Selasa, 12 Januari 2010

Iman Dan Kristus

KATA PENGANTAR

Terlebih dahulu kami ucapkan terima kasih kepada Tuhan YME,karena ikut campur tangannya dalam pekerjaan pembuatan makalah ini,tanpa bantuannya,kami bukanlah apa-apa.Kami bersyukur karena dapat menyelesaikan makalah kami.

Menemukan Iman kepada Tuhan Yesus Kristus
Hanya iman kepada Tuhan Yesus Kristus dan Kurban Tebusan-Nya saja yang dapat memberi kita kedamaian, pengharapan, serta pemahaman.
Hidup berlandaskan IMAN kepada TUHAN YESUS adalah Iman yang dibangun berdasarkan kebenaran firman Allah… itu sebabnya membaca Alkitab setiap hari ‘is a must’(keharusan) … supaya kita mengerti janji-janji Allah dan cara Allah bekerja serta kapan waktunya kita menikmati janji Allah tersebut. Karena saat persoalan , goncangan, masalah, penyakit datang menerpa kita tidak akan tahan bila Firman Allah tidak hidup dalam diri kita, sebab kita tidak kenal siapa Allah yang kita sembah di dalam nama Yesus. Firman itu tidak akan hidup bila kita tidak pernah membacanya. Menunggu adalah hal yang tidak menyenangkan, terlebih jika yang kita tunggu adalah seorang asing. Itulah sebabnya banyak orang Kristen hari-hari ini mengalami kemunduran secara rohani dan kecewa pada Tuhan karena mereka merasa sudah menungu janji Tuhan terlalu lama namun belum ada realisasinya, membuat mereka berpikir bahwa Tuhan pilih kasih. Mengapa ini bisa terjadi ? Karena mereka tidak mengenal Allah dengan benar. Kita dapat mengenal Allah dengan benar melalui firman Allah, baca firman setiap hari dan renungkan sehingga firman itu akan menjadi rhema dan hidup dalam diri kita , itulah yang menguatkan Iman percaya kita.Kita akan melihat cara Tuhan bekerja dengan cara yang unik. Bila kita mengenal dengan benar Allah yang kita sembah di dalam nama Tuhan Yesus adalah Allah besar, dahsyat, ajaib, perkasa, yang maha tahu dan yang merancangkan yang terbaik bagi kita ( baca Yeremia 29: 11) maka (pasti) semakin hari kita akan semakin mencintai DIA dan percaya bahwa bila DIA berjanji pasti akan digenapi tepat pada waktuNya.
Gereja Katolik diberikan kekuasaan oleh Kristus untuk mengampuni dosa
Gereja yang telah dimuliakan, yang terdiri dari orang-orang kudus, dapat membantu dengan doa-doa mereka, karena doa orang yang benar adalah besar kuasanya (Yak 5:16). Sedangkan Gereja yang sedang mengembara di dunia ini dapat membantu anggota Gereja yang masih mengembara di dunia dan anggota yang sedang dimurnikan, sehingga dapat bersatu dengan Gereja yang telah dimuliakan. Untuk tugas inilah, Kristus sendiri telah memberikan kuasa kepada Gereja.
sehingga Gereja dapat mengantar seluruh anggota Gereja pada persatuan abadi. Oleh karena itu, Gereja juga diberikan kuasa untuk mengatur seluruh kuasa yang diberikan oleh Kristus. Kekuasaan yuridiksi ini diberikan oleh Gereja untuk mengatur harta kekayaan rohani.
Kristus
Kristus berasal dari bahasa Yunani "Christos" (Χριστός) yang berarti "yang diurapi", artinya dituangi minyak di kepalanya. Pengurapan biasa dilakukan di kalangan bangsa Israel sebagai tanda bahwa orang yang diurapi itu mendapatkan jabatan atau kedudukan khusus. Misalnya, Saul dan Daud masing-masing diurapi menjadi raja Israel oleh Samuel (1 Samuel 10:1, 16:13).
Kristus adalah salah satu gelar yang diberikan kepada Yesus, karena orang Kristen perdana percaya bahwa Yesus adalah sang Juruselamat (Mesias) yang dijanjikan sejak masa Perjanjian Lama.
Menuju kedewasaan iman di dalam kristus
kita yang telah dibaptis ingin bertumbuh menjadi lebih dewasa di dalam Kristus. Allah sendiri menghendaki pertumbuhan iman ini, dan karena itu Ia mengaruniakan rahmat Sakramen Penguatan, yang dimaksudkan untuk melengkapi rahmat Pembaptisan.
Sebagaimana secara alamiah seseorang lahir, bertumbuh, oleh karena makanan jasmani, maka secara rohani, iapun dilahirkan kembali di dalam Pembaptisan; menjadi dewasa oleh Penguatan dan bertumbuh dan dikuatkan oleh Ekaristi, yang adalah makanan rohani. Oleh karena itu sakramen Pembaptisan, Penguatan dan Ekaristi menjadi Sakramen-sakramen Inisiasi Kristen yang kesatuannya harus dipertahankan.
Apa tandanya kedewasaan iman dalam Kristus?
Ada beberapa tanda kedewasaan iman dalam Kristus, yang dimungkinkan oleh karunia Roh Kudus. Pertama ialah jika kita dapat memusatkan perhatian kepada Kristus, dan bukan kepada diri sendiri. Secara praktis kita melihat contoh yang nyata pada anak-anak kecil yang sampai umur tertentu menginginkan dirinya terus menjadi pusat perhatian. Namun semakin besar, sifatnya (seharusnya) berubah, dan dapat memperhatikan orang lain. Dalam ibadah dan doa-doa kita, kita-pun dapat melihat gejala serupa. Jika kita belum dewasa dalam iman, doa-doa kita didominasi oleh doa permohonan yang berpusat pada kebutuhan kita, seperti, minta rejeki, kesehatan, dll. Namun jika kita terus bertumbuh, maka doa kita berkembang menjadi ucapan syukur dan pujian penyembahan kepada Tuhan. Kita mulai dapat mengasihi Sang Pemberi berkat dan bukannya mengasihi berkat-berkat-Nya. Bukan berarti bahwa kita tidak boleh memohon berkat pada Tuhan, tetapi seharusnya kita memusatkan perhatian kepada Tuhan terlebih dahulu, sebab yang lain akan diberikan kepada kita kemudian. Dengan ini kita memenuhi kehendak Tuhan yang berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat 6:33)
Tanda kedewasaan iman yang kedua adalah kesediaan kita untuk memberikan diri kita untuk pekerjaan-pekerjaan Allah di dunia. Dengan perkataan lain, kita mau melayani daripada dilayani. Bukankah hal ini juga sangat nyata dalam kehidupan seorang anak? Anak kecil minta dilayani, tetapi yang sudah besar dapat melayani anggota keluarga yang sedang membutuhkan bantuan. Jadi, dalam kegiatan di Gereja dan masyarakat misalnya, kita tidak menuntut orang lain untuk memperhatikan, melayani, dan menghormati kita; melainkan kita terdorong untuk membantu dan melayani orang lain. Karena itu, selayaknya kita tidak berkomentar, “Aku tidak senang ke gereja Katolik, karena di gereja aku tidak mendapat perhatian…” Walaupun tentu sebagai umat seharusnya kita saling memperhatikan satu sama lain, namun jangan sampai kita lupa bahwa tujuan utama kita beribadah di gereja adalah untuk bersyukur kepada Tuhan dan bersekutu dengan-Nya. Baru kemudian, langkah berikutnya adalah, apa yang dapat kulakukan agar dapat turut meningkatkan keakraban umat.
Melayani Tuhan juga berarti mau menjalankan tugas mewartakan Injil (lih. Mat 28:19-20). Hal ini dapat kita lakukan dengan perkataan, tetapi terlebih lagi dengan perbuatan. Sudah menjadi misi Kristus untuk menyelamatkan semua manusia, maka jika kita sungguh mengasihi Kristus kita akan turut mengambil bagian dalam misi-Nya tersebut, yang juga menjadi misi Gereja. Dengan perkataan lain, kita tidak hanya menjadi pengikut Kristus, tetapi menjadi murid Kristus.
Tanda ketiga adalah kita tidak mudah bertengkar dengan sesama, terutama dengan sesama umat. Rasul Paulus menunjukkan hal ini dengan begitu jelas dalam suratnya kepada jemaat di Filipi. Timotius diutus oleh Rasul Paulus untuk membacakan pesannya kepada jemaat di sana, yang berisi nasihat supaya bersatu dan merendahkan diri seperti Kristus (Fil 2:1-11), untuk menghindari segala bentuk perselisihan. Secara khusus ia menyebut nama dua orang wanita yang bertengkar, Euodia dan Sintikhe (Fil 4:2) dan menasihati supaya mereka berhenti berselisih dan menjadi sehati sepikir dalam Tuhan. Jika kita memiliki pengalaman berselisih dengan sesama umat di gereja, bayangkanlah jika nama kita yang disebutkan di sana!
Keempat, kita bertumbuh di dalam iman jika kita mau dengan hati lapang memikul salib yang Tuhan izinkan terjadi di dalam kehidupan kita, dengan harapan akan kebangkitan bersama Kristus. Hal ini bertentangan dengan keinginan dunia. Banyak orang cenderung menyukai ajaran teori ‘kemakmuran’ jika mengikuti Yesus, daripada harus berjuang memikul salib bersama Yesus, untuk dapat bangkit bersama Dia. Pendeknya, ingin mencapai kebangkitan tanpa salib. Namun, melalui Kitab Suci, kita dapat melihat dengan jelas, bahwa ajaran Tuhan bukanlah demikian. Yesus mengatakan, “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku” (Mat 16:24). Artinya, dengan rahmat Tuhan, kita harus berjuang untuk meninggalkan dosa dan segala keakuan kita, serta mengambil bagian dalam penderitaan Kristus untuk dapat mencapai kebahagiaan bersama-Nya (lih. Rom 6:5-11; 1 Pet 4:13). Bersama Kristus dan semua anggota Gereja-Nya, kita dipanggil untuk menjadi rekan sekerja Allah, (lih. 1 Kor 3:9) dengan mempersembahkan segala penderitaan kita untuk dipersatukan dengan kurban Kristus, agar mendatangkan keselamatan bagi orang-orang yang kita kasihi, dan untuk seluruh dunia.
Terakhir, tanda kedewasaan iman adalah jika kita mau mengikuti seluruh ajaran dan kehendak Tuhan dan tidak memilih-milih dan menyesuaikan dengan kehendak kita sendiri. Artinya, jangan sampai ajaran yang mudah kita terima, tetapi ajaran yang sukar dan membutuhkan pengorbanan, kita tolak, seperti ajaran mengampuni orang yang menyakitkan hati, mengasihi dan mendoakan orang yang membenci kita, larangan korupsi, dst. Jika kita bertindak demikian, kita belum sungguh dewasa dalam iman.

Kesimpulan

Kita patut bersyukur karena Sakramen Penguatan yang kita terima, karena dengan sakramen ini kita dikuatkan oleh Roh Kudus untuk bertumbuh dewasa di dalam iman. Pengurapan Roh Kudus ini seharusnya mengobarkan kasih kita kepada Yesus Kristus, yang menjadikan kita hidup sesuai martabat kita sebagai anak-anak Allah, berani menjadi saksi-Nya, dan mengambil peran dalam tugas-tugas perutusan Gereja. Marilah kita mohon pada Tuhan untuk menjadikan kita anggota-anggota Kristus yang hidup, yang mengandalkan Tuhan dalam pergumulan kita untuk mengalahkan keinginan berbuat dosa, untuk menerima dengan iman, salib yang Tuhan ijinkan terjadi dalam kehidupan kita, dan perjuangan untuk mencapai segala sesuatu yang sesuai dengan kehendak-Nya. Semoga doa ini selalu bergema di dalam hati kita, “Datanglah Roh Kudus, penuhilah hati umat-Mu. Nyalakanlah api cinta-Mu di dalam hati kami. Utuslah Roh-Mu, ya Tuhan, dan kami semua akan diperbaharui dan Engkau akan memperbaharui seluruh muka bumi.”
Iman Katolik dalam Agama dan Gereja Katolik
Misi dari Iman katolik sebagai media informasi lewat dunia maya, untuk pengenalan awal bagi mereka yang merasa terpanggil (bdk Yoh 15:16) untuk mengenal lebih dekat akan ajaran Yesus Kristus dalam Gereja Katolik, sebagai langkah awal mengenal kepenuhan keselamatan yang hanya terdapat dalam Gereja Katolik, serta sebagai sarana berkatekese bagi para awam dalam mewujudkan komunitas umat basis secara konkret dalam masyarakat. .

Serba serbi Iman Katolik

Harapan“, dalam kenyataannya, adalah sebuah kata kunci untuk memahami iman Biblis - begitu dekatnya sehingga dalam beberapa ayat kata “iman” dan “harapan” tampaknya tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu, Surat kepada Umat Ibrani mengaitkan “kepenuhan iman” (10:22) dengan “pengakuan akan harapan kita tanpa keragu-raguan” (10:23). Senada dengan itu, ketika Surat Pertama Petrus mendorong orang Kristen untuk selalu siap sedia memberi pertanggungjawaban mengenai logos - arti dan alasannya - dari harapan (bdk. 3:15), “harapan” sama dengan “iman“.

Bukan ilmu pengetahuan yang menebus manusia: manusia ditebus oleh cintakasih. Hal ini berlaku bahkan untuk zaman ini. Ketika seseorang memperoleh pengalaman akan cintakasih yang besar dalam hidupnya, inilah suatu masa “penebusan” yang memberi suatu arti baru bagi hidupnya.
Mari kita ulang sekali lagi: kita memerlukan harapan-harapan yang kecil dan yang lebih besar untuk memampukan kita maju hari demi hari. Namun, harapan-harapan ini tidaklah cukup tanpa harapan yang agung, yang mesti melampaui segala sesuatu yang lain. Harapan agung ini tidak bisa lain ialah Tuhan, yang meliputi segenap realitas dan yang dapat memenuhi apa yang tidak bisa kita peroleh dari diri kita sendiri.
IMAN DAN PERCAYA
Kata "iman" dan kata kerjanya "percaya" sering muncul dalam Al¬kitab, dan memang merupakan istilah penting yang meng¬gam¬bar¬kan hubungan antara umat atau seseorang dengan Allah. Di bawah ini akan ditin¬jau secara singkat makna istilah itu dalam Alkitab, khususnya dalam Perjanjian Baru. Kata "iman" yang dipakai dalam Perjanjian Baru me¬ru¬pakan terjemahan dari kata Yunani πίστις (pistis), sedangkan kata kerja¬nya "percaya" adalah terjemahan dari kata πιστεύω (pisteuoo). Kata-kata ini sudah dipakai dalam Septuaginta, Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama) dalam bahasa Yunani, sebagai terjemahan kata Ibrani ¤m' (aman), yang berarti keadaan yang benar dan dapat dipercayai/diandalkan. Kata ini dan kata-kata sekelompoknya dalam Alkitab Ibrani sering digunakan untuk me¬nyatakan rasa percaya kepada Allah dan percaya kepada firman-Nya. Per¬caya kepada Allah mencakup arti percaya bahwa Ia benar dan dapat diandalkan, mempercayakan diri kepada-Nya, dan taat serta setia kepa¬da-Nya. Percaya pada firman-Nya berarti percaya dan menerima apa yang sudah difirmankan-Nya itu.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa istilah iman dan percaya dalam Alkitab sering mengandung komponen-komponen makna sebagai berikut:
1. percaya dan menerima bahwa sesuatu itu benar,
2. mengandalkan/mempercayakan diri
3. setia, dan
4. taat.
Kata Yunani pistis sering mempunyai komponen-komponen makna seperti tersebut di atas, baik dalam Septuaginta maupun dalam Perjanjian Baru. Dalam konteks tertentu hanya satu atau dua komponen makna yang difokuskan, dan komponen lainnya tidak ditekankan, atau malahan tidak berlaku.
Dalam Perjanjian Baru, "iman" terutama ditujukan kepada Yesus, yaitu percaya kepada-Nya dan perkataan-Nya, bahwa Dia adalah Tuhan dan Juruselamat, dan mempercayakan diri kepada-Nya, serta juga percaya dan menerima kebenaran Injil. Berikut ini kita akan memeriksa arti pistis dan pisteuoo dalam terjemahan Perjanjian Baru bahasa Indonesia versi Terjemahan Baru (TB):
Matius 9:22 "Imanmu telah menyelamatkan engkau!"
I man di sini berarti percaya kepada perkataan Yesus dan mem-percayakan diri kepada-Nya. Bandingkan terjemahan dalam Alki¬tab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS): "Karena engkau percaya kepada-Ku, engkau sembuh!"
Markus 1:15 "Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!"
Kata percaya di sini menekankan komponen makna pertama, yak¬ni bahwa Injil itu benar dan dapat dipercaya, sehingga dapat juga diterjemahkan, "Percayalah dan terimalah Injil!"
Galatia 2:16 “Kami pun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan karena iman dalam Kristus.”
Dalam ayat ini "percaya" dan "iman", kedua-duanya memiliki se¬lu¬ruh komponen maknanya. "Iman dalam Kristus" berarti percaya bahwa Injil tentang Yesus itu benar, dan mempercayakan diri kepada Yesus dengan komitmen akan setia dan taat kepada-Nya.
Roma 10:9 “Sebab jika engkau mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dengan hatimu bahwa Allah telah membangkitkan Dia…”
"Percaya" di sini adalah percaya akan berita tentang kebangkitan-Nya, dan menerimanya dengan segala konsekuensinya. Kata paralel "meng¬aku menunjukkan bahwa percaya itu bermuara dalam per¬bu¬atan pengakuan. Ungkapan "percaya dalam hati" menandakan bah¬wa percaya itu harus kuat dan teguh.
Yohanes 2:24 “Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka.”
TB menekankan komponen makna yang kedua dalam konteks ini, yakni komponen "mempercayakan diri." Begitu juga BIS menerje¬mah¬kannya: "Tetapi Yesus sendiri tidak percaya mereka."


Selain arti yang pokok seperti diuraikan dengan beberapa contoh di atas, "iman" dalam PB menurut konteksnya kadang-kadang mempu¬nyai arti yang berbeda, yaitu:
1. kemampuan atau sifat baik orang Kristen, atau
2. agama Kristen, atau juga
3. ajaran atau doktrin Kristen
Kristus Penyempurna Iman
Mat 4:18-22,Ibr 12:1-2

Injil Markus mencatat pengajaran Tuhan Yesus tentang ukuran yang akan diukurkan dan ada sesuatu yang ditambahkan lagi padanya. Apakah maksud dari perkataan Kristus? Untuk memahami perkataan Kristus tersebut maka kita harus memperhatikan konteks Injil Markus mulai dari pasalnya yang ke 4 hingga pasalnya yang ke 5 ayat 43 karena bagian ini merupakan satu kesatuan yang utuh. Perumpamaan penabur menjadi titik tolak kenapa Tuhan Yesus berbicara tentang ukuran yang diukurkan dan kemudian akan ditambahkan, yang mempunyai akan ditambahkan dan yang tidak mempunyai apa pun juga yang ada padanya akan diambil.
Iman di dalam Kristus
Telah belajar mengenai iman berasal dari Allah Bapa. Kini kita melihat aspek kedua, yaitu iman berasal dari Yesus Kristus. Yesus Kristus yang menciptakan iman dan Yesus Kristus yang menyempurnakan iman di dalam sepanjang hidup kita mengikuti Dia. Di dalam Ibrani 12:1-2 dituliskan bagaimana kita memandang kepada Yesus sebagai sumber iman, Yesus yang mengadakan dan menggenapkan iman, dan Dia kemudian menjadi teladan bagi kita. Dia sendiri mengabaikan penghinaan, tekun memikul salib, dan akhirnya menggantinya dengan sukacita yang disediakan bagi Dia, serta sekarang duduk di sebelah kanan Allah. Saya ingin memberikan dua butir berkenaan dengan tema ini.
1. Memandang pada Yesus
Memandang Tuhan Yesus karena Dia adalah yang mengadakan dan yang menggenapkan iman. Di dalam terjemahan lain dituliskan: “He starts, He creates faith and He accomplishes and He guides us until the end.” Dia yang menciptakan iman, dan Dia yang memimpin kita serta menggenapi iman itu dalam diri kita. Ia yang memulai dan Ia juga yang mengakhiri. Dia yang mengadakan dan menyempurnakan, Dia yang menciptakan dan yang menggenapi. Iman berasal dari mana? Ayat yang kita baca menyatakan bahwa iman berasal dari Kristus. Ada orang belum percaya yang diberitahu bahwa jika ia percaya akan sembuh, maka ia pasti sembuh. Lalu ia mengatakan, “Ya, saya percaya.” Ia berharap segera sembuh. Percaya ini berasal dari mana? Kalau percaya ini sekedar dari dirinya sendiri, dan ia sendiri yang mau percaya, maka itu pasti bukan iman Kristen. Iman yang pertama-tama harus berasal dari Bapa, dan kemudian kita melihat bahwa iman itu harus dimulai dan diakhiri di dalam Kristus. Yang mengadakan iman dan yang menyempurnakan iman adalah Kristus sendiri.
2. Yang menyempurnakan iman
Kristus bukan hanya memulai iman, tetapi Ia juga yang menggenapkan dan menyempurnakan iman. Bukan hanya memandang kepada Kristus sebagai sumber dan awal iman, tetapi juga di dalam Dia kita mengakhiri dan menggenapkan iman kita. Maka tidaklah salah jika para murid Kristus meminta kepada Kristus untuk menambahkan iman kepada mereka, karena mereka kurang iman. Iman bukan disempurnakan oleh diri kita sendiri, apalagi melalui semua yang kita kerjakan menjadi jasa iman. Memohon kepada Kristus untuk ditambahkan iman, atau sesuai dengan tema kita, yaitu agar iman kita boleh disempurnakan, adalah doa yang benar. Tidak ada seorang pun yang sempurna imannya. Di dalam hidup, terkadang saya merasa begitu sulit bekerja dengan orang yang tidak beriman. Semua terlihat begitu negatif, semua menjadi tidak mungkin, semua sulit dikerjakan, semua seolah-olah sia-sia. Saya telah menjadi yatim sejak usia tiga tahun dan hingga saat ini saya sangat jarang mengatakan sesuatu itu sulit, sesuatu tidak bisa dikerjakan, atau tidak mungkin. Saya selalu mencoba belajar bersandar pada Tuhan dan mohon Tuhan memberikan kekuatan dan pencerahan untuk menolong saya melakukan itu. Bukan berarti saya mengabaikan kesulitan yang ada. Saya sangat menyadari banyak hal sangat sulit. Namun, kita harus belajar bisa mengalahkan kesulitan dengan kekuatan yang Tuhan berikan kepada kita. Ini yang disebut iman. Jika kita adalah orang Kristen, maka kita harus belajar beriman dengan benar. Sayang kalau kita mengaku sebagai orang Kristen tetapi setiap hari hidupnya tidak beriman, lalu menertawakan orang yang beriman.
Iman bukan nekat, tetapi iman juga bukan pengecut. Di dalam banyaknya kesulitan kita bisa belajar menerobos keluar. Menyelesaikan dan melewati setiap kesulitan, betapapun besarnya, adalah iman. Kita sering kali menyanyikan bahwa iman memberikan kemenangan, tetapi kehidupan kita sendiri penuh dengan kekalahan. Benarkah kita percaya pada Kristus? Benarkah iman kita di dalam Kristus adalah iman yang menyempurnakan? Iman yang memberikan kemenangan? Jika kita percaya bahwa iman kita memberikan kemenangan, kita bisa menerobos kesulitan-kesulitan yang kita hadapi. Itu berarti kita percaya kepada Allah yang betul-betul memberikan kekuatan kepada kita.
Kristus penyempurna iman
Injil Markus mencatat pengajaran Tuhan Yesus tentang ukuran yang akan diukurkan dan ada sesuatu yang ditambahkan lagi padanya. Apakah maksud dari perkataan Kristus? Untuk memahami perkataan Kristus tersebut maka kita harus memperhatikan konteks Injil Markus mulai dari pasalnya yang ke 4 hingga pasalnya yang ke 5 ayat 43 karena bagian ini merupakan satu kesatuan yang utuh. Perumpamaan penabur menjadi titik tolak kenapa Tuhan Yesus berbicara tentang ukuran yang diukurkan dan kemudian akan ditambahkan, yang mempunyai akan ditambahkan dan yang tidak mempunyai apa pun juga yang ada padanya akan diambil. Pada saat Tuhan Yesus sendirian, barulah para murid menanyakan tentang apa arti dari perumpamaan penabur tersebut dan jawab-Nya: “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun (Mrk. 4:11-12).
Dari jawaban tersebut sebenarnya Tuhan Yesus hendak berbicara tentang kehadiran Kerajaan Allah di tengah dunia dan hanya kepada orang-orang pilihan-Nya sajalah rahasia tentang Kerajaan Allah ini diberikan dan dapat dimengerti namun pada suatu waktu kelak semua rahasia akan disingkapkan. Perumpamaan penabur merupakan langkah awal Kristus mengubah metode pengajaran-Nya, Tuhan Yesus mulai membuat sebuah pemisahan dalam pengajaran-Nya tentang siapa saja yang berhak/tidak berhak untuk mengerti tentang hal Kerajaan Surga. Dalam tulisannya, Markus menekankan: pertama, seorang Kristus yang tunduk pada Firman, kedua, Kristus merupakan penggenapan dari Kerajaan Allah, Kristus merupakan puncak dari pernyataan Kuasa Allah. Itulah sebabnya dalam injil Markus kita akan menjumpai konfrontasi antara Kristus dengan kuasa kegelapan dan kuasa Allah mendominasi segala kuasa yang ada di dunia, seperti kuasa kematian, kuasa sakit penyakit, kuasa kegelapan, dan lain sebagainya.
Kerajaan Allah seumpama benih yang tumbuh dimana tidak ada satu orang pun yang tahu kapan benih itu mengeluarkan tunas dan bertumbuh (Mrk. 4:26-28). Benih yang kecil itu semakin lama semakin bertumbuh dan menjadi besar sehingga burung-burung dapat bersarang dalam naungannya. Namun banyak orang tidak menyadari bahwa kuasa Allah yang sedang bekerja karena itu Yesus memberitakan hal ini secara eksklusif hanya kepada para murid-Nya dalam bentuk perumpamaan dan hanya kepada mereka saja, Yesus mengungkapkan arti perumpamaan tersebut. Markus hendak mengungkapkan realita Kerajaan Allah lewat sosok Tuhan Yesus. Ketika Ia berinteraksi dengan banyak orang maka mau tidak mau orang dituntut untuk berpikir dua kali tentang kuasa Allah melalui diri Yesus. Itulah sebabnya, Markus merasa perlu untuk memperjelas tentang arti perumpamaan tersebut dengan menambahkan empat peristiwa lain dimana dalam setiap peristiwa yang terjadi berbicara tentang kuasa Allah dan hal ini dinyatakan dalam diri Yesus dan bagaimana kaitannya dengan orang-orang seperti yang diungkapkan dalam perumpamaan penabur.
1. Yesus meredakan angin ribut.
Melalui peristiwa ini Markus hendak menjelaskan akan arti dari benih yang jatuh di tanah yang jatuh di pinggir jalan. Pada hari itu, yaitu setelah Yesus mengajarkan tentang perumpamaan maka bertolaklah Ia bersama para murid dalam sebuah perahu menuju ke seberang. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu. Seharusnya angin dan badai bukan menjadi hal yang baru bagi para murid Yesus yang sebagian besar adalah seorang nelayan. Namun kalau mereka menjadi takut ketika badai dan ombak menerjang maka dapatlah dipastikan peristiwa ini baru pertama kali mereka alami. Para murid tahu bahwa Yesus dapat melakukan sesuatu yang dapat menyelamatkan mereka maka tidaklah heran kalau mereka menuntut supaya Yesus melakukan sesuatu. Mereka membangunkan Yesus dan berkata, “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?“ Ini adalah ukuran yang para murid pakai untuk melihat Yesus Kristus. Lalu, Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!“ Yesus hanya memerintahkan satu kali saja dan perintah ini adalah perintah yang sempurna. Angin itu reda dan danau menjadi teduh namun reaksi yang ditunjukan murid di luar dugaan, mereka menjadi takut. Lalu kata Yesus, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?“ Ini adalah ukuran baru yang ditambahkan Yesus kepada para murid. Perkataan Yesus yang tajam ini menohok langsung dalam hati para murid; Tuhan Yesus membongkar pikiran para murid yang selama ini melihat diri Yesus yang terbatas, Yesus yang tidak peduli akan keselamatan diri mereka. Ketakutan menyebabkan mereka tidak lagi mempercayai Kristus, ketidakpercayaan membangkitkan rasa ketakutan. Respon lain ditunjukkan oleh para murid, yaitu “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?“ Yang menjadi pertanyaan adalah apakah para murid tidak tahu sebelumnya siapa Yesus? Bukankah Yesus telah melakukan banyak mujizat dan hal ini telah dilihat dan dialami sendiri oleh para murid? Maka tidaklah heran kalau Markus memakai kisah ini untuk menggambarkan peristiwa ini sebagai benih yang jatuh di pinggir jalan lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Kristus tetap membuka suatu pintu yang baru bagi mereka, sesuatu yang baru ditambahkan kepadamu. Kristus membuka batasan yang ada dalam diri mereka sehingga mereka dapat melihat Yesus sebagai pernyataan kuasa Allah.
2. Yesus mengusir roh jahat dari orang Gerasa.
Peristiwa ini terjadi ketika Tuhan Yesus sudah sampai di seberang. Markus hendak menjelaskan tentang model tanah yang kedua, yaitu tanah yang berbatu-batu. Yesus khusus mencari satu orang di Gerasa dan orang tersebut dirasuk oleh Legion. Menurut ukuran pasukan Romawi, satu legion berjumlah 6000 orang. Yesus mengusir setan yang merasuk dirinya dan Yesus mengabulkan permintaan setan tersebut untuk memindahkannya pada kawanan babi yang ada di situ. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya. Reaksi yang ditunjukkan oleh penduduk setempat sungguh di luar dugaan, mereka menjadi takut (Mrk. 5:15). Lalu mereka mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka. Pernyataan kuasa Allah atas kuasa kegelapan merupakan perbuatan yang ajaib namun orang justru tidak senang dengan perbuatan Yesus karena kehadiran Kristus dianggap sebagai ancaman dan mereka merasa dirugikan. Orang tidak suka ketika melihat realita Kerajaan Allah karena ada tuntutan-tuntutan yang Kristus sampaikan dan hal itu harus ditaati. Mereka kemudian bersepakat mengusir Yesus. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya (Mrk. 4:25).
Sangatlah disayangkan, kalau sebagian besar orang-orang Gerasa, kecuali satu orang yang disembuhkan tersebut, tidak bisa melihat Kerajaan Allah dan keajaiban perbuatan Allah yang besar. Banyak orang tidak percaya bahwa Yesus adalah Allah karena pikiran mereka telah dibutakan, orang mengenal Yesus hanya sebatas Ia sebagai seorang anak tukang kayu (Mrk. 6:3). Oleh karena itu, Yesus tidak membuat mujizat di kota asalnya. Yesus tidak merasa dirugikan dengan penolakan dirinya. Mereka tidak menyadari kalau justru merekalah yang dirugikan karena menolak Kristus. Yesus tidak memperkenankan orang yang tadinya kerasukan setan itu ketika ia meminta untuk mengikut Dia sebaliknya Yesus mengutusnya untuk memberitakan segala sesuatu yang diperbuat Yesus kepada penduduk sekitar. Dengan kata lain, Yesus sepertinya ingin memberitahukan kebodohan yang sudah mereka lakukan karena menolak Kerajaan Allah dan menganggapnya sebagi ancaman. Berbeda dengan orang yang disembuhkan, ia mengalami pernyataan Kerajaan Allah dalam diri Kristus, ia dapat melihat bahwa kuasa Allah lebih besar dari kuasa kegelapan. Orang-orang di Gerasa seperti benih yang jatuh di tanah yang berbatu, ia tumbuh lalu mati karena akarnya tidak kuat.
3. Yesus membangkitkan anak Yairus.
Yairus adalah pengurus rumah ibadat. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki Yesus dan memohon supaya anak perempuannya yang sedang sakit dan hampir mati itu diselamatkan. Ini adalah ukuran yang dimiliki oleh Yairus untuk mengerti siapakah Yesus. Yairus pasti sudah mencoba segala daya dan upaya untuk menyembuhkan anak perempuannya namun semua itu tidak berhasil. Dalam keadaan yang putus asa, Yairus tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan sampai kemudian ia teringat dan mendengar tentang berbagai mujizat yang Yesus lakukan. Yairus perlu Yesus untuk memenuhi kebutuhannya, yaitu untuk menyembuhkan anak perempuannya yang sakit. Markus menggambarkan peristiwa Yairus ini seperti benih yang tumbuh di tanah bersemak, kekuatiran dunia menghimpitnya sedemikian rupa sehingga benih itu menjadi mati. Di tengah kegalauan hati Yairus, tanpa disangka muncul seorang perempuan yang sakit pendarahan dan hal ini semakin menambah kekuatiran hati Yairus karena dengan demikian perjalanan Yesus ke rumahnya menjadi terhambat. Apa yang menjadi kekuatiran Yairus, kini menjadi kenyataan. Salah seorang keluarganya datang dan mengabari bahwa anaknya sudah mati. Namun Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan Ia berkata kepada Yairus, “Jangan takut, percaya saja!“
Ucapan ini adalah ucapan yang sama yang diucapkan Yesus pada para murid ketika badai dan angin datang menerpa tetapi bedanya pada para murid, Yesus mengucapkannya dalam bentuk pertanyaan, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?“ Ukuran yang Yairus pakai pada Yesus adalah Yesus sanggup menyembuhkan orang sakit tetapi bagaimana dengan membangkitkan orang mati? Logika Yairus seakan berhenti karena ia tidak pernah tahu bahwa Yesus sanggup melakukan segala sesuatu lebih dari yang manusia pikirkan. Anugerah Tuhan turun atas keluarga Yairus, dengan mata kepala sendiri mereka menyaksikan bagaimana Kristus membuat mujizat dengan membangkitkan anaknya yang sudah mati. Tuhan menambahkan pengertian yang baru lagi tentang siapakah Kristus dengan membukakan pikiran kepada Yairus, yaitu Yesus adalah pernyataan Kerajaan Allah dan kuasa Allah lebih besar dari kuasa kematian.


4. Yesus menyembuhkan seorang perempuan yang sakit pendarahan.
Melalui peristiwa ini, Markus hendak menjelaskan tentang tanah yang subur. Menurut tradisi Yahudi pada jaman itu, jika salah seorang dari keluarga mereka ada yang sakit pendarahan maka ia harus dikucilkan dari keluarga begitu pula dalam kehidupan beragama. Alkitab mencatat, demi untuk memperoleh kesembuhan, ia telah menghabiskan semua hartanya; ia telah berulangkali mengobati penyakitnya namun sakitnya tak juga kunjung sembuh malah keadaannya makin memburuk. Perempuan ini mendengar segala sesuatu tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu, ia memberanikan diri untuk mendekati Yesus dan menjamah jubah-Nya. Pada jaman itu merupakan hal yang terlarang bagi seorang perempuan untuk mendekati seorang tokoh agama. Namun dengan segala daya dan upaya perempuan ini mencoba mendekati Yesus, ia tahu dan ia telah siap dengan segala resikonya kalau kedapatan dirinya seorang perempuan.
Ukuran yang ia punya adalah asal kujamah saja jubah-Nya maka aku akan sembuh dan saat itu juga mujizat terjadi. Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling dan bertanya: “Siapa yang menjamah jubah-Ku?“ maka dengan takut dan gemetar, tersungkurlah ia di depan Yesus dan memberitahukan segala sesuatunya pada Yesus. Yesus menambahkan sesuatu yang baru padanya, jawaban Yesus sungguh di luar dugaan: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!“ Iman perempuan ini timbul karena ia pernah mendengar segala sesuatu tentang Yesus dan asal kujamah jubah-Nya, aku akan sembuh. Kristus menghargai iman perempuan ini. Benih itu jatuh di tanah yang baik sehingga ia bertumbuh.
Semua peristiwa ini berada dalam konteks, orang-orang yang diberikan kemampuan untuk melihat rahasia Kerajaan Allah. Hanya kepada mereka yang telah dipilih-Nya, Kristus menyempurnakan iman. Kristus adalah pemimpin iman yang membawa iman pada kesempurnaan. Semua peristiwa yang terjadi dalam diri empat orang ini adalah atas seijin Kristus demi untuk kebaikan kita, yaitu menumbuhkan iman dan menuju pada kesempurnaan. Pengetahuan kita tentang Kristus tidaklah cukup bagi kita mengenal siapakah Yesus. Kita harus mengalami perjalanan iman bersama Kristus barulah kita akan merasakan keindahan berjalan dalam iman bersama Kristus. Kita akan dapat merasakan kebesaran Kristus, mujizat-Nya yang ajaib, penyertaan-Nya sehingga tiap-tiap hari Ia tambahkan hal yang baru lagi dengan demikian iman kita semakin bertumbuh dan berbuah layaknya sebuah benih yang jatuh di tanah yang subur.
Iman dalam Yesus Kristus
Christ Menyembuhkan Buta, oleh Carl Heinrich Bloch (1834-1890; minyak pada pelat tembaga, 20 "x 30"). Yesus menyembuhkan orang buta sejak lahir (Yohanes 9). Kesembuhan dan mujizat lain adalah salah satu manifestasi dari iman dalam Tuhan Yesus Kristus.Kesopanan yang Frederiksborg Museum, Hillerod, denmark.
oleh Douglas E. Brinley oleh Douglas E. Brinley
Iman dalam Yesus Kristus adalah prinsip pertama dari Injil Yesus Kristus (A dari F 4). Orang yang memiliki iman ini percaya dirinya sebagai Anak Allah yang hidup, percaya kepada kebaikan-Nya dan kekuasaan, bertobat dari dosa-dosanya, dan mengikuti petunjuknya. Iman dalam Tuhan Yesus Kristus sebagai individu terbangun mendengar Injil (Rm. 10: 17). Dengan iman mereka memasuki pintu gerbang pertobatan dan pembaptisan, dan menerima karunia Roh Kudus, yang mengarah kepada cara hidup yang ditahbiskan oleh Kristus (2 Nefi. 31:9, 17-18). Mereka yang menanggapi adalah "hidup dalam Kristus karena [mereka] iman" (2 Nefi. 25:25). Karena jalan Allah adalah satu-satunya cara yang mengarah pada keselamatan, "tidaklah mungkin untuk menyenangkan hatinya" tanpa iman (Ibrani 11:6). Iman harus mendahului mukjizat, tanda-tanda, karunia Roh, dan kebenaran, karena "jika tidak ada iman ... Allah tidak dapat berbuat keajaiban" (Eter 12:12).
The Book of Mormon prophet Moroni summarized these points: The Book of Mormon nabi Moroni diringkas poin ini:

Tuhan Allah prepareth cara bahwa sisa-sisa manusia dapat memiliki iman di dalam Kristus, bahwa Roh Kudus mungkin tempat di hati mereka, sesuai dengan kekuasaan itu, dan setelah ini bringeth cara untuk lulus Bapa, perjanjian-perjanjian yang telah dibuat kepada anak-anak manusia. Dan Kristus telah berkata: Jika kamu akan memiliki iman di dalam Aku kamu akan memiliki kekuasaan untuk melakukan apa pun adalah bijaksana dalam diriku.Dan dia telah berkata: Bertobatlah semua kamu ujung bumi, dan datang kepada-Ku, dan dibaptis dalam nama-Ku, dan memiliki iman di dalam Aku, supaya kamu dapat diselamatkan [Moro. 7:32-34]. 7:32-34].
Meskipun dalam pidato umum orang berbicara tentang memiliki iman pada orang, prinsip, atau hal-hal, iman dalam arti kekal adalah iman di dalam, dan hanya di dalam, Yesus Kristus.Tidak cukup untuk memiliki iman hanya apa-apa; itu harus difokuskan pada "satu-satunya Allah yang benar, dan Yesus Kristus" yang dia telah mengutus (Yohanes 17:3).Memiliki iman berarti memiliki keyakinan penuh dalam Yesus Kristus saja untuk menyelamatkan manusia dari dosa dan kepastian kematian.Dengan rahmat-Nya "kamu diselamatkan oleh iman" (Ef. 2:8). Jika "Kristus tidak dibangkitkan," maka "imanmu juga sia-sia" dan "kamu masih hidup dalam dosamu" (1 Kor. 15:14, 17).Untuk kepercayaan pada kekuasaan dunia ini adalah untuk "kepercayaan pada lengan daging" dan, sebagai akibatnya, menolak Kristus dan Injil-Nya (2 Nefi. 4:34).
Paulus menjelaskan, "Sekarang iman adalah zat [atau jaminan] dari hal-hal yang kita harapkan dan bukti [demonstrasi atau bukti] dari hal-hal yang tidak kita lihat" (Ibrani 11:1). Kebenaran yang tak terlihat dari Injil yang dinyatakan oleh Roh Kudus dan dilihat dalam kehidupan orang-orang yang hidup oleh iman, mengikuti arah harian Roh itu. Meskipun sebagian besar manusia belum melihat realitas spiritual di luar dunia fisik ini, mereka dapat menerima bangunan tersebut dalam iman, berdasarkan kesaksian spiritual pribadi (es) dan catatan alkitabiah bekas dan hari kedua saksi yang khusus Allah telah memanggil dan yang mengalami realitas ini secara langsung.
Iman yang benar adalah kepercayaan ditambah tindakan. Iman berarti tidak hanya persetujuan mental atau kognisi keyakinan tetapi juga pelaksanaannya. Beliefs in things both spiritual and secular impel people to act. Kepercayaan pada hal-hal baik spiritual dan sekuler mendorong orang untuk bertindak. Kegagalan untuk bertindak pada ajaran-ajaran dan perintah-perintah Kristus mengimplikasikan ketiadaan iman dalam dirinya. Iman dalam Yesus Kristus mendorong orang untuk bertindak atas nama Kristus, untuk mengikuti contoh, untuk melakukan karya-karyanya. Yesus berkata, "Bukan setiap orang yang berseru kepadaku: Tuhan, Tuhan, akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga" (Matius 7:21; cetak miring ditambahkan.James lebih menekankan bahwa "iman, jika Allah tidak bekerja, sudah mati, hidup sendirian. Ya, seorang pria mungkin berkata, Engkau iman, dan aku telah bekerja: menaruhkan aku Mu iman tanpa segala pekerjaanmu, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku oleh saya bekerja "(Yakobus 2:17-18; lihat juga Grace).
Kebenaran mengarah pada iman yang lebih besar, sementara dosa dan kejahatan mengurangi iman. "Orang benar [pria] akan hidup oleh iman" (Habakuk 2:4). Melanggar perintah-perintah Allah membawa kehilangan Roh Tuhan dan kehilangan iman, karena iman dalam Yesus Kristus tidak kompatibel dengan ketidaktaatan. Kitab Mormon nabi Alma dicirikan firman Kristus sebagai benih yang diuji ketika orang-orang menanamnya dalam hati mereka dan memberi makan itu.Jika mereka ingin melihat benih tumbuh, mereka harus memberikan ruang dan memelihara dengan iman mereka. Namun, jika mereka mengabaikan benih, itu akan lenyap.Tapi kalau mereka akan "memberi makan kata ... oleh [mereka] iman dengan penuh ketekunan," ia akan tumbuh menjadi pohon kehidupan, dan mereka akan rasa buah, yang adalah kehidupan kekal (Alma 32:26-43).
Iman dapat dipelihara dan diperbaharui melalui pembelajaran tulisan suci, doa, dan bekerja sesuai dengan perintah-perintah Injil. Karena orang-orang yang bertindak berdasarkan iman, bertobat, dan dibaptis menerima pengampunan dosa, mereka memiliki alasan untuk harapan untuk kehidupan kekal (Moro. 7:41.Dengan harapan, iman mereka di dalam Yesus Kristus lebih lanjut mengilhami individu-individu untuk melayani satu sama lain dalam amal, bahkan ketika Kristus akan dilakukan (Moro. 7:44), karena "akhir perintah adalah amal dari iman ... unfeigned" ( 1 Tim. 1:5). "Charity adalah murni kasih Kristus, dan itu bertahan selama-lamanya" (Moro. 7:47). Dengan demikian, iman, atau "ketabahan dalam Kristus," memungkinkan orang untuk bertahan sampai akhir, terus dalam iman dan kasih (2 Nefi. 31:20; 1 Timotius. 2:15; A & P 20:29. Iman yang benar adalah bertahan dan mengarah pada suatu jaminan bahwa usaha seseorang tidak pergi tanpa diketahui dan bahwa Allah senang dengan salah satu sikap dan usaha untuk menerapkan prinsip-prinsip Injil Yesus Kristus dalam kehidupan pribadi seseorang.
Sementara Alma menjelaskan bagaimana iman mengarah kepada pengetahuan, komentar LDS modern juga menunjukkan bagaimana beberapa jenis pengetahuan menguatkan iman (MD, hal. 261-67). Pengetahuan bahwa Allah ada, pemahaman yang benar dari karakternya, dan kepastian bahwa ia menyetujui perilaku seseorang dapat membantu seseorang iman "menjadi sempurna dan berbuah, berlimpah dalam kebenaran" ( "Lectures on Faith," hlm. 65-66; lihat Lectures on Faith).
Para pemulihan Injil di zaman modern ini diprakarsai oleh suatu tindakan iman oleh Joseph Smith muda. Membaca Alkitab, ia terpukau oleh dorongan dari James untuk semua yang kurang hikmat bahwa mereka harus "bertanya dalam iman, tidak bimbang" (Yakobus 1:6).Penglihatan yang datang kepada Joseph Smith untuk menjawab doa-doanya (lihat Visi Joseph Smith) adalah bukti bahwa doa adalah "jawab menurut [kita] iman" (Mosia 27:14) Meskipun Tuhan berkenan untuk memberkati anak-anaknya, dia "pertama, [mencoba] iman mereka, ... maka akan hal-hal yang lebih besar akan dinyatakan" (3 Nefi. 26:9). Tetapi akan ada "tidak ada saksi sampai setelah sidang imanmu" (Eter 12:6), dan "tanpa iman Anda bisa berbuat apa-apa" (A & P 8:10)."Tanda-tanda datang oleh iman, bukan oleh kehendak manusia" (A & P 63:10). Karena iman melibatkan bimbingan Roh Kudus untuk individu, hal itu membawa mereka dengan tangan tak terlihat untuk "kesatuan dari iman" (Ef. 4:13). Demikian pula, iman telah digambarkan sebagai bagian dari salah satu baju besi, melayani sebagai "dada iman dan kasih" (1 Tesalonika. 5:8) dalam melindungi umat dari yang jahat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar