UNGKAPAN DAN PENGHAYATAN IMAN
HIDUP BERIMAN
Iman dapat diibaratkan sebagai hubungan cinta antara dua orang manusia. Meskipun cinta itu menyangkut perasaan hati seseorang yang bersifat pribadi, namun apabila tidak diungkapkan tidak akan berdampak apa-apa.
Begitupun halnya dengan hubungan antara manusia dengan Tuhan. Iman adalah hubungan cinta antara manusia dengan Tuhan. Manusia menyerahkan seluruh hidunya kepada Tuhan, karena manusia mengalami dirinya dicintai oleh Tuhan. Dalam hubungan itu manusia secara pribadi mengungkapkan segala perasaan dan hasrat hatinya kepada Tuhan melalui bermacam ungkapan, antara lain dengan doa dan ibadat. Melalui doa dan ibadat, iman yang merupakan sikap hati seseorang yang bersifat pribadi dapat diungkapkan secara langsung kepada Tuhan. Namun sikap dasar hatinya, penghayatannya harus ada. Tanpa sikap dasar hati atau penghayatan tersebut, ungkapan menjadi kosong dan tidak berarti. Jadi iamn tanpa ungkapan atau penghayatan merupakan ungkapan yang tidak bermakna. Di samping ungkapan dan penghayatan iman harus diwujudkan secara nyata dalam tindakan. Ungkapan-ungkapan dalam bentuk doa atau ibadat memang perlu. Demikian juga sikap dasar hati atau penghayatannya. Tetapi semua memang perlu diwujudkan dalam tindakan nyata, yang menjadi ukuran kedalaman iman seseorang juga tindakannya.
Iman tanpa ungkapan atau pernyataan secara langsung adalah Iman yang semu; ungkapan tanpa dasar hati atau penghayatan merupakan ungkapan yang tidak bermakna. Di samping ungkapan dan penghayatan iman harus diwujudkan secara nyata dalam tindakan. Dalam iman memang terdapat segi-segi yang bersifat rahmat, misteri , pribadi. Namun karena manusia hidup dalam dunia nyata maka kehidupan imannya harus menjadi nyata pula.
Ada tiga segi yang menentukan dinamika hidup orang beriman yaitu:pengetahuan atau pemahaman, perayaan atau ungkapan dan penghayatan atau perwujudan. Segi-segi dalam iman tersebut senantiasa menuntut orang beriman tidak saja tahu tentang iman akan tetapi lebih mampu dan mau mengungkapkan iman serta menghayatinya secara konkret dalam hidup sehari-hari.
Untuk bisa menyerahkan dirinya kepada Tuhan manusia harus mengembangkan kemampuan dalam dirinya yaitu:
1. Pikiran : Manusia mampu berpikir, mengerti dan merasakan bahwa Tuhan itu ada.
2. Perasaan : Manusia merasakan bahwa Tuhan itu baik
3. Kehendak : Manusia terdorong untuk melakukan tindakan
4. Tindakan : Merupakan wujud dari kehendak manusia
Masing-masing kemampuan salaing kait mengkait dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Orang beriman yang baik mengetahui dan memahami kebenaran yang terkandung dalam iman itu; kemudia mengolah dan menghayatinya dalam hati; mengungkapkannya melalui doa atu ibadat; akhirnya mewujudkannya dalam tindakan nyata sehari-hari.
Iman adalah sumber energi jiwa manusia yang senantiasa memberikan kekuatan untuk bergerak menebar amal, kebenaran, kasih sayang dan keindahan dalam setiap inci kehidupan, sekaligus berupaya dengan sekuat tenaga bergerak mencegah kejahatan dan kerusakan dipermukaan bumi. Iman adalah gelora yang memberi inspirasi kepada pikiran-pikiran manusia, yang pada gilirannya melahirkan mind setting atau akal yang kuat. Karena iman adalah cahaya yang menerangi dan melapangkan jiwa, yang menjalar keseluruh tubuh yang kemudian melahirkan gairah/spirit atau semangat yang menggelora. Iman menentramkan perasaan/hati, menguatkan tekad dan menggerakkan raga yang melahirkan takwa.
Iman dapat mengubah individu menjadi baik, dan bila kebaikan setiap individu menjalar dalam kehidupan masyarakat, maka masyarakat menjadi erat dan dekat; yang kaya di antara mereka menjadi dermawan, yang miskin di antara mereka adalah menjaga kehormatan dan harga diri, yang berkuasa di antara mereka adalah adil, yang pintar di antara mereka adalah pemberi pencerahan dan rendah hati, yang bodoh di antara mereka adalah para pembelajar (suka belajar), dan yang kuat di antara mereka adalah penyayang. Maka ibadah mereka menjadi sumber kesalehan dan kedamaian. Ilmu pengetahuan dan kekuasan mereka, adalah sumber kekuatan dan kemudahan. Kesenian mereka adalah budaya yang menjadi sumber inspirasi dan semangat kehidupan.
UNGKAPAN IMAN
Seperti juga dalam relasi antara manusia dengan manusia maka dalam relasi antara manusia dengan Tuhan, manusia diungkapkan melalui berbagai sarana atau simbol baik dalam doa, ibadat maupun perayaaan-perayaan keagamaan. Ungkapan iman bisa berbentuk pujian, permohonan ataupun pernyataan. Manusia dalam ungkapan imannya dapat menggunakan cara atau tindakan yang dilakukan oleh seorang petugas resmi dengan mempergunakan benda-benda peralatan, perlengkapan tertentu serta pakaian tertentu pula. Relasi manusia dengan Tuhan akan lebih nyata jika manusia tidak hanya menggunakan sapaan Allah melalui ungkapan iman tetapi memberikan jawaban yang berasal dari penghayatan diri dalam relasinya berupa tindakan yang nyata.
PENGHAYATAN IMAN
Relasi manusia dengan Allah menjadi lebih nyata jika tidak hanya dengan mengungkapkan imannya tetapi juga perwujudan dalam hidup sehari-hari, lewat perbuatan moral.
Yang mendasari seluruh perbuatan kita adalah semangat kristiani yang bersumber pada Yesus Kristus
Ajaran Yesus dalam mewujudkan iman:
a. Kita melakukan perbuatan baik yang berkenan kepada Allah bukan hanya didasaran pada perkataan saja
b. Kita harus mau mencintai secara radikal, maksudnya dengan sepenuh hati
c. Kita juga harus mencintai musuh-musuh kita
d. Tindakan baik itu perlu diwujudkan bagi sesama yang lemah, hina, miskin dan tak berdaya
PAHAM MENGENAI ALLAH
Kita mulai dari hakekat ALLAH atau TUHAN atau apalah sebutannya. Dalam setiap agama setuju akan hakekat ALLAH antara lain sebagai MAHA KASIH, MAHA PENYAYANG, MAHA MELINDUNGI.
Allah mengasihi semua manusia, dan Ia memberikan kasih yang lebih pada mereka yang lemah, yang berkekurangan, yang tersingkirkan. Allah menyayangi semua manusia, dan Ia memberikan kasih sayang yang lebih kepada mereka yang kekurangan kasih sayang. Allah melindungi semua manusia, dan Ia memberikan perlindungan yang lebih besar pada mereka yang teraniyaya, tertindas, terancam. Demikian ALLAH disebut MAHABAIK.
Itu adalah paham-paham dasar mengenai ALLAH.Kalau paham itu diterima, kita melanjutkan pada pemikiran berikut:
Hubungan manusia dengan ALLAH.
Hubungan manusia dengan ALLAH adalah bersifat pribadi. Dalam hubungan itu manusia mengakui/menerima atau menolak sifat-sifat ALLAH tersebut.
Pengakuan/penerimaan manusia akan sifat-sifat ALLAH di atas disebut IMAN. Iman ini terwujud dalam dua tindakan: yaitu dalam pengakuan dan relasi intim manusia dengan ALLAH (doa,dll) dan tindakan manusia terhadap manusia dan alam (pengejawantahan sifat-sifat Allah).
Agama
Oleh seseorang iman tersebut diajarkan pada orang lain dalam suatu masyarakat. Masyarakat dengan sejuta komplexitasnya. Mereka yang menerima ajaran itu dan melaksanakannya juga meneruskan ajaran itu.
Demikian iman itu menjadi tersebar. Namun karena kepala tidak lagi satu, hati juga berbeda, membuat pemahaman dan penangkapan kadang juga berbeda. Demikian juga mengenai ide-ide pengembangannya. Sejalan dengan itu, selain isi ajaran iman, dirasa perlu adanya aturan, dan aturan itu mengikat mereka sebagai kelompok yang sepaham. Demikianlah secara sederhana lahir sebuah institusi, yang oleh kita sekarang disebut agama.
Inti iman dan aturan
Ketika suatu agama itu terbentuk lalu ada dua hal yang diteruskan/diwariskan/diajarkan. Kedua hal itu adalah inti iman dan aturan. Fungsi aturan dalam agama tidak lebih tinggi dari atau sama dengan iman, melainkan berfungsi melayani iman dan manusia, agar kedua perwujudan iman, baik dalam relasi dengan ALLAH maupun dengan sesama/alam dijalankan dengan sama baiknya. Dengan kata lain, aturan tidak boleh bertentangan dengan inti iman. Pemeluk agama itu juga tidak mengabdi pada aturan melainkan pada Allah yang diimaninya.
Pelaksanaan Iman
Iman dalam tataran hubungan pribadi dengan ALLAH tak berpengaruh pada dunia. Namun sebagai orang beriman, manusia ingin mewujudkan imannya itu dalam suatu tindakan konkrit keseharian dalam hubungannya dengan dunia, dengan manusia lain dan alam. Dengan demikian imannya menjadi nyata.
Nah, apa yang diwujudnyatakan dalam keseharian ini adalah apa yang diperolehnya dari "sumber" imannya, yaitu ALLAH. Apa yang diperolehnya dari ALLAH adalah pengalaman pribadinya, antara lain pengalaman di-KASIH-i, di-SAYANG-i dan di-LINDUNG-i oleh ALLAH. Dengan kata lain sebenarnya seorang beriman dalam kesehariannya mewujudkan sifat-sifat KEALLAHAN. Itu sebabnya manusia disebut ciptaan "imago Dei", secitra dengan ALLAH, karena manusia memiliki sifat-sifat keAllahan itu.
Moral dan Aturan Agama
Sifat-sifat ke-Allah-an itu sudah ada dalam diri manusia sejak belum adanya agama. Adanya kemampuan membedakan perbuatan baik dan jahat yang terus berkembang di dalam masyarakat, dan kemudian disebut ajaran moral, adalah bukti dari keberadaan sifat-sifat ke-Allah-an itu.
Hindarilah/jauhkanlah yang jahat dan buatlah yang baik, demikianlah moral mengajarkan. Ketika perbuatan jahat dilakukan, pemeluk agama terkena hukuman yang ada dalam aturan agama itu.
PERTANYAAN MUNCUL KETIKA KITA DIHADAPKAN PADA DUA PILIHAN YANG HARUS MENGAMBIL SALAH SATU DI ANTARA 2:
Menurut moral kedua perbuatan baik, mana yang didahulukan atau direkomendasikan untuk dilaksanakan? Dari segi aturan agama: aturan tidak melarang dan juga tidak menganjurkan. Lalu apa dasar untuk mengambil keputusan terakhir?
Dasarnya ada pada IMAN, yaitu iman akan ALLAH yang MAHA PENGASIH, MAHA PENYAYANG, MAHA MELINDNGI. Dasar-dasar tsb. dalam perwujudannya tidak diukur dari SUBYEK PELAKU, melainkan dari ORANG LAIN YANG TERKENA (OBYEK).
Maka dalam mengukurnya:
BUKAN DENGAN PERNYATAAN : AKU MENGASIHI, MENYAYANGI, MELINDUNGI KAMU, melainkan DENGAN PERTANYAAN: APAKAH KAMU MERASA DIKASIHI, DISAYANGI dan LINDUNGI OLEH AKU?
Nah, kalau orang lain (siapa saja) yang terkena perbuatan itu tetap merasa bahwa dia dikasihi, disayangi, dilindungi, keputusan dapat diambil: lakukan. Namun kalau sebaliknya, maka sebaiknya pikirkan kembali/batalkan keinginan itu. Dan kadang di sinilah, dari subyek beriman tadi dituntut sikap rela berkorban, yaitu mengorbankan keinginan diri demi kasih, sayang dan perlindungan bagi orang lain (yang mungkin merasa tidak dikasihi, disayang, dilindungi lagi kalau keputusan diambil demi memenuhi keinginan diri sendiri).
Kalau orang-orang beragama itu menentukan pilihannya berdasarkan pertimbangan di atas, saya yakin pilihannya itu akan benar. Jadi, agama menjadi institusi tertinggi sebagai penentu kebenaran BUKAN pertama-tama karena aturannya, melainkan karena PERWUJUDAN DARI INTI IMANNYA, yang mengejawantahkan sifat-sifat KEALLAHAN ALLAH yang antara lain MENGASIHI, MENYAYANGI dan MELINDUNGI. Demikianlah agama menjadi sumber pembawa damai di dunia ini, karena orang lain merasa (bukan agama itu sendiri yang merasa), karena kehadiran agama itu, orang lain merasa dikasihi, disayangi, dilindungi.
Demikian juga dalam hal penafsiran ajaran dan aturan agama. Penafsiran suatu ajaran agama sebenarnya lebih rumit karena banyak aspek yang harus diperhitungkan(sosial, budaya,politik, belum lagi masalah kritik teks Kitab Suci/ajaran yang sudah ribuan tahun itu). Namun intinya juga sama, bahwa apa yang ditafsirkan ditujukan untuk dilaksanakan/diwujudkan. Dalam perwujudan ini lalu terlihat, apakah tafsiran itu benar atau tidak, yaitu dari apakah inti iman yang
terwujudnyatakan ataukah hanya keinginan diri sendiri. Tafsiran dikatakan sesat, sebetulnya bukan karena aturan agama, melainkan karena inti iman menjadi tidak terwujud atau malah diselewengkan akibat tafsiran itu. Penyelewengan ini lebih sesat lagi, kalau atas nama agama lalu dilegitimasikan/disakralkan dan dipelihara.
RELASI ANTARA IMAN DENGAN ALLAH
Dalam Perjanjian Lama, Ayub terkenal sangat saleh (dua kali Allah mengakuinya, 1:8; 2:3) tetapi amat menderita. Sebuah kombinasi paradoksal yang menyakitkan bagi si subjek pengalaman. Sebuah masalah abadi manusia terutama yang beriman akan Allah monoteis. Penderitaan Ayub amat total. Dia berada dalam situasi batas daya kemampuan, di tepi batas eksistensi. Ia mengalami kebuntuan eksistensial. Empat relasi fundamental manusia buntu total. Keempat relasi itu ialah: relasi dengan Allah (dimensi teologis-vertikal), relasi dengan sesama, relasi dengan alam, relasi dengan diri sendiri (dimensi etis-kosmis-horizontal). Seakan bagi Ayub, tidak ada jalan keluar, no exit (Sartre).
Ada enam alasan untuk mengatakan bahwa derita Ayub sangat total serta menggoncangkan sendi dasar eksistensi, keyakinan iman dan moralnya. Derita Ayub adalah derita eksistensial.
Pertama, ia kehilangan anak-anaknya dalam peristiwa dahsyat alam dan kebengisan manusia yang seakan merangsek struktur dasar bangunan kesalehan iman dan moralnya (1:18-19).
Kedua, ia kehilangan hewannya, juga akibat peristiwa dahsyat alam dan kebengisan manusia yang seakan merangsek keyakinan moral-etis Ayub (1:16-17).
Ketiga, ia kehilangan “property” (rumah) dan ladang juga akibat kedahsyatan yang sama (1:18-19).
Keempat, ia “kehilangan” isterinya (2:9; ditulis dalam tanda kutip karena yang dimaksudkan bukan kehilangan secara jasmaniah atau meninggal melainkan kehilangan secara rohaniah dan imani). Akibat peristiwa beruntun seperti arus sungai yang mengalir tiada hentinya itu, sang isteri kehilangan imannya. Ia sulit lagi percaya pada Allah. Tragisnya, peristiwa kehilangan iman personal ini diusulkannya tanpa tedeng aling-aling sebagai jalan keluar bagi Ayub dari absurditas dan kebuntuan derita. Si isteri menyeret Ayub ke dalam kehilangan paling tragis hidup manusia: kehilangan iman akan Allah; kehilangan Allah, ateisme praktis (2:9). Allah telah mati, seperti deklarasi lantang Nietschze. Tetapi, Ayub tidak atau lebih tepat belum sampai di sana.
Kelima, Ayub kehilangan kesehatan jasmaninya; seluruh tubuhnya kena borok (2:7-8; bdk Hamba Yahwe - Yes 53). Padahal kesehatan adalah modal untuk membangun hidup yang baik dan layak. Modal itu kini hilang.
Kesehatan adalah modal untuk membangun rasa percaya dan harga diri dalam relasi sosial. Akibat kejelekan tampang jasmani, Ayub bahkan kehilangan hak-hak sosialnya yang paling mendasar (19:7).
Sering orang menilai kesehatan sebagai pangkal kehormatan dan martabat diri. Kesehatan membuat orang tidak minder; orang bisa percaya diri karena sehat, optimistis memandang masa depan, dan menilai diri sendiri. Karena seluruh badannya terkena borok, maka tidak ada lagi yang bisa dibanggakan. Orang bahkan takut dan jijik memandangnya (19:12-19). Kaki kena borok, sehingga tidak bisa berdiri untuk menunjukkan eksistensi dan membuktikan keluasan daya jangkau optik-nya, suatu hal yang menurut paham antropologi filsafat, membedakan manusia dari binatang. Wajah terkena borok. Dia tidak bisa lagi menghadapi orang dengan percaya diri. Bahkan kulit kepala pun kena borok. Padahal kenyamanan tidur dan berbaring antara lain ditentukan oleh kenyamanan kulit kepala. Jadi, dalam tidur pun Ayub tidak mendapat kenyamanan; suatu yang hal yang sangat penting bagi kesehatan badan dan jiwa. Ayub pun terlemparlah dalam situasi awali: ke dalam kotak abu. Ini simbolisme betapa dia sudah tiba di ambang tapal batas perjalanan kembali ke asal-usul: debu dan abu. (Ada yang menafsirkan ini sebagai simbolisme adat ratapan Yahudi). Dia terlempar dalam keterasingan. Dia sendirian di sana (2:8).
Keenam, Ayub kehilangan sahabat (6; 19:19). Fungsi persahabatan ialah memberi hiburan rohani dan pastoral bagi sahabat yang menderita. A friend in need is a friend indeed. Kedatangan ketiga sahabatnya, justru tidak membuat Ayub mendapat keringanan beban psikologis-rohaniah. Kedatangan mereka justru mendatangkan beban baru. Menurut keyakinan Ayub, dirinya sama sekali tidak bersalah. Bahwa dia menderita, itu adalah tanda bahwa Allah keliru dalam memperlakukan dirinya; bagi Ayub, penderitaannya adalah bukti ketidak-adilan Allah dalam memerintah sejarah, kosmos dan anthropos. Menurut ketiga teman, derita Ayub adalah bukti mutlak bahwa dia berdosa. Penderitaan adalah hukuman yang hanya diberikan kepada pendosa. Karena itu Ayub pasti berdosa. Bahkan pendosa berat. Jalan satu-satunya untuk keluar dari masalah rumit ini ialah bertobat. Dengan tobat masalah selesai. Dengan tobat tatanan yang benar akan terlaksana dengan sendirinya; itu yang akan mendatangkan hukumnya. Ayub merasa tidak mungkin bertobat, karena merasa tidak bersalah.
Menyetujui tobat, berarti mengaku bahwa dia berdosa. Bahkan ketika Elifas mengartikan derita sebagai pendidikan dalam rangka membujuk Ayub agar melunakkan sikap moral-teologisnya, Ayub tetap tidak mau menerimanya, karena tujuan pendidikan ialah mengubah orang ke arah yang lebih baik. Mengubah, perubahan: metanoia. Nah, itu lagi. Jadi, Ayub tetap tidak mau. Jalan pun buntu.
Tetapi di hadapan kebuntuan eksistensial itu timbul pertanyaan: Apakah sama sekali tidak ada jalan keluar? Apakah No Exit itu final? Tidak! Sebab bagi Ayub terbentanglah EMPAT jalan keluar yang dapat ditempuh entah dengan petunjuk orang lain atau dengan keputusan sendiri.
Pertama, Ayub bisa menempuh jalan nausea (rasa muak) seperti diajukan Sartre: memandang hidup sebagai memuakkan, membosankan. Orang memuntahkan isi perutnya karena tidak betah hidup. Bosan hidup. Ujung jalan ini ialah bunuh diri karena putus-asa, tidak melihat lagi peluang dan fajar optimisme dan harapan dalam hidup ini. Ini jalan keluar yang pernah diusulkan A.Schopenhauer. Sebuah jalan salib melankolik, yang tidak mau ditelusuri sampai akhir, melainkan menyimpang ke luar dan mencari titik akhir segera. Ayub 3 adalah keluh kesah Ayub yang menyiratkan kemuakan terhadap hidup. Hidup itu memuakkan sehingga Ayub mengutuk hari lahirnya (3:3-16). Tetapi Ayub tidak mau menempuh jalan itu. Kendati muak, kendati pesimis, kendati mengalami melankoli kelam, dia segera keluar dari sana. Dia tidak menganggap hal itu sebagai jalan keluar yang layak.
Kedua, Ayub pun bisa menempuh jalan Ateisme seperti usul isterinya: “Masih bertekunkah kau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” (2:9). Atas dasar ayat ini St.Agustinus dan Yohanes Calvin menyebut wanita sebagai organum Satanae dan diaboli adjutrix. Itu karena isteri Ayub menempuh jalan yang sama seperti Setan dalam Kej 3:1; di sini Setan membalikkan ucapan Tuhan dalam 2:16-17. Sama seperti manipulasi ucapan Allah oleh Setan, demikian juga isteri Ayub memanipulasi ucapan Allah dalam 2:3 sehingga menjadi terbaca seperti dalam 2:9. Jalan keluar yang diusulkan si isteri ialah jalan ateistik. Suatu via et vita atheistica. Ayub tidak mau menempuh hal itu. Dia condong kepada via et vita theistica bahkan aesthetica. Jauh di kemudian hari, ateisme yang timbul karena derita dan ketidak-adilan ada juga dalam A.Camus. Ia menolak Allah karena derita terutama derita orang yang tak bersalah. Dalam Sampar (La Peste) Camus yang mendramatisir ateisme ini. Camus tidak dapat mendamaikan warta tentang Allah yang mahabaik, mahakasih, dan mahaadil, dengan fakta derita-tragis manusia.
Elie Wissel pun – dalam Malam – berada di ambang gerbang ateisme itu juga, ketika dia menghadapi absurditas kekejaman Nazi dengan kamp konsentrasinya. Dia merasa imannya akan Allah seperti yang diwahyukan Kitab Suci (mahabaik, mahaadil, mahakasih) telah “terbakar” dan hilang dalam asap hitam pekat yang keluar dari cerobong asap tungku pembakaran orang Yahudi. Masih cukup banyak kaum ateisme-praktis seperti itu hari-hari ini di sekitar kita, walau kehadiran mereka diam-diam. Jalan ini pun dengan tegas ditolak Ayub seperti tampak dari jawabannya kepada si isteri: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.” (2:10)
Ketiga, selain naussea dan ateisme, Ayub pun bisa menempuh dogmatisme teori pembalasan di bumi (retributive-theory). Teori ini mengatakan bahwa semua perbuatan baik manusia akan diberi pahala. Sedangkan perbuatan buruk akan diberi hukuman setimpal. Jalan dogmatisme ini dianut ketiga sahabat Ayub; juga dianut si pemuda Elihu (bab 32-37). Menurut mereka, penderitaan Ayub adalah bukti kejahatan Ayub; sekarang kejahatan (dosa) Ayub itu dihukum setimpal (bab 4, 8). Satu-satunya cara pemulihan dan keselamatan ialah tobat (bab 11, 15, 18, 20, 22, 25). Tetapi seperti sudah dikatakan di atas Ayub tidak dapat bertobat karena merasa tidak berdosa (bab 13, 16, 17). Toh kalau dia berdosa, dia menganggap hukuman itu melebihi dosanya. Bahwa dogmatisme teori ini juga dianut oleh Elihu, itulah pertanda bahwa kekakuan dan otomatisme teori seperti ini tidak hanya menghinggapi kaum tua saja, melainkan juga merasuki generasi muda. Fakta ini menjelaskan bahwa teori seperti ini tidak dapat diabaikan. Sebab dia dengan mudah dapat ditularkan kepada generasi yang akan datang dan dengan itu mudah dilestarikan juga. Ayub juga menolak jalan ini.
Dalam prolog Ayub (1-2) sudah ada sikap iman Ayub terhadap derita. Kedua jawaban itu merupakan jalan keluar bagi Ayub. Ketika ditimpa kemalangan pertama, yang dilakukan Ayub bukannya mengutuk Allah melainkan memuji Allah karena Dia bebas dalam kedaulatan ilahinya; tidak terpengaruh oleh kesalehan Ayub; kesalehan Ayub tidak dimaksudkan untuk menjalin relasi iman do-ut-des dengan Allah. Ketika ditimpa kemalangan kedua, Ayub tidak ikut-ikutan mengutuk Allah seperti si isteri. Tetapi kedua jawaban itu menjadi mentah kembali karena derita. Maka yang ditinjau lebih jauh ialah jalan seperti tampak dalam seluruh dialog yang bermuara pada teofani. Kalau ketiga jalan di atas tadi ditolak Ayub, maka dia mencoba menempuh jalan sendiri. Jalan yang dia tempuh, keempat, ialah pemberontakan.
Pemberontakan bisa dipahami dalam arti yang sebenarnya. Ayub memberontak terhadap fakta dan situasi yang dialaminya. Dalam bahasa halusnya, Ayub “mengeluh” tentang situasi di sekitarnya dalam empat tahap keluhan: mengeluh tentang nasib malangnya, mengeluh tentang ketiga sahabatnya, mengeluh tentang Allah di hadapan ketiga Teman, dan akhirnya mengeluh langsung kepada Allah dalam ratap tangis yang menyayat hati. Dalam artian negatif, itulah makna jalan pemberontakan Ayub. Dengan memberontak dia melawan ketiga temannya. Dengan memberontak dia menyatakan perlawanannya terhadap jalan dogmatisme dan otomatisme teori pembalasan ketiga teman.
Jalan pemberontakan itupun dapat dipahami secara positif, sebagai upaya yang berani dan heroik untuk mencari pengalaman religius, pengalaman Allah, pengalaman estetis-mistik original. Lewat pemberontakan dia menerobos ke dalam kekelaman misteri Allah. Allah itu tidak serba terang. Allah juga serba gelap, serba misteri, terselubung. Allah itu bak tembok hitam, dingin, beku, dan bisu. Jadi, jalan pemberontakan Ayub ini adalah upaya yang oleh pemikir religius modern disebut sebagai upaya menemukan iman induktif (lawan dari iman deduktif yang ditawarkan dalam jalan ketiga, jalan dogmatisme teori pembalasan). Seakan Ayub berkata kepada diri sendiri, “aku mau menerobos misteri ini, supaya aku punya pengalaman pribadi dan orizinal akan dia, dan dengan itu aku punya dasar kokoh untuk berbicara tentang misteri itu.” Jalan pemberontakan itulah yang ditempuh Ayub dalam seluruh Kitab. Pemberontakan Ayub itu panjang dan melelahkan. Ada banyak tantangan. Saya berani berkata Ayub sesungguhnya sudah menjadi martir dari proses lika-liku pemberontakan itu.
Jalan pemberontakan itu memuncak dalam tantangan terakhir Ayub yang sangat berani, yang nekat mempersoalkan keadilan dan kemampuan Allah mengatur kosmos dan anthropos. Jalan itu bermuara dalam teofani dahsyat (Ayb 38). Lewat pemberontakan, Ayub sampai ke teofani. Di sana dia mengalami Allah secara langsung; pengalaman yang sangat personal dan orizinal, amat mengesankan dan sekaligus serba baru; baik dibandingkan dengan pengalaman Allahnya sendiri di masa silam, maupun pengalaman Allah kolektif bangsa Israel, maupun jika dibandingkan dengan jalan ateisme sang isteri dan dogmatisme ketiga sahabat. Kesan pengalaman baru itulah yang menjelaskan mengapa Ayub dalam teofani berani membagi seluruh hidupnya dalam dua tahap: pra dan pasca teofani. tonggak teofani adalah titik puncak tahap pertama sekaligus titik awal tahap kedua. Kata Ayub: “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” (42:5).
Ayub berpindah dari sumber pengetahuan tangan kedua (kata orang), ke sumber pengetahuan tangan pertama (langsung; mataku sendiri).
Drama tragis pengalaman hidup Ayub menawarkan beberapa butir penting bagi hidup dan iman. Pertama, bahwa dalam kesulitan hidup dan iman orang tidak boleh dengan sangat mudah terjerumus dalam upaya mencari jalan serba-gampang. Ini amat mudah dilakukan; sebab toh jaman sudah menampilkan kultur dan mentalitas serba-instan. Kedua, dalam hidup dan iman pengalaman langsung dan personal amat penting. Pengalaman itulah yang menentukan mutu iman dan komitmen. Ini juga penting sebab iman adalah tanggapan personal. Dia tidak sekadar dogmatis belaka. Ketiga, jalan pemberontakan adalah juga jalan positif dan karena itu perlu diapresiasi. Pemberontakan adalah bukti transendensi manusia. Jadi, Ayub memberontak dan akhirnya bermuara pada iman. Iman seperti ini akan menjadi iman yang matang, dewasa, dan tenang, karena dicapai lewat jalan induktif, pencarian langsung dan personal. Sekali lagi: Ayub beriman dengan memberontak.
PRIORITAS HUBUNGAN KITA DENGAN ALLAH
1. ”HUBUNGAN” ALLAH - MANUSIA
Keluaran 33:12 : Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: "Memang Engkau berfirman kepadaku: Suruhlah bangsa ini berangkat, tetapi Engkau tidak memberitahukan kepadaku, siapa yang akan Kauutus bersama-sama dengan aku. Namun demikian Engkau berfirman: Aku mengenal namamu dan juga engkau mendapat kasih karunia di hadapan-Ku (penekanan ditambahkan) Penjelasan ayat: Musa mengatakan bahwa Allah pernah berfirman bahwa Ia “mengenal” Musa. Kata Ibrani yang dipergunakan disini ialah yªdª yang artinya mengenal dengan sangat baik (to know by experience). Dalam ayat ini terkandung beberapa makna dari hubungan Allah dengan manusia:
a. Allah menempatkan manusia sebagai ciptaan (essence, destiny), hamba, umat, anak (status), tetapi dalam saat yang sama manusia dianggap sebagai sejajar dalam komunikasi (I & Thou bukan I & I – walaupun sedang berkomunikasi dengan lawan bicaranya namun pikiran dan perasaannya tertutup mendengarkan apa yang sedang dikomunikasikannya; atau bukan pula I & It) – bnd. Konsep Martin Buber yang menjelaskan bahwa manusia menemukan makna hidupnya melalui komunikasi yang dialogis.
b. Kualitas hubungan yang Allah berikan dicontohkan Allah sendiri dengan mempergunakan sebuah pengenalan yang dalam (bnd. Yada). Hal itu bukan karena potensi Allah sendiri yang Mahatahu tetapi Ia sendiri sudi untuk mengenal manusia.
c. Pengenalan Allah bukan saja dalam tetapi juga bersifat pribadi sekalipun itu dalam sebuah rencana skala bangsa seperti Israel misalnya.
d. Allah menginginkan hubungan-Nya dengan manusia bersifat konsisten dan dinamis sehingga Ia melakukan beberapa cara:
1. Membuat perjanjian dengan manusia yang berkembang secara evolutif (berit) – “jangan ada ilah lain” (Kel 20:3).
2. Memanggil dan memilih orang-orang pilihan-Nya: bapa leluhur, nabi, imam, hakim, raja, untuk menjadi orang yang menjaga sekaligus mengingatkan perjanjian itu. Bahkan pada akhirnya Ia mengutus Anak-Nya sendiri agar manusia tetap memiliki relasi dengan-Nya.
3. Menghadirkan Kitab Suci sebagai media komunikasi dan sekaligus menjabarkan di dalamnya bagaimana Allah sendiri menjamin bahwa Ia setia mengikat perjanjian dengan manusia, dan bagaimana Kitab Suci juga mengajarkan kepada manusia bagaimana menjaga perjanjiannya dengan Allah.
4. Menyuruh manusia untuk membuat peribadahan kepada Allah yang diturunkan turun-temurun.
5. Memakai berbagai paradigma relasional untuk menjelaskan kekayaan komunikasi- Nya: Pencipta-Ciptaan, Tuan-Hamba, Allah-Umat, Raja-Warga, Bapa-Anak, Mempelai Laki-laki-Mempelai Wanita, Pokok Anggur-Carang, Gembala-Domba, dll.
6. Memberitahukan dengan jelas bahwa penghalang bagi hubungan-Nya dengan manusia dapat rusak terganggu bila manusia melakukan dosa (pelanggaran atau pemberontakan), bnd. Yes 59:1-2.
7. Mengutus Roh Kudus yang memungkinkan terjadinya komunikasi yang dialogis spiritual Allah-manusia dan sebaliknya (Roma 8:26-27).
MANUSIA-ALLAH
Allah Menghendaki Hubungan Timbal Balik. Dalam proses sebaliknya Allah menuntut manusia juga mengenal Dia (relasi mutualisma). Kata yang dipergunakan sama walaupun hakikat manusia berbeda dengan Allah. Mazmur 9:10 (9-11) Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN. Pemazmur meyakini bahwa manusia yang mengenal Allah memiliki iman kepada Allah. Dengan kata lain pengenalan yang makin mendalam akan menghasilkan iman yang makin mendalam pula.
Pengenalan Terhadap Allah Mendatangkan Kebaikan. Penolakan terhadap pengenalan hanya akan membawa pada sebuah malapetaka. Salah satu teologi yang dikembangkan dalam kitab Hosea adalah mengenal dengan benar Allah yang penuh dengan kasih setia. Hosea 4:6 ¶ “Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu.” Hosea 6:1-3 ¶ "Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN, sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita. 2 Ia akan menghidupkan kita sesudah dua hari, pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup di hadapan-Nya. 3 Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi."
PRIORITAS
Kata “prioritas” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti “yang didahulukan dan diutamakan dari pada yang lain”. Longman Dictionary: 1 the thing that you think is most important and that needs attention before anything else: 2 [uncountable] the right to be given attention first and before other people or things 3 to know what is most important and needs attention first.
Sebagai manusia tentunya kita akan menempatkan Allah dalam porsi segala-galanya, namun penerjemahannya tidak boleh ekstrim atau hurufiah yang berdampak pada kesulitan mengoperasionalkan apa yang kita yakini. PRIORITAS KEPADA ALLAH MUTLAK Allah sendiri yang mengajarkan kepada kita tentang prioritas itu: Keluaran 20:3 “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” Ayat ini secara jelas mencerminkan bagaimana Allah menuntut prioritas manusia hanya kepada-Nya dan tidak kepada siapapun di luar diri-Nya. Apapun yang menggeser posisi Allah adalah ilah. Kis 5:29 Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia. Galatia 1:10 Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.
PRIORITAS KEPADA ALLAH MENUNTUT KEBERANIAN, PENGORBANAN. Kasus Wanita Yang Mengurapi Kaki Yesus (Yoh 12:3); Maria dan Martha Luk 10:38-42. PRIORITAS KEPADA ALLAH BUKAN HANYA PADA NIAT TETAPI JUGA PADA PELAKSANAAN. Kasus Anak Yang Berkata Ya tetapi Tidak Melaksanakan (Mat 21:28-32) PRIORITAS KEPADA ALLAH MEMERLUKAN DISIPLIN. Markus 1:35; Yoh 2:4. PRIORITAS KEPADA ALLAH PERLU DITERJEMAHKAN SECARA BERIMBANG..
Prioritas kepada Allah tidak berarti menggeser prioritas kita yang lain: Kasus Memberi Persembahan Pada Allah tetapi masih berseteru – Mat 5:23-26. Kasus Hari Sabat – Matius 12:1-13. Kasus Membayar Pajak Kepada Kaisar – Matius 22:15-22. Kasus Orang Samaria Yang Baik Hati – Luk 10:25-37 Kasus Pelayanan Diakonia dalam Kisah Para Rasul – Kis 6:1-7. Ada 2 kesalahan:
1. Prioritas kepada Allah digeser sedemikian rupa sampai Ia tidak mendapat tempat sama sekali.
2. Prioritas kepada Allah menggeser habis prioritas manusia lainnya mengakibatkan Ia seperti tinggal dalam gua.
SALAH SATU PRIORITAS KEPADA ALLAH DITUNJUKKAN MELALUI ADANYA WAKTU PRIBADI BERSAMA DENGAN ALLAH.
Contoh konkrit dari sebuah hubungan pribadi dengan Allah adalah melalui apa yang dicontohkan oleh Yesus sendiri kepada manusia (bnd. Markus 1:35: “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana”). Orang yang memiliki waktu pribadi dengan Allah menunjukkan: 1. Orang tersebut mengistimewakan Allah. 2. Orang tersebut mengakui Allah dalam hidupnya. 3. Orang tersebut memiliki kebergantungan dengan Allah. 4. Orang tersebut memiliki sebuah relasi yang akrab dengan Allah.
Pertanyaan apakah prioritas kepada Allah hanya ditunjukkan melalui adanya waktu pribadi bersama Allah? Lalu bagaimana menunjukkan bahwa orang tersebut memprioritaskan Allah?
1. Mengedepankan nilai-nilai yang berasal dari Allah baik secara tersurat maupun tersirat dalam pertimbangannya.
2. Mengakui Dia dalam segala jalan hidup kita sehingga kita selalu meminta pertolongan-Nya (bnd. Yoh 15:5).
Senin, 11 Januari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar