat; yang kaya di antara mereka menjadi dermawan, yang miskin di antara mereka adalah menjaga kehormatan dan harga diri, yang berkuasa di antara mereka adalah adil, yang pintar di antara mereka adalah pemberi pencerahan dan rendah hati, yang bodoh di antara mereka adalah para pembelajar (suka belajar), dan yang kuat di antara mereka adalah penyayang. Maka ibadah mereka menjadi sumber kesalehan dan kedamaian. Ilmu pengetahuan dan kekuasan mereka, adalah sumber kekuatan dan kemudahan. Kesenian mereka adalah budaya yang menjadi sumber inspirasi dan semangat kehidupan.
UNGKAPAN IMAN
Seperti juga dalam relasi antara manusia dengan manusia maka dalam relasi antara manusia dengan Tuhan, manusia diungkapkan melalui berbagai sarana atau simbol baik dalam doa, ibadat maupun perayaaan-perayaan keagamaan. Ungkapan iman bisa berbentuk pujian, permohonan ataupun pernyataan. Manusia dalam ungkapan imannya dapat menggunakan cara atau tindakan yang dilakukan oleh seorang petugas resmi dengan mempergunakan benda-benda peralatan, perlengkapan tertentu serta pakaian tertentu pula. Relasi manusia dengan Tuhan akan lebih nyata jika manusia tidak hanya menggunakan sapaan Allah melalui ungkapan iman tetapi memberikan jawaban yang berasal dari penghayatan diri dalam relasinya berupa tindakan yang nyata.
PENGHAYATAN IMAN
Relasi manusia dengan Allah menjadi lebih nyata jika tidak hanya dengan mengungkapkan imannya tetapi juga perwujudan dalam hidup sehari-hari, lewat perbuatan moral.
Yang mendasari seluruh perbuatan kita adalah semangat kristiani yang bersumber pada Yesus Kristus
Ajaran Yesus dalam mewujudkan iman:
a. Kita melakukan perbuatan baik yang berkenan kepada Allah bukan hanya didasaran pada perkataan saja
b. Kita harus mau mencintai secara radikal, maksudnya dengan sepenuh hati
c. Kita juga harus mencintai musuh-musuh kita
d. Tindakan baik itu perlu diwujudkan bagi sesama yang lemah, hina, miskin dan tak berdaya
PAHAM MENGENAI ALLAH
Kita mulai dari hakekat ALLAH atau TUHAN atau apalah sebutannya. Dalam setiap agama setuju akan hakekat ALLAH antara lain sebagai MAHA KASIH, MAHA PENYAYANG, MAHA MELINDUNGI.
Allah mengasihi semua manusia, dan Ia memberikan kasih yang lebih pada mereka yang lemah, yang berkekurangan, yang tersingkirkan. Allah menyayangi semua manusia, dan Ia memberikan kasih sayang yang lebih kepada mereka yang kekurangan kasih sayang. Allah melindungi semua manusia, dan Ia memberikan perlindungan yang lebih besar pada mereka yang teraniyaya, tertindas, terancam. Demikian ALLAH disebut MAHABAIK.
Itu adalah paham-paham dasar mengenai ALLAH.Kalau paham itu diterima, kita melanjutkan pada pemikiran berikut:
Hubungan manusia dengan ALLAH.
Hubungan manusia dengan ALLAH adalah bersifat pribadi. Dalam hubungan itu manusia mengakui/menerima atau menolak sifat-sifat ALLAH tersebut.
Pengakuan/penerimaan manusia akan sifat-sifat ALLAH di atas disebut IMAN. Iman ini terwujud dalam dua tindakan: yaitu dalam pengakuan dan relasi intim manusia dengan ALLAH (doa,dll) dan tindakan manusia terhadap manusia dan alam (pengejawantahan sifat-sifat Allah).
Agama
Oleh seseorang iman tersebut diajarkan pada orang lain dalam suatu masyarakat. Masyarakat dengan sejuta komplexitasnya. Mereka yang menerima ajaran itu dan melaksanakannya juga meneruskan ajaran itu.
Demikian iman itu menjadi tersebar. Namun karena kepala tidak lagi satu, hati juga berbeda, membuat pemahaman dan penangkapan kadang juga berbeda. Demikian juga mengenai ide-ide pengembangannya. Sejalan dengan itu, selain isi ajaran iman, dirasa perlu adanya aturan, dan aturan itu mengikat mereka sebagai kelompok yang sepaham. Demikianlah secara sederhana lahir sebuah institusi, yang oleh kita sekarang disebut agama.
Inti iman dan aturan
Ketika suatu agama itu terbentuk lalu ada dua hal yang diteruskan/diwariskan/diajarkan. Kedua hal itu adalah inti iman dan aturan. Fungsi aturan dalam agama tidak lebih tinggi dari atau sama dengan iman, melainkan berfungsi melayani iman dan manusia, agar kedua perwujudan iman, baik dalam relasi dengan ALLAH maupun dengan sesama/alam dijalankan dengan sama baiknya. Dengan kata lain, aturan tidak boleh bertentangan dengan inti iman. Pemeluk agama itu juga tidak mengabdi pada aturan melainkan pada Allah yang diimaninya.
Pelaksanaan Iman
Iman dalam tataran hubungan pribadi dengan ALLAH tak berpengaruh pada dunia. Namun sebagai orang beriman, manusia ingin mewujudkan imannya itu dalam suatu tindakan konkrit keseharian dalam hubungannya dengan dunia, dengan manusia lain dan alam. Dengan demikian imannya menjadi nyata.
Nah, apa yang diwujudnyatakan dalam keseharian ini adalah apa yang diperolehnya dari "sumber" imannya, yaitu ALLAH. Apa yang diperolehnya dari ALLAH adalah pengalaman pribadinya, antara lain pengalaman di-KASIH-i, di-SAYANG-i dan di-LINDUNG-i oleh ALLAH. Dengan kata lain sebenarnya seorang beriman dalam kesehariannya mewujudkan sifat-sifat KEALLAHAN. Itu sebabnya manusia disebut ciptaan "imago Dei", secitra dengan ALLAH, karena manusia memiliki sifat-sifat keAllahan itu.
Moral dan Aturan Agama
Sifat-sifat ke-Allah-an itu sudah ada dalam diri manusia sejak belum adanya agama. Adanya kemampuan membedakan perbuatan baik dan jahat yang terus berkembang di dalam masyarakat, dan kemudian disebut ajaran moral, adalah bukti dari keberadaan sifat-sifat ke-Allah-an itu.
Hindarilah/jauhkanlah yang jahat dan buatlah yang baik, demikianlah moral mengajarkan. Ketika perbuatan jahat dilakukan, pemeluk agama terkena hukuman yang ada dalam aturan agama itu.
PERTANYAAN MUNCUL KETIKA KITA DIHADAPKAN PADA DUA PILIHAN YANG HARUS MENGAMBIL SALAH SATU DI ANTARA 2:
Menurut moral kedua perbuatan baik, mana yang didahulukan atau direkomendasikan untuk dilaksanakan? Dari segi aturan agama: aturan tidak melarang dan juga tidak menganjurkan. Lalu apa dasar untuk mengambil keputusan terakhir?
Dasarnya ada pada IMAN, yaitu iman akan ALLAH yang MAHA PENGASIH, MAHA PENYAYANG, MAHA MELINDNGI. Dasar-dasar tsb. dalam perwujudannya tidak diukur dari SUBYEK PELAKU, melainkan dari ORANG LAIN YANG TERKENA (OBYEK).
Maka dalam mengukurnya:
BUKAN DENGAN PERNYATAAN : AKU MENGASIHI, MENYAYANGI, MELINDUNGI KAMU, melainkan DENGAN PERTANYAAN: APAKAH KAMU MERASA DIKASIHI, DISAYANGI dan LINDUNGI OLEH AKU?
Nah, kalau orang lain (siapa saja) yang terkena perbuatan itu tetap merasa bahwa dia dikasihi, disayangi, dilindungi, keputusan dapat diambil: lakukan. Namun kalau sebaliknya, maka sebaiknya pikirkan kembali/batalkan keinginan itu. Dan kadang di sinilah, dari subyek beriman tadi dituntut sikap rela berkorban, yaitu mengorbankan keinginan diri demi kasih, sayang dan perlindungan bagi orang lain (yang mungkin merasa tidak dikasihi, disayang, dilindungi lagi kalau keputusan diambil demi memenuhi keinginan diri sendiri).
Kalau orang-orang beragama itu menentukan pilihannya berdasarkan pertimbangan di atas, saya yakin pilihannya itu akan benar. Jadi, agama menjadi institusi tertinggi sebagai penentu kebenaran BUKAN pertama-tama karena aturannya, melainkan karena PERWUJUDAN DARI INTI IMANNYA, yang mengejawantahkan sifat-sifat KEALLAHAN ALLAH yang antara lain MENGASIHI, MENYAYANGI dan MELINDUNGI. Demikianlah agama menjadi sumber pembawa damai di dunia ini, karena orang lain merasa (bukan agama itu sendiri yang merasa), karena kehadiran agama itu, orang lain merasa dikasihi, disayangi, dilindungi.
Demikian juga dalam hal penafsiran ajaran dan aturan agama. Penafsiran suatu ajaran agama sebenarnya lebih rumit karena banyak aspek yang harus diperhitungkan(sosial, budaya,politik, belum lagi masalah kritik teks Kitab Suci/ajaran yang sudah ribuan tahun itu). Namun intinya juga sama, bahwa apa yang ditafsirkan ditujukan untuk dilaksanakan/diwujudkan. Dalam perwujudan ini lalu terlihat, apakah tafsiran itu benar atau tidak, yaitu dari apakah inti iman yang
terwujudnyatakan ataukah hanya keinginan diri sendiri. Tafsiran dikatakan sesat, sebetulnya bukan karena aturan agama, melainkan karena inti iman menjadi tidak terwujud atau malah diselewengkan akibat tafsiran itu. Penyelewengan ini lebih sesat lagi, kalau atas nama agama lalu dilegitimasikan/disakralkan dan dipelihara.
RELASI ANTARA IMAN DENGAN ALLAH
Dalam Perjanjian Lama, Ayub terkenal sangat saleh (dua kali Allah mengakuinya, 1:8; 2:3) tetapi amat menderita. Sebuah kombinasi paradoksal yang menyakitkan bagi si subjek pengalaman. Sebuah masalah abadi manusia terutama yang beriman akan Allah monoteis. Penderitaan Ayub amat total. Dia berada dalam situasi batas daya kemampuan, di tepi batas eksistensi. Ia mengalami kebuntuan eksistensial. Empat relasi fundamental manusia buntu total. Keempat relasi itu ialah: relasi dengan Allah (dimensi teologis-vertikal), relasi dengan sesama, relasi dengan alam, relasi dengan diri sendiri (dimensi etis-kosmis-horizontal). Seakan bagi Ayub, tidak ada jalan keluar, no exit (Sartre).
Ada enam alasan untuk mengatakan bahwa derita Ayub sangat total serta menggoncangkan sendi dasar eksistensi, keyakinan iman dan moralnya. Derita Ayub adalah derita eksistensial.
Pertama, ia kehilangan anak-anaknya dalam peristiwa dahsyat alam dan kebengisan manusia yang seakan merangsek struktur dasar bangunan kesalehan iman dan moralnya (1:18-19).
Kedua, ia kehilangan hewannya, juga akibat peristiwa dahsyat alam dan kebengisan manusia yang seakan merangsek keyakinan moral-etis Ayub (1:16-17).
Ketiga, ia kehilangan “property” (rumah) dan ladang juga akibat kedahsyatan yang sama (1:18-19).
Keempat, ia “kehilangan” isterinya (2:9; ditulis dalam tanda kutip karena yang dimaksudkan bukan kehilangan secara jasmaniah atau meninggal melainkan kehilangan secara rohaniah dan imani). Akibat peristiwa beruntun seperti arus sungai yang mengalir tiada hentinya itu, sang isteri kehilangan imannya. Ia sulit lagi percaya pada Allah. Tragisnya, peristiwa kehilangan iman personal ini diusulkannya tanpa tedeng aling-aling sebagai jalan keluar bagi Ayub dari absurditas dan kebuntuan derita. Si isteri menyeret Ayub ke dalam kehilangan paling tragis hidup manusia: kehilangan iman akan Allah; kehilangan Allah, ateisme praktis (2:9). Allah telah mati, seperti deklarasi lantang Nietschze. Tetapi, Ayub tidak atau lebih tepat belum sampai di sana.
Kelima, Ayub kehilangan kesehatan jasmaninya; seluruh tubuhnya kena borok (2:7-8; bdk Hamba Yahwe - Yes 53). Padahal kesehatan adalah modal untuk membangun hidup yang baik dan layak. Modal itu kini hilang.
Kesehatan adalah modal untuk membangun rasa percaya dan harga diri dalam relasi sosial. Akibat kejelekan tampang jasmani, Ayub bahkan kehilangan hak-hak sosialnya yang paling mendasar (19:7).
Sering orang menilai kesehatan sebagai pangkal kehormatan dan martabat diri. Kesehatan membuat orang tidak minder; orang bisa percaya diri karena sehat, optimistis memandang masa depan, dan menilai diri sendiri. Karena seluruh badannya terkena borok, maka tidak ada lagi yang bisa dibanggakan. Orang bahkan takut dan jijik memandangnya (19:12-19). Kaki kena borok, sehingga tidak bisa berdiri untuk menunjukkan eksistensi dan membuktikan keluasan daya jangkau optik-nya, suatu hal yang menurut paham antropologi filsafat, membedakan manusia dari binatang. Wajah terkena borok. Dia tidak bisa lagi menghadapi orang dengan percaya diri. Bahkan kulit kepala pun kena borok. Padahal kenyamanan tidur dan berbaring antara lain ditentukan oleh kenyamanan kulit kepala. Jadi, dalam tidur pun Ayub tidak mendapat kenyamanan; suatu yang hal yang sangat penting bagi kesehatan badan dan jiwa. Ayub pun terlemparlah dalam situasi awali: ke dalam kotak abu. Ini simbolisme betapa dia sudah tiba di ambang tapal batas perjalanan kembali ke asal-usul: debu dan abu. (Ada yang menafsirkan ini sebagai simbolisme adat ratapan Yahudi). Dia terlempar dalam keterasingan. Dia sendirian di sana (2:8).
Keenam, Ayub kehilangan sahabat (6; 19:19). Fungsi persahabatan ialah memberi hiburan rohani dan pastoral bagi sahabat yang menderita. A friend in need is a friend indeed. Kedatangan ketiga sahabatnya, justru tidak membuat Ayub mendapat keringanan beban psikologis-rohaniah. Kedatangan mereka justru mendatangkan beban baru. Menurut keyakinan Ayub, dirinya sama sekali tidak bersalah. Bahwa dia menderita, itu adalah tanda bahwa Allah keliru dalam memperlakukan dirinya; bagi Ayub, penderitaannya adalah bukti ketidak-adilan Allah dalam memerintah sejarah, kosmos dan anthropos. Menurut ketiga teman, derita Ayub adalah bukti mutlak bahwa dia berdosa. Penderitaan adalah hukuman yang hanya diberikan kepada pendosa. Karena itu Ayub pasti berdosa. Bahkan pendosa berat. Jalan satu-satunya untuk keluar dari masalah rumit ini ialah bertobat. Dengan tobat masalah selesai. Dengan tobat tatanan yang benar akan terlaksana dengan sendirinya; itu yang akan mendatangkan hukumnya. Ayub merasa tidak mungkin bertobat, karena merasa tidak bersalah.
Menyetujui tobat, berarti mengaku bahwa dia berdosa. Bahkan ketika Elifas mengartikan derita sebagai pendidikan dalam rangka membujuk Ayub agar melunakkan sikap moral-teologisnya, Ayub tetap tidak mau menerimanya, karena tujuan pendidikan ialah mengubah orang ke arah yang lebih baik. Mengubah, perubahan: metanoia. Nah, itu lagi. Jadi, Ayub tetap tidak mau. Jalan pun buntu.
Tetapi di hadapan kebuntuan eksistensial itu timbul pertanyaan: Apakah sama sekali tidak ada jalan keluar? Apakah No Exit itu final? Tidak! Sebab bagi Ayub terbentanglah EMPAT jalan keluar yang dapat ditempuh entah dengan petunjuk orang lain atau dengan keputusan sendiri.
Pertama, Ayub bisa menempuh jalan nausea (rasa muak) seperti diajukan Sartre: memandang hidup sebagai memuakkan, membosankan. Orang memuntahkan isi perutnya karena tidak betah hidup. Bosan hidup. Ujung jalan ini ialah bunuh diri karena putus-asa, tidak melihat lagi peluang dan fajar optimisme dan harapan dalam hidup ini. Ini jalan keluar yang pernah diusulkan A.Schopenhauer. Sebuah jalan salib melankolik, yang tidak mau ditelusuri sampai akhir, melainkan menyimpang ke luar dan mencari titik akhir segera. Ayub 3 adalah keluh kesah Ayub yang menyiratkan kemuakan terhadap hidup. Hidup itu memuakkan sehingga Ayub mengutuk hari lahirnya (3:3-16). Tetapi Ayub tidak mau menempuh jalan itu. Kendati muak, kendati pesimis, kendati mengalami melankoli kelam, dia segera keluar dari sana. Dia tidak menganggap hal itu sebagai jalan keluar yang layak.
Kedua, Ayub pun bisa menempuh jalan Ateisme seperti usul isterinya: “Masih bertekunkah kau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” (2:9). Atas dasar ayat ini St.Agustinus dan Yohanes Calvin menyebut wanita sebagai organum Satanae dan diaboli adjutrix. Itu karena isteri Ayub menempuh jalan yang sama seperti Setan dalam Kej 3:1; di sini Setan membalikkan ucapan Tuhan dalam 2:16-17. Sama seperti manipulasi ucapan Allah oleh Setan, demikian juga isteri Ayub memanipulasi ucapan Allah dalam 2:3 sehingga menjadi terbaca seperti dalam 2:9. Jalan keluar yang diusulkan si isteri ialah jalan ateistik. Suatu via et vita atheistica. Ayub tidak mau menempuh hal itu. Dia condong kepada via et vita theistica bahkan aesthetica. Jauh di kemudian hari, ateisme yang timbul karena derita dan ketidak-adilan ada juga dalam A.Camus. Ia menolak Allah karena derita terutama derita orang yang tak bersalah. Dalam Sampar (La Peste) Camus yang mendramatisir ateisme ini. Camus tidak dapat mendamaikan warta tentang Allah yang mahabaik, mahakasih, dan mahaadil, dengan fakta derita-tragis manusia.
Elie Wissel pun – dalam Malam – berada di ambang gerbang ateisme itu juga, ketika dia menghadapi absurditas kekejaman Nazi dengan kamp konsentrasinya. Dia merasa imannya akan Allah seperti yang diwahyukan Kitab Suci (mahabaik, mahaadil, mahakasih) telah “terbakar” dan hilang dalam asap hitam pekat yang keluar dari cerobong asap tungku pembakaran orang Yahudi. Masih cukup banyak kaum ateisme-praktis seperti itu hari-hari ini di sekitar kita, walau kehadiran mereka diam-diam. Jalan ini pun dengan tegas ditolak Ayub seperti tampak dari jawabannya kepada si isteri: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.” (2:10)
Ketiga, selain naussea dan ateisme, Ayub pun bisa menempuh dogmatisme teori pembalasan di bumi (retributive-theory). Teori ini mengatakan bahwa semua perbuatan baik manusia akan diberi pahala. Sedangkan perbuatan buruk akan diberi hukuman setimpal. Jalan dogmatisme ini dianut ketiga sahabat Ayub; juga dianut si pemuda Elihu (bab 32-37). Menurut mereka, penderitaan Ayub adalah bukti kejahatan Ayub; sekarang kejahatan (dosa) Ayub itu dihukum setimpal (bab 4, 8). Satu-satunya cara pemulihan dan keselamatan ialah tobat (bab 11, 15, 18, 20, 22, 25). Tetapi seperti sudah dikatakan di atas Ayub tidak dapat bertobat karena merasa tidak berdosa (bab 13, 16, 17). Toh kalau dia berdosa, dia menganggap hukuman itu melebihi dosanya. Bahwa dogmatisme teori ini juga dianut oleh Elihu, itulah pertanda bahwa kekakuan dan otomatisme teori seperti ini tidak hanya menghinggapi kaum tua saja, melainkan juga merasuki generasi muda. Fakta ini menjelaskan bahwa teori seperti ini tidak dapat diabaikan. Sebab dia dengan mudah dapat ditularkan kepada generasi yang akan datang dan dengan itu mudah dilestarikan juga. Ayub juga menolak jalan ini.
Dalam prolog Ayub (1-2) sudah ada sikap iman Ayub terhadap derita. Kedua jawaban itu merupakan jalan keluar bagi Ayub. Ketika ditimpa kemalangan pertama, yang dilakukan Ayub bukannya mengutuk Allah melainkan memuji Allah karena Dia bebas dalam kedaulatan ilahinya; tidak terpengaruh oleh kesalehan Ayub; kesalehan Ayub tidak dimaksudkan untuk menjalin relasi iman do-ut-des dengan Allah. Ketika ditimpa kemalangan kedua, Ayub tidak ikut-ikutan mengutuk Allah seperti si isteri. Tetapi kedua jawaban itu menjadi mentah kembali karena derita. Maka yang ditinjau lebih jauh ialah jalan seperti tampak dalam seluruh dialog yang bermuara pada teofani. Kalau ketiga jalan di atas tadi ditolak Ayub, maka dia mencoba menempuh jalan sendiri. Jalan yang dia tempuh, keempat, ialah pemberontakan.
Pemberontakan bisa dipahami dalam arti yang sebenarnya. Ayub memberontak terhadap fakta dan situasi yang dialaminya. Dalam bahasa halusnya, Ayub “mengeluh” tentang situasi di sekitarnya dalam empat tahap keluhan: mengeluh tentang nasib malangnya, mengeluh tentang ketiga sahabatnya, mengeluh tentang Allah di hadapan ketiga Teman, dan akhirnya mengeluh langsung kepada Allah dalam ratap tangis yang menyayat hati. Dalam artian negatif, itulah makna jalan pemberontakan Ayub. Dengan memberontak dia melawan ketiga temannya. Dengan memberontak dia menyatakan perlawanannya terhadap jalan dogmatisme dan otomatisme teori pembalasan ketiga teman.
Jalan pemberontakan itupun dapat dipahami secara positif, sebagai upaya yang berani dan heroik untuk mencari pengalaman religius, pengalaman Allah, pengalaman estetis-mistik original. Lewat pemberontakan dia menerobos ke dalam kekelaman misteri Allah. Allah itu tidak serba terang. Allah juga serba gelap, serba misteri, terselubung. Allah itu bak tembok hitam, dingin, beku, dan bisu. Jadi, jalan pemberontakan Ayub ini adalah upaya yang oleh pemikir religius modern disebut sebagai upaya menemukan iman induktif (lawan dari iman deduktif yang ditawarkan dalam jalan ketiga, jalan dogmatisme teori pembalasan). Seakan Ayub berkata kepada diri sendiri, “aku mau menerobos misteri ini, supaya aku punya pengalaman pribadi dan orizinal akan dia, dan dengan itu aku punya dasar kokoh untuk berbicara tentang misteri itu.” Jalan pemberontakan itulah yang ditempuh Ayub dalam seluruh Kitab. Pemberontakan Ayub itu panjang dan melelahkan. Ada banyak tantangan. Saya berani berkata Ayub sesungguhnya sudah menjadi martir dari proses lika-liku pemberontakan itu.
Jalan pemberontakan itu memuncak dalam tantangan terakhir Ayub yang sangat berani, yang nekat mempersoalkan keadilan dan kemampuan Allah mengatur kosmos dan anthropos. Jalan itu bermuara dalam teofani dahsyat (Ayb 38). Lewat pemberontakan, Ayub sampai ke teofani. Di sana dia mengalami Allah secara langsung; pengalaman yang sangat personal dan orizinal, amat mengesankan dan sekaligus serba baru; baik dibandingkan dengan pengalaman Allahnya sendiri di masa silam, maupun pengalaman Allah kolektif bangsa Israel, maupun jika dibandingkan dengan jalan ateisme sang isteri dan dogmatisme ketiga sahabat. Kesan pengalaman baru itulah yang menjelaskan mengapa Ayub dalam teofani berani membagi seluruh hidupnya dalam dua tahap: pra dan pasca teofani. tonggak teofani adalah titik puncak tahap pertama sekaligus titik awal tahap kedua. Kata Ayub: “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” (42:5).
Ayub berpindah dari sumber pengetahuan tangan kedua (kata orang), ke sumber pengetahuan tangan pertama (langsung; mataku sendiri).
Drama tragis pengalaman hidup Ayub menawarkan beberapa butir penting bagi hidup dan iman. Pertama, bahwa dalam kesulitan hidup dan iman orang tidak boleh dengan sangat mudah terjerumus dalam upaya mencari jalan serba-gampang. Ini amat mudah dilakukan; sebab toh jaman sudah menampilkan kultur dan mentalitas serba-instan. Kedua, dalam hidup dan iman pengalaman langsung dan personal amat penting. Pengalaman itulah yang menentukan mutu iman dan komitmen. Ini juga penting sebab iman adalah tanggapan personal. Dia tidak sekadar dogmatis belaka. Ketiga, jalan pemberontakan adalah juga jalan positif dan karena itu perlu diapresiasi. Pemberontakan adalah bukti transendensi manusia. Jadi, Ayub memberontak dan akhirnya bermuara pada iman. Iman seperti ini akan menjadi iman yang matang, dewasa, dan tenang, karena dicapai lewat jalan induktif, pencarian langsung dan personal. Sekali lagi: Ayub beriman dengan memberontak.
PRIORITAS HUBUNGAN KITA DENGAN ALLAH
1. ”HUBUNGAN” ALLAH - MANUSIA
Keluaran 33:12 : Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: "Memang Engkau berfirman kepadaku: Suruhlah bangsa ini berangkat, tetapi Engkau tidak memberitahukan kepadaku, siapa yang akan Kauutus bersama-sama dengan aku. Namun demikian Engkau berfirman: Aku mengenal namamu dan juga engkau mendapat kasih karunia di hadapan-Ku (penekanan ditambahkan) Penjelasan ayat: Musa mengatakan bahwa Allah pernah berfirman bahwa Ia “mengenal” Musa. Kata Ibrani yang dipergunakan disini ialah yªdª yang artinya mengenal dengan sangat baik (to know by experience). Dalam ayat ini terkandung beberapa makna dari hubungan Allah dengan manusia:
a. Allah menempatkan manusia sebagai ciptaan (essence, destiny), hamba, umat, anak (status), tetapi dalam saat yang sama manusia dianggap sebagai sejajar dalam komunikasi (I & Thou bukan I & I – walaupun sedang berkomunikasi dengan lawan bicaranya namun pikiran dan perasaannya tertutup mendengarkan apa yang sedang dikomunikasikannya; atau bukan pula I & It) – bnd. Konsep Martin Buber yang menjelaskan bahwa manusia menemukan makna hidupnya melalui komunikasi yang dialogis.
b. Kualitas hubungan yang Allah berikan dicontohkan Allah sendiri dengan mempergunakan sebuah pengenalan yang dalam (bnd. Yada). Hal itu bukan karena potensi Allah sendiri yang Mahatahu tetapi Ia sendiri sudi untuk mengenal manusia.
c. Pengenalan Allah bukan saja dalam tetapi juga bersifat pribadi sekalipun itu dalam sebuah rencana skala bangsa seperti Israel misalnya.
d. Allah menginginkan hubungan-Nya dengan manusia bersifat konsisten dan dinamis sehingga Ia melakukan beberapa cara:
1. Membuat perjanjian dengan manusia yang berkembang secara evolutif (berit) – “jangan ada ilah lain” (Kel 20:3).
2. Memanggil dan memilih orang-orang pilihan-Nya: bapa leluhur, nabi, imam, hakim, raja, untuk menjadi orang yang menjaga sekaligus mengingatkan perjanjian itu. Bahkan pada akhirnya Ia mengutus Anak-Nya sendiri agar manusia tetap memiliki relasi dengan-Nya.
3. Menghadirkan Kitab Suci sebagai media komunikasi dan sekaligus menjabarkan di dalamnya bagaimana Allah sendiri menjamin bahwa Ia setia mengikat perjanjian dengan manusia, dan bagaimana Kitab Suci juga mengajarkan kepada manusia bagaimana menjaga perjanjiannya dengan Allah.
4. Menyuruh manusia untuk membuat peribadahan kepada Allah yang diturunkan turun-temurun.
5. Memakai berbagai paradigma relasional untuk menjelaskan kekayaan komunikasi- Nya: Pencipta-Ciptaan, Tuan-Hamba, Allah-Umat, Raja-Warga, Bapa-Anak, Mempelai Laki-laki-Mempelai Wanita, Pokok Anggur-Carang, Gembala-Domba, dll.
6. Memberitahukan dengan jelas bahwa penghalang bagi hubungan-Nya dengan manusia dapat rusak terganggu bila manusia melakukan dosa (pelanggaran atau pemberontakan), bnd. Yes 59:1-2.
7. Mengutus Roh Kudus yang memungkinkan terjadinya komunikasi yang dialogis spiritual Allah-manusia dan sebaliknya (Roma 8:26-27).
MANUSIA-ALLAH
Allah Menghendaki Hubungan Timbal Balik. Dalam proses sebaliknya Allah menuntut manusia juga mengenal Dia (relasi mutualisma). Kata yang dipergunakan sama walaupun hakikat manusia berbeda dengan Allah. Mazmur 9:10 (9-11) Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN. Pemazmur meyakini bahwa manusia yang mengenal Allah memiliki iman kepada Allah. Dengan kata lain pengenalan yang makin mendalam akan menghasilkan iman yang makin mendalam pula.
Pengenalan Terhadap Allah Mendatangkan Kebaikan. Penolakan terhadap pengenalan hanya akan membawa pada sebuah malapetaka. Salah satu teologi yang dikembangkan dalam kitab Hosea adalah mengenal dengan benar Allah yang penuh dengan kasih setia. Hosea 4:6 ¶ “Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu.” Hosea 6:1-3 ¶ "Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN, sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita. 2 Ia akan menghidupkan kita sesudah dua hari, pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup di hadapan-Nya. 3 Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi."
PRIORITAS
Kata “prioritas” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti “yang didahulukan dan diutamakan dari pada yang lain”. Longman Dictionary: 1 the thing that you think is most important and that needs attention before anything else: 2 [uncountable] the right to be given attention first and before other people or things 3 to know what is most important and needs attention first.
Sebagai manusia tentunya kita akan menempatkan Allah dalam porsi segala-galanya, namun penerjemahannya tidak boleh ekstrim atau hurufiah yang berdampak pada kesulitan mengoperasionalkan apa yang kita yakini. PRIORITAS KEPADA ALLAH MUTLAK Allah sendiri yang mengajarkan kepada kita tentang prioritas itu: Keluaran 20:3 “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” Ayat ini secara jelas mencerminkan bagaimana Allah menuntut prioritas manusia hanya kepada-Nya dan tidak kepada siapapun di luar diri-Nya. Apapun yang menggeser posisi Allah adalah ilah. Kis 5:29 Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia. Galatia 1:10 Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.
PRIORITAS KEPADA ALLAH MENUNTUT KEBERANIAN, PENGORBANAN. Kasus Wanita Yang Mengurapi Kaki Yesus (Yoh 12:3); Maria dan Martha Luk 10:38-42. PRIORITAS KEPADA ALLAH BUKAN HANYA PADA NIAT TETAPI JUGA PADA PELAKSANAAN. Kasus Anak Yang Berkata Ya tetapi Tidak Melaksanakan (Mat 21:28-32) PRIORITAS KEPADA ALLAH MEMERLUKAN DISIPLIN. Markus 1:35; Yoh 2:4. PRIORITAS KEPADA ALLAH PERLU DITERJEMAHKAN SECARA BERIMBANG..
Prioritas kepada Allah tidak berarti menggeser prioritas kita yang lain: Kasus Memberi Persembahan Pada Allah tetapi masih berseteru – Mat 5:23-26. Kasus Hari Sabat – Matius 12:1-13. Kasus Membayar Pajak Kepada Kaisar – Matius 22:15-22. Kasus Orang Samaria Yang Baik Hati – Luk 10:25-37 Kasus Pelayanan Diakonia dalam Kisah Para Rasul – Kis 6:1-7. Ada 2 kesalahan:
1. Prioritas kepada Allah digeser sedemikian rupa sampai Ia tidak mendapat tempat sama sekali.
2. Prioritas kepada Allah menggeser habis prioritas manusia lainnya mengakibatkan Ia seperti tinggal dalam gua.
SALAH SATU PRIORITAS KEPADA ALLAH DITUNJUKKAN MELALUI ADANYA WAKTU PRIBADI BERSAMA DENGAN ALLAH.
Contoh konkrit dari sebuah hubungan pribadi dengan Allah adalah melalui apa yang dicontohkan oleh Yesus sendiri kepada manusia (bnd. Markus 1:35: “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana”). Orang yang memiliki waktu pribadi dengan Allah menunjukkan: 1. Orang tersebut mengistimewakan Allah. 2. Orang tersebut mengakui Allah dalam hidupnya. 3. Orang tersebut memiliki kebergantungan dengan Allah. 4. Orang tersebut memiliki sebuah relasi yang akrab dengan Allah.
Pertanyaan apakah prioritas kepada Allah hanya ditunjukkan melalui adanya waktu pribadi bersama Allah? Lalu bagaimana menunjukkan bahwa orang tersebut memprioritaskan Allah?
1. Mengedepankan nilai-nilai yang berasal dari Allah baik secara tersurat maupun tersirat dalam pertimbangannya.
2. Mengakui Dia dalam segala jalan hidup kita sehingga kita selalu meminta pertolongan-Nya (bnd. Yoh 15:5).
HIDUP BERIMAN
Iman dapat diibaratkan sebagai hubungan cinta antara dua orang manusia. Meskipun cinta itu menyangkut perasaan hati seseorang yang bersifat pribadi, namun apabila tidak diungkapkan tidak akan berdampak apa-apa.
Begitupun halnya dengan hubungan antara manusia dengan Tuhan. Iman adalah hubungan cinta antara manusia dengan Tuhan. Manusia menyerahkan seluruh hidunya kepada Tuhan, karena manusia mengalami dirinya dicintai oleh Tuhan. Dalam hubungan itu manusia secara pribadi mengungkapkan segala perasaan dan hasrat hatinya kepada Tuhan melalui bermacam ungkapan, antara lain dengan doa dan ibadat. Melalui doa dan ibadat, iman yang merupakan sikap hati seseorang yang bersifat pribadi dapat diungkapkan secara langsung kepada Tuhan. Namun sikap dasar hatinya, penghayatannya harus ada. Tanpa sikap dasar hati atau penghayatan tersebut, ungkapan menjadi kosong dan tidak berarti. Jadi iamn tanpa ungkapan atau penghayatan merupakan ungkapan yang tidak bermakna. Di samping ungkapan dan penghayatan iman harus diwujudkan secara nyata dalam tindakan. Ungkapan-ungkapan dalam bentuk doa atau ibadat memang perlu. Demikian juga sikap dasar hati atau penghayatannya. Tetapi semua memang perlu diwujudkan dalam tindakan nyata, yang menjadi ukuran kedalaman iman seseorang juga tindakannya.
Iman tanpa ungkapan atau pernyataan secara langsung adalah Iman yang semu; ungkapan tanpa dasar hati atau penghayatan merupakan ungkapan yang tidak bermakna. Di samping ungkapan dan penghayatan iman harus diwujudkan secara nyata dalam tindakan. Dalam iman memang terdapat segi-segi yang bersifat rahmat, misteri , pribadi. Namun karena manusia hidup dalam dunia nyata maka kehidupan imannya harus menjadi nyata pula.
Ada tiga segi yang menentukan dinamika hidup orang beriman yaitu:pengetahuan atau pemahaman, perayaan atau ungkapan dan penghayatan atau perwujudan. Segi-segi dalam iman tersebut senantiasa menuntut orang beriman tidak saja tahu tentang iman akan tetapi lebih mampu dan mau mengungkapkan iman serta menghayatinya secara konkret dalam hidup sehari-hari.
Untuk bisa menyerahkan dirinya kepada Tuhan manusia harus mengembangkan kemampuan dalam dirinya yaitu:
1. Pikiran : Manusia mampu berpikir, mengerti dan merasakan bahwa Tuhan itu ada.
2. Perasaan : Manusia merasakan bahwa Tuhan itu baik
3. Kehendak : Manusia terdorong untuk melakukan tindakan
4. Tindakan : Merupakan wujud dari kehendak manusia
Masing-masing kemampuan salaing kait mengkait dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Orang beriman yang baik mengetahui dan memahami kebenaran yang terkandung dalam iman itu; kemudia mengolah dan menghayatinya dalam hati; mengungkapkannya melalui doa atu ibadat; akhirnya mewujudkannya dalam tindakan nyata sehari-hari.
Iman adalah sumber energi jiwa manusia yang senantiasa memberikan kekuatan untuk bergerak menebar amal, kebenaran, kasih sayang dan keindahan dalam setiap inci kehidupan, sekaligus berupaya dengan sekuat tenaga bergerak mencegah kejahatan dan kerusakan dipermukaan bumi. Iman adalah gelora yang memberi inspirasi kepada pikiran-pikiran manusia, yang pada gilirannya melahirkan mind setting atau akal yang kuat. Karena iman adalah cahaya yang menerangi dan melapangkan jiwa, yang menjalar keseluruh tubuh yang kemudian melahirkan gairah/spirit atau semangat yang menggelora. Iman menentramkan perasaan/hati, menguatkan tekad dan menggerakkan raga yang melahirkan takwa.
Iman dapat mengubah individu menjadi baik, dan bila kebaikan setiap individu menjalar dalam kehidupan masyarakat, maka masyarakat menjadi erat dan dekat; yang kaya di antara mereka menjadi dermawan, yang miskin di antara mereka adalah menjaga kehormatan dan harga diri, yang berkuasa di antara mereka adalah adil, yang pintar di antara mereka adalah pemberi pencerahan dan rendah hati, yang bodoh di antara mereka adalah para pembelajar (suka belajar), dan yang kuat di antara mereka adalah penyayang. Maka ibadah mereka menjadi sumber kesalehan dan kedamaian. Ilmu pengetahuan dan kekuasan mereka, adalah sumber kekuatan dan kemudahan. Kesenian mereka adalah budaya yang menjadi sumber inspirasi dan semangat kehidupan.
UNGKAPAN IMAN
Seperti juga dalam relasi antara manusia dengan manusia maka dalam relasi antara manusia dengan Tuhan, manusia diungkapkan melalui berbagai sarana atau simbol baik dalam doa, ibadat maupun perayaaan-perayaan keagamaan. Ungkapan iman bisa berbentuk pujian, permohonan ataupun pernyataan. Manusia dalam ungkapan imannya dapat menggunakan cara atau tindakan yang dilakukan oleh seorang petugas resmi dengan mempergunakan benda-benda peralatan, perlengkapan tertentu serta pakaian tertentu pula. Relasi manusia dengan Tuhan akan lebih nyata jika manusia tidak hanya menggunakan sapaan Allah melalui ungkapan iman tetapi memberikan jawaban yang berasal dari penghayatan diri dalam relasinya berupa tindakan yang nyata.
PENGHAYATAN IMAN
Relasi manusia dengan Allah menjadi lebih nyata jika tidak hanya dengan mengungkapkan imannya tetapi juga perwujudan dalam hidup sehari-hari, lewat perbuatan moral.
Yang mendasari seluruh perbuatan kita adalah semangat kristiani yang bersumber pada Yesus Kristus
Ajaran Yesus dalam mewujudkan iman:
a. Kita melakukan perbuatan baik yang berkenan kepada Allah bukan hanya didasaran pada perkataan saja
b. Kita harus mau mencintai secara radikal, maksudnya dengan sepenuh hati
c. Kita juga harus mencintai musuh-musuh kita
d. Tindakan baik itu perlu diwujudkan bagi sesama yang lemah, hina, miskin dan tak berdaya
PAHAM MENGENAI ALLAH
Kita mulai dari hakekat ALLAH atau TUHAN atau apalah sebutannya. Dalam setiap agama setuju akan hakekat ALLAH antara lain sebagai MAHA KASIH, MAHA PENYAYANG, MAHA MELINDUNGI.
Allah mengasihi semua manusia, dan Ia memberikan kasih yang lebih pada mereka yang lemah, yang berkekurangan, yang tersingkirkan. Allah menyayangi semua manusia, dan Ia memberikan kasih sayang yang lebih kepada mereka yang kekurangan kasih sayang. Allah melindungi semua manusia, dan Ia memberikan perlindungan yang lebih besar pada mereka yang teraniyaya, tertindas, terancam. Demikian ALLAH disebut MAHABAIK.
Itu adalah paham-paham dasar mengenai ALLAH.Kalau paham itu diterima, kita melanjutkan pada pemikiran berikut:
Hubungan manusia dengan ALLAH.
Hubungan manusia dengan ALLAH adalah bersifat pribadi. Dalam hubungan itu manusia mengakui/menerima atau menolak sifat-sifat ALLAH tersebut.
Pengakuan/penerimaan manusia akan sifat-sifat ALLAH di atas disebut IMAN. Iman ini terwujud dalam dua tindakan: yaitu dalam pengakuan dan relasi intim manusia dengan ALLAH (doa,dll) dan tindakan manusia terhadap manusia dan alam (pengejawantahan sifat-sifat Allah).
Agama
Oleh seseorang iman tersebut diajarkan pada orang lain dalam suatu masyarakat. Masyarakat dengan sejuta komplexitasnya. Mereka yang menerima ajaran itu dan melaksanakannya juga meneruskan ajaran itu.
Demikian iman itu menjadi tersebar. Namun karena kepala tidak lagi satu, hati juga berbeda, membuat pemahaman dan penangkapan kadang juga berbeda. Demikian juga mengenai ide-ide pengembangannya. Sejalan dengan itu, selain isi ajaran iman, dirasa perlu adanya aturan, dan aturan itu mengikat mereka sebagai kelompok yang sepaham. Demikianlah secara sederhana lahir sebuah institusi, yang oleh kita sekarang disebut agama.
Inti iman dan aturan
Ketika suatu agama itu terbentuk lalu ada dua hal yang diteruskan/diwariskan/diajarkan. Kedua hal itu adalah inti iman dan aturan. Fungsi aturan dalam agama tidak lebih tinggi dari atau sama dengan iman, melainkan berfungsi melayani iman dan manusia, agar kedua perwujudan iman, baik dalam relasi dengan ALLAH maupun dengan sesama/alam dijalankan dengan sama baiknya. Dengan kata lain, aturan tidak boleh bertentangan dengan inti iman. Pemeluk agama itu juga tidak mengabdi pada aturan melainkan pada Allah yang diimaninya.
Pelaksanaan Iman
Iman dalam tataran hubungan pribadi dengan ALLAH tak berpengaruh pada dunia. Namun sebagai orang beriman, manusia ingin mewujudkan imannya itu dalam suatu tindakan konkrit keseharian dalam hubungannya dengan dunia, dengan manusia lain dan alam. Dengan demikian imannya menjadi nyata.
Nah, apa yang diwujudnyatakan dalam keseharian ini adalah apa yang diperolehnya dari "sumber" imannya, yaitu ALLAH. Apa yang diperolehnya dari ALLAH adalah pengalaman pribadinya, antara lain pengalaman di-KASIH-i, di-SAYANG-i dan di-LINDUNG-i oleh ALLAH. Dengan kata lain sebenarnya seorang beriman dalam kesehariannya mewujudkan sifat-sifat KEALLAHAN. Itu sebabnya manusia disebut ciptaan "imago Dei", secitra dengan ALLAH, karena manusia memiliki sifat-sifat keAllahan itu.
Moral dan Aturan Agama
Sifat-sifat ke-Allah-an itu sudah ada dalam diri manusia sejak belum adanya agama. Adanya kemampuan membedakan perbuatan baik dan jahat yang terus berkembang di dalam masyarakat, dan kemudian disebut ajaran moral, adalah bukti dari keberadaan sifat-sifat ke-Allah-an itu.
Hindarilah/jauhkanlah yang jahat dan buatlah yang baik, demikianlah moral mengajarkan. Ketika perbuatan jahat dilakukan, pemeluk agama terkena hukuman yang ada dalam aturan agama itu.
PERTANYAAN MUNCUL KETIKA KITA DIHADAPKAN PADA DUA PILIHAN YANG HARUS MENGAMBIL SALAH SATU DI ANTARA 2:
Menurut moral kedua perbuatan baik, mana yang didahulukan atau direkomendasikan untuk dilaksanakan? Dari segi aturan agama: aturan tidak melarang dan juga tidak menganjurkan. Lalu apa dasar untuk mengambil keputusan terakhir?
Dasarnya ada pada IMAN, yaitu iman akan ALLAH yang MAHA PENGASIH, MAHA PENYAYANG, MAHA MELINDNGI. Dasar-dasar tsb. dalam perwujudannya tidak diukur dari SUBYEK PELAKU, melainkan dari ORANG LAIN YANG TERKENA (OBYEK).
Maka dalam mengukurnya:
BUKAN DENGAN PERNYATAAN : AKU MENGASIHI, MENYAYANGI, MELINDUNGI KAMU, melainkan DENGAN PERTANYAAN: APAKAH KAMU MERASA DIKASIHI, DISAYANGI dan LINDUNGI OLEH AKU?
Nah, kalau orang lain (siapa saja) yang terkena perbuatan itu tetap merasa bahwa dia dikasihi, disayangi, dilindungi, keputusan dapat diambil: lakukan. Namun kalau sebaliknya, maka sebaiknya pikirkan kembali/batalkan keinginan itu. Dan kadang di sinilah, dari subyek beriman tadi dituntut sikap rela berkorban, yaitu mengorbankan keinginan diri demi kasih, sayang dan perlindungan bagi orang lain (yang mungkin merasa tidak dikasihi, disayang, dilindungi lagi kalau keputusan diambil demi memenuhi keinginan diri sendiri).
Kalau orang-orang beragama itu menentukan pilihannya berdasarkan pertimbangan di atas, saya yakin pilihannya itu akan benar. Jadi, agama menjadi institusi tertinggi sebagai penentu kebenaran BUKAN pertama-tama karena aturannya, melainkan karena PERWUJUDAN DARI INTI IMANNYA, yang mengejawantahkan sifat-sifat KEALLAHAN ALLAH yang antara lain MENGASIHI, MENYAYANGI dan MELINDUNGI. Demikianlah agama menjadi sumber pembawa damai di dunia ini, karena orang lain merasa (bukan agama itu sendiri yang merasa), karena kehadiran agama itu, orang lain merasa dikasihi, disayangi, dilindungi.
Demikian juga dalam hal penafsiran ajaran dan aturan agama. Penafsiran suatu ajaran agama sebenarnya lebih rumit karena banyak aspek yang harus diperhitungkan(sosial, budaya,politik, belum lagi masalah kritik teks Kitab Suci/ajaran yang sudah ribuan tahun itu). Namun intinya juga sama, bahwa apa yang ditafsirkan ditujukan untuk dilaksanakan/diwujudkan. Dalam perwujudan ini lalu terlihat, apakah tafsiran itu benar atau tidak, yaitu dari apakah inti iman yang
terwujudnyatakan ataukah hanya keinginan diri sendiri. Tafsiran dikatakan sesat, sebetulnya bukan karena aturan agama, melainkan karena inti iman menjadi tidak terwujud atau malah diselewengkan akibat tafsiran itu. Penyelewengan ini lebih sesat lagi, kalau atas nama agama lalu dilegitimasikan/disakralkan dan dipelihara.
RELASI ANTARA IMAN DENGAN ALLAH
Dalam Perjanjian Lama, Ayub terkenal sangat saleh (dua kali Allah mengakuinya, 1:8; 2:3) tetapi amat menderita. Sebuah kombinasi paradoksal yang menyakitkan bagi si subjek pengalaman. Sebuah masalah abadi manusia terutama yang beriman akan Allah monoteis. Penderitaan Ayub amat total. Dia berada dalam situasi batas daya kemampuan, di tepi batas eksistensi. Ia mengalami kebuntuan eksistensial. Empat relasi fundamental manusia buntu total. Keempat relasi itu ialah: relasi dengan Allah (dimensi teologis-vertikal), relasi dengan sesama, relasi dengan alam, relasi dengan diri sendiri (dimensi etis-kosmis-horizontal). Seakan bagi Ayub, tidak ada jalan keluar, no exit (Sartre).
Ada enam alasan untuk mengatakan bahwa derita Ayub sangat total serta menggoncangkan sendi dasar eksistensi, keyakinan iman dan moralnya. Derita Ayub adalah derita eksistensial.
Pertama, ia kehilangan anak-anaknya dalam peristiwa dahsyat alam dan kebengisan manusia yang seakan merangsek struktur dasar bangunan kesalehan iman dan moralnya (1:18-19).
Kedua, ia kehilangan hewannya, juga akibat peristiwa dahsyat alam dan kebengisan manusia yang seakan merangsek keyakinan moral-etis Ayub (1:16-17).
Ketiga, ia kehilangan “property” (rumah) dan ladang juga akibat kedahsyatan yang sama (1:18-19).
Keempat, ia “kehilangan” isterinya (2:9; ditulis dalam tanda kutip karena yang dimaksudkan bukan kehilangan secara jasmaniah atau meninggal melainkan kehilangan secara rohaniah dan imani). Akibat peristiwa beruntun seperti arus sungai yang mengalir tiada hentinya itu, sang isteri kehilangan imannya. Ia sulit lagi percaya pada Allah. Tragisnya, peristiwa kehilangan iman personal ini diusulkannya tanpa tedeng aling-aling sebagai jalan keluar bagi Ayub dari absurditas dan kebuntuan derita. Si isteri menyeret Ayub ke dalam kehilangan paling tragis hidup manusia: kehilangan iman akan Allah; kehilangan Allah, ateisme praktis (2:9). Allah telah mati, seperti deklarasi lantang Nietschze. Tetapi, Ayub tidak atau lebih tepat belum sampai di sana.
Kelima, Ayub kehilangan kesehatan jasmaninya; seluruh tubuhnya kena borok (2:7-8; bdk Hamba Yahwe - Yes 53). Padahal kesehatan adalah modal untuk membangun hidup yang baik dan layak. Modal itu kini hilang.
Kesehatan adalah modal untuk membangun rasa percaya dan harga diri dalam relasi sosial. Akibat kejelekan tampang jasmani, Ayub bahkan kehilangan hak-hak sosialnya yang paling mendasar (19:7).
Sering orang menilai kesehatan sebagai pangkal kehormatan dan martabat diri. Kesehatan membuat orang tidak minder; orang bisa percaya diri karena sehat, optimistis memandang masa depan, dan menilai diri sendiri. Karena seluruh badannya terkena borok, maka tidak ada lagi yang bisa dibanggakan. Orang bahkan takut dan jijik memandangnya (19:12-19). Kaki kena borok, sehingga tidak bisa berdiri untuk menunjukkan eksistensi dan membuktikan keluasan daya jangkau optik-nya, suatu hal yang menurut paham antropologi filsafat, membedakan manusia dari binatang. Wajah terkena borok. Dia tidak bisa lagi menghadapi orang dengan percaya diri. Bahkan kulit kepala pun kena borok. Padahal kenyamanan tidur dan berbaring antara lain ditentukan oleh kenyamanan kulit kepala. Jadi, dalam tidur pun Ayub tidak mendapat kenyamanan; suatu yang hal yang sangat penting bagi kesehatan badan dan jiwa. Ayub pun terlemparlah dalam situasi awali: ke dalam kotak abu. Ini simbolisme betapa dia sudah tiba di ambang tapal batas perjalanan kembali ke asal-usul: debu dan abu. (Ada yang menafsirkan ini sebagai simbolisme adat ratapan Yahudi). Dia terlempar dalam keterasingan. Dia sendirian di sana (2:8).
Keenam, Ayub kehilangan sahabat (6; 19:19). Fungsi persahabatan ialah memberi hiburan rohani dan pastoral bagi sahabat yang menderita. A friend in need is a friend indeed. Kedatangan ketiga sahabatnya, justru tidak membuat Ayub mendapat keringanan beban psikologis-rohaniah. Kedatangan mereka justru mendatangkan beban baru. Menurut keyakinan Ayub, dirinya sama sekali tidak bersalah. Bahwa dia menderita, itu adalah tanda bahwa Allah keliru dalam memperlakukan dirinya; bagi Ayub, penderitaannya adalah bukti ketidak-adilan Allah dalam memerintah sejarah, kosmos dan anthropos. Menurut ketiga teman, derita Ayub adalah bukti mutlak bahwa dia berdosa. Penderitaan adalah hukuman yang hanya diberikan kepada pendosa. Karena itu Ayub pasti berdosa. Bahkan pendosa berat. Jalan satu-satunya untuk keluar dari masalah rumit ini ialah bertobat. Dengan tobat masalah selesai. Dengan tobat tatanan yang benar akan terlaksana dengan sendirinya; itu yang akan mendatangkan hukumnya. Ayub merasa tidak mungkin bertobat, karena merasa tidak bersalah.
Menyetujui tobat, berarti mengaku bahwa dia berdosa. Bahkan ketika Elifas mengartikan derita sebagai pendidikan dalam rangka membujuk Ayub agar melunakkan sikap moral-teologisnya, Ayub tetap tidak mau menerimanya, karena tujuan pendidikan ialah mengubah orang ke arah yang lebih baik. Mengubah, perubahan: metanoia. Nah, itu lagi. Jadi, Ayub tetap tidak mau. Jalan pun buntu.
Tetapi di hadapan kebuntuan eksistensial itu timbul pertanyaan: Apakah sama sekali tidak ada jalan keluar? Apakah No Exit itu final? Tidak! Sebab bagi Ayub terbentanglah EMPAT jalan keluar yang dapat ditempuh entah dengan petunjuk orang lain atau dengan keputusan sendiri.
Pertama, Ayub bisa menempuh jalan nausea (rasa muak) seperti diajukan Sartre: memandang hidup sebagai memuakkan, membosankan. Orang memuntahkan isi perutnya karena tidak betah hidup. Bosan hidup. Ujung jalan ini ialah bunuh diri karena putus-asa, tidak melihat lagi peluang dan fajar optimisme dan harapan dalam hidup ini. Ini jalan keluar yang pernah diusulkan A.Schopenhauer. Sebuah jalan salib melankolik, yang tidak mau ditelusuri sampai akhir, melainkan menyimpang ke luar dan mencari titik akhir segera. Ayub 3 adalah keluh kesah Ayub yang menyiratkan kemuakan terhadap hidup. Hidup itu memuakkan sehingga Ayub mengutuk hari lahirnya (3:3-16). Tetapi Ayub tidak mau menempuh jalan itu. Kendati muak, kendati pesimis, kendati mengalami melankoli kelam, dia segera keluar dari sana. Dia tidak menganggap hal itu sebagai jalan keluar yang layak.
Kedua, Ayub pun bisa menempuh jalan Ateisme seperti usul isterinya: “Masih bertekunkah kau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” (2:9). Atas dasar ayat ini St.Agustinus dan Yohanes Calvin menyebut wanita sebagai organum Satanae dan diaboli adjutrix. Itu karena isteri Ayub menempuh jalan yang sama seperti Setan dalam Kej 3:1; di sini Setan membalikkan ucapan Tuhan dalam 2:16-17. Sama seperti manipulasi ucapan Allah oleh Setan, demikian juga isteri Ayub memanipulasi ucapan Allah dalam 2:3 sehingga menjadi terbaca seperti dalam 2:9. Jalan keluar yang diusulkan si isteri ialah jalan ateistik. Suatu via et vita atheistica. Ayub tidak mau menempuh hal itu. Dia condong kepada via et vita theistica bahkan aesthetica. Jauh di kemudian hari, ateisme yang timbul karena derita dan ketidak-adilan ada juga dalam A.Camus. Ia menolak Allah karena derita terutama derita orang yang tak bersalah. Dalam Sampar (La Peste) Camus yang mendramatisir ateisme ini. Camus tidak dapat mendamaikan warta tentang Allah yang mahabaik, mahakasih, dan mahaadil, dengan fakta derita-tragis manusia.
Elie Wissel pun – dalam Malam – berada di ambang gerbang ateisme itu juga, ketika dia menghadapi absurditas kekejaman Nazi dengan kamp konsentrasinya. Dia merasa imannya akan Allah seperti yang diwahyukan Kitab Suci (mahabaik, mahaadil, mahakasih) telah “terbakar” dan hilang dalam asap hitam pekat yang keluar dari cerobong asap tungku pembakaran orang Yahudi. Masih cukup banyak kaum ateisme-praktis seperti itu hari-hari ini di sekitar kita, walau kehadiran mereka diam-diam. Jalan ini pun dengan tegas ditolak Ayub seperti tampak dari jawabannya kepada si isteri: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.” (2:10)
Ketiga, selain naussea dan ateisme, Ayub pun bisa menempuh dogmatisme teori pembalasan di bumi (retributive-theory). Teori ini mengatakan bahwa semua perbuatan baik manusia akan diberi pahala. Sedangkan perbuatan buruk akan diberi hukuman setimpal. Jalan dogmatisme ini dianut ketiga sahabat Ayub; juga dianut si pemuda Elihu (bab 32-37). Menurut mereka, penderitaan Ayub adalah bukti kejahatan Ayub; sekarang kejahatan (dosa) Ayub itu dihukum setimpal (bab 4, 8). Satu-satunya cara pemulihan dan keselamatan ialah tobat (bab 11, 15, 18, 20, 22, 25). Tetapi seperti sudah dikatakan di atas Ayub tidak dapat bertobat karena merasa tidak berdosa (bab 13, 16, 17). Toh kalau dia berdosa, dia menganggap hukuman itu melebihi dosanya. Bahwa dogmatisme teori ini juga dianut oleh Elihu, itulah pertanda bahwa kekakuan dan otomatisme teori seperti ini tidak hanya menghinggapi kaum tua saja, melainkan juga merasuki generasi muda. Fakta ini menjelaskan bahwa teori seperti ini tidak dapat diabaikan. Sebab dia dengan mudah dapat ditularkan kepada generasi yang akan datang dan dengan itu mudah dilestarikan juga. Ayub juga menolak jalan ini.
Dalam prolog Ayub (1-2) sudah ada sikap iman Ayub terhadap derita. Kedua jawaban itu merupakan jalan keluar bagi Ayub. Ketika ditimpa kemalangan pertama, yang dilakukan Ayub bukannya mengutuk Allah melainkan memuji Allah karena Dia bebas dalam kedaulatan ilahinya; tidak terpengaruh oleh kesalehan Ayub; kesalehan Ayub tidak dimaksudkan untuk menjalin relasi iman do-ut-des dengan Allah. Ketika ditimpa kemalangan kedua, Ayub tidak ikut-ikutan mengutuk Allah seperti si isteri. Tetapi kedua jawaban itu menjadi mentah kembali karena derita. Maka yang ditinjau lebih jauh ialah jalan seperti tampak dalam seluruh dialog yang bermuara pada teofani. Kalau ketiga jalan di atas tadi ditolak Ayub, maka dia mencoba menempuh jalan sendiri. Jalan yang dia tempuh, keempat, ialah pemberontakan.
Pemberontakan bisa dipahami dalam arti yang sebenarnya. Ayub memberontak terhadap fakta dan situasi yang dialaminya. Dalam bahasa halusnya, Ayub “mengeluh” tentang situasi di sekitarnya dalam empat tahap keluhan: mengeluh tentang nasib malangnya, mengeluh tentang ketiga sahabatnya, mengeluh tentang Allah di hadapan ketiga Teman, dan akhirnya mengeluh langsung kepada Allah dalam ratap tangis yang menyayat hati. Dalam artian negatif, itulah makna jalan pemberontakan Ayub. Dengan memberontak dia melawan ketiga temannya. Dengan memberontak dia menyatakan perlawanannya terhadap jalan dogmatisme dan otomatisme teori pembalasan ketiga teman.
Jalan pemberontakan itupun dapat dipahami secara positif, sebagai upaya yang berani dan heroik untuk mencari pengalaman religius, pengalaman Allah, pengalaman estetis-mistik original. Lewat pemberontakan dia menerobos ke dalam kekelaman misteri Allah. Allah itu tidak serba terang. Allah juga serba gelap, serba misteri, terselubung. Allah itu bak tembok hitam, dingin, beku, dan bisu. Jadi, jalan pemberontakan Ayub ini adalah upaya yang oleh pemikir religius modern disebut sebagai upaya menemukan iman induktif (lawan dari iman deduktif yang ditawarkan dalam jalan ketiga, jalan dogmatisme teori pembalasan). Seakan Ayub berkata kepada diri sendiri, “aku mau menerobos misteri ini, supaya aku punya pengalaman pribadi dan orizinal akan dia, dan dengan itu aku punya dasar kokoh untuk berbicara tentang misteri itu.” Jalan pemberontakan itulah yang ditempuh Ayub dalam seluruh Kitab. Pemberontakan Ayub itu panjang dan melelahkan. Ada banyak tantangan. Saya berani berkata Ayub sesungguhnya sudah menjadi martir dari proses lika-liku pemberontakan itu.
Jalan pemberontakan itu memuncak dalam tantangan terakhir Ayub yang sangat berani, yang nekat mempersoalkan keadilan dan kemampuan Allah mengatur kosmos dan anthropos. Jalan itu bermuara dalam teofani dahsyat (Ayb 38). Lewat pemberontakan, Ayub sampai ke teofani. Di sana dia mengalami Allah secara langsung; pengalaman yang sangat personal dan orizinal, amat mengesankan dan sekaligus serba baru; baik dibandingkan dengan pengalaman Allahnya sendiri di masa silam, maupun pengalaman Allah kolektif bangsa Israel, maupun jika dibandingkan dengan jalan ateisme sang isteri dan dogmatisme ketiga sahabat. Kesan pengalaman baru itulah yang menjelaskan mengapa Ayub dalam teofani berani membagi seluruh hidupnya dalam dua tahap: pra dan pasca teofani. tonggak teofani adalah titik puncak tahap pertama sekaligus titik awal tahap kedua. Kata Ayub: “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” (42:5).
Ayub berpindah dari sumber pengetahuan tangan kedua (kata orang), ke sumber pengetahuan tangan pertama (langsung; mataku sendiri).
Drama tragis pengalaman hidup Ayub menawarkan beberapa butir penting bagi hidup dan iman. Pertama, bahwa dalam kesulitan hidup dan iman orang tidak boleh dengan sangat mudah terjerumus dalam upaya mencari jalan serba-gampang. Ini amat mudah dilakukan; sebab toh jaman sudah menampilkan kultur dan mentalitas serba-instan. Kedua, dalam hidup dan iman pengalaman langsung dan personal amat penting. Pengalaman itulah yang menentukan mutu iman dan komitmen. Ini juga penting sebab iman adalah tanggapan personal. Dia tidak sekadar dogmatis belaka. Ketiga, jalan pemberontakan adalah juga jalan positif dan karena itu perlu diapresiasi. Pemberontakan adalah bukti transendensi manusia. Jadi, Ayub memberontak dan akhirnya bermuara pada iman. Iman seperti ini akan menjadi iman yang matang, dewasa, dan tenang, karena dicapai lewat jalan induktif, pencarian langsung dan personal. Sekali lagi: Ayub beriman dengan memberontak.
PRIORITAS HUBUNGAN KITA DENGAN ALLAH
1. ”HUBUNGAN” ALLAH - MANUSIA
Keluaran 33:12 : Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: "Memang Engkau berfirman kepadaku: Suruhlah bangsa ini berangkat, tetapi Engkau tidak memberitahukan kepadaku, siapa yang akan Kauutus bersama-sama dengan aku. Namun demikian Engkau berfirman: Aku mengenal namamu dan juga engkau mendapat kasih karunia di hadapan-Ku (penekanan ditambahkan) Penjelasan ayat: Musa mengatakan bahwa Allah pernah berfirman bahwa Ia “mengenal” Musa. Kata Ibrani yang dipergunakan disini ialah yªdª yang artinya mengenal dengan sangat baik (to know by experience). Dalam ayat ini terkandung beberapa makna dari hubungan Allah dengan manusia:
a. Allah menempatkan manusia sebagai ciptaan (essence, destiny), hamba, umat, anak (status), tetapi dalam saat yang sama manusia dianggap sebagai sejajar dalam komunikasi (I & Thou bukan I & I – walaupun sedang berkomunikasi dengan lawan bicaranya namun pikiran dan perasaannya tertutup mendengarkan apa yang sedang dikomunikasikannya; atau bukan pula I & It) – bnd. Konsep Martin Buber yang menjelaskan bahwa manusia menemukan makna hidupnya melalui komunikasi yang dialogis.
b. Kualitas hubungan yang Allah berikan dicontohkan Allah sendiri dengan mempergunakan sebuah pengenalan yang dalam (bnd. Yada). Hal itu bukan karena potensi Allah sendiri yang Mahatahu tetapi Ia sendiri sudi untuk mengenal manusia.
c. Pengenalan Allah bukan saja dalam tetapi juga bersifat pribadi sekalipun itu dalam sebuah rencana skala bangsa seperti Israel misalnya.
d. Allah menginginkan hubungan-Nya dengan manusia bersifat konsisten dan dinamis sehingga Ia melakukan beberapa cara:
1. Membuat perjanjian dengan manusia yang berkembang secara evolutif (berit) – “jangan ada ilah lain” (Kel 20:3).
2. Memanggil dan memilih orang-orang pilihan-Nya: bapa leluhur, nabi, imam, hakim, raja, untuk menjadi orang yang menjaga sekaligus mengingatkan perjanjian itu. Bahkan pada akhirnya Ia mengutus Anak-Nya sendiri agar manusia tetap memiliki relasi dengan-Nya.
3. Menghadirkan Kitab Suci sebagai media komunikasi dan sekaligus menjabarkan di dalamnya bagaimana Allah sendiri menjamin bahwa Ia setia mengikat perjanjian dengan manusia, dan bagaimana Kitab Suci juga mengajarkan kepada manusia bagaimana menjaga perjanjiannya dengan Allah.
4. Menyuruh manusia untuk membuat peribadahan kepada Allah yang diturunkan turun-temurun.
5. Memakai berbagai paradigma relasional untuk menjelaskan kekayaan komunikasi- Nya: Pencipta-Ciptaan, Tuan-Hamba, Allah-Umat, Raja-Warga, Bapa-Anak, Mempelai Laki-laki-Mempelai Wanita, Pokok Anggur-Carang, Gembala-Domba, dll.
6. Memberitahukan dengan jelas bahwa penghalang bagi hubungan-Nya dengan manusia dapat rusak terganggu bila manusia melakukan dosa (pelanggaran atau pemberontakan), bnd. Yes 59:1-2.
7. Mengutus Roh Kudus yang memungkinkan terjadinya komunikasi yang dialogis spiritual Allah-manusia dan sebaliknya (Roma 8:26-27).
MANUSIA-ALLAH
Allah Menghendaki Hubungan Timbal Balik. Dalam proses sebaliknya Allah menuntut manusia juga mengenal Dia (relasi mutualisma). Kata yang dipergunakan sama walaupun hakikat manusia berbeda dengan Allah. Mazmur 9:10 (9-11) Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN. Pemazmur meyakini bahwa manusia yang mengenal Allah memiliki iman kepada Allah. Dengan kata lain pengenalan yang makin mendalam akan menghasilkan iman yang makin mendalam pula.
Pengenalan Terhadap Allah Mendatangkan Kebaikan. Penolakan terhadap pengenalan hanya akan membawa pada sebuah malapetaka. Salah satu teologi yang dikembangkan dalam kitab Hosea adalah mengenal dengan benar Allah yang penuh dengan kasih setia. Hosea 4:6 ¶ “Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu.” Hosea 6:1-3 ¶ "Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN, sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita. 2 Ia akan menghidupkan kita sesudah dua hari, pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup di hadapan-Nya. 3 Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi."
PRIORITAS
Kata “prioritas” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti “yang didahulukan dan diutamakan dari pada yang lain”. Longman Dictionary: 1 the thing that you think is most important and that needs attention before anything else: 2 [uncountable] the right to be given attention first and before other people or things 3 to know what is most important and needs attention first.
Sebagai manusia tentunya kita akan menempatkan Allah dalam porsi segala-galanya, namun penerjemahannya tidak boleh ekstrim atau hurufiah yang berdampak pada kesulitan mengoperasionalkan apa yang kita yakini. PRIORITAS KEPADA ALLAH MUTLAK Allah sendiri yang mengajarkan kepada kita tentang prioritas itu: Keluaran 20:3 “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” Ayat ini secara jelas mencerminkan bagaimana Allah menuntut prioritas manusia hanya kepada-Nya dan tidak kepada siapapun di luar diri-Nya. Apapun yang menggeser posisi Allah adalah ilah. Kis 5:29 Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia. Galatia 1:10 Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.
PRIORITAS KEPADA ALLAH MENUNTUT KEBERANIAN, PENGORBANAN. Kasus Wanita Yang Mengurapi Kaki Yesus (Yoh 12:3); Maria dan Martha Luk 10:38-42. PRIORITAS KEPADA ALLAH BUKAN HANYA PADA NIAT TETAPI JUGA PADA PELAKSANAAN. Kasus Anak Yang Berkata Ya tetapi Tidak Melaksanakan (Mat 21:28-32) PRIORITAS KEPADA ALLAH MEMERLUKAN DISIPLIN. Markus 1:35; Yoh 2:4. PRIORITAS KEPADA ALLAH PERLU DITERJEMAHKAN SECARA BERIMBANG..
Prioritas kepada Allah tidak berarti menggeser prioritas kita yang lain: Kasus Memberi Persembahan Pada Allah tetapi masih berseteru – Mat 5:23-26. Kasus Hari Sabat – Matius 12:1-13. Kasus Membayar Pajak Kepada Kaisar – Matius 22:15-22. Kasus Orang Samaria Yang Baik Hati – Luk 10:25-37 Kasus Pelayanan Diakonia dalam Kisah Para Rasul – Kis 6:1-7. Ada 2 kesalahan:
1. Prioritas kepada Allah digeser sedemikian rupa sampai Ia tidak mendapat tempat sama sekali.
2. Prioritas kepada Allah menggeser habis prioritas manusia lainnya mengakibatkan Ia seperti tinggal dalam gua.
SALAH SATU PRIORITAS KEPADA ALLAH DITUNJUKKAN MELALUI ADANYA WAKTU PRIBADI BERSAMA DENGAN ALLAH.
Contoh konkrit dari sebuah hubungan pribadi dengan Allah adalah melalui apa yang dicontohkan oleh Yesus sendiri kepada manusia (bnd. Markus 1:35: “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana”). Orang yang memiliki waktu pribadi dengan Allah menunjukkan: 1. Orang tersebut mengistimewakan Allah. 2. Orang tersebut mengakui Allah dalam hidupnya. 3. Orang tersebut memiliki kebergantungan dengan Allah. 4. Orang tersebut memiliki sebuah relasi yang akrab dengan Allah.
Pertanyaan apakah prioritas kepada Allah hanya ditunjukkan melalui adanya waktu pribadi bersama Allah? Lalu bagaimana menunjukkan bahwa orang tersebut memprioritaskan Allah?
1. Mengedepankan nilai-nilai yang berasal dari Allah baik secara tersurat maupun tersirat dalam pertimbangannya.
2. Mengakui Dia dalam segala jalan hidup kita sehingga kita selalu meminta pertolongan-Nya (bnd. Yoh 15:5).
Langganan:
Komentar (Atom)